Skip to main content

Catatan Perjalanan Berdua

Fayyadh masih saja menangis sejak lima menit yang lalu. Jangankan menunjukkan tanda-tanda berhenti, justru yang ada tangisnya makin keras. Lengkap dengan air mata. Pertanda ia memang tak nyaman. Saya yang semula anteng juga mulai resah.

"Mungkin gerah?" Kata Bibi.

Benar, sudah lumayan siang dan dia belum mandi pagi. Segera saya buka baju dan celana panjang yang ia pakai. Secercah harapan timbul, sejelek apapun mood Fayyadh kalau sudah mandi dan lihat keran air biasanya membaik.

Namun, harapan tinggal harapan. Dia malah makin mengamuk ketika saya bawa ke kamar mandi. Mandi yang biasanya bisa setengah jam karena main air berubah jadi secepat kilat. Tangisnya masih belum berhenti juga. Makin sulit buat saya memasangkan baju. Allah, hawa panas Denpasar dan rasa panik sempurna sudah menghasilkan bulir-bulir keringat yang besar.

Tak hirau dengan kepanikan saya, enam orang tukang bangunan di rumah bibi melanjutkan pekerjaan mereka. Mengecor, menghaluskan kayu, memaku, memukul-mukul. Suara mesin ini itu kadang juga berpadu dengan teriakan. Tak peduli protes Fayyadh, saya sedikit memaksa agar bajunya cepat terpakai. Kami harus segera keluar dari sana.

Comments