Skip to main content

Senyum Awal Bulan

Ada nggak sih yang bingung kok baru tanggal 1 gaji udah berkurang banyak? Gimana nanti tanggal 2 keatas?

Well, hari ini saya begitu. Pagi ini Abahnya Fayyadh menjadi panitia field trip anak-anak di Solo Berkuda. Lokasinya di Goro Assalam yang berjarak sekitar 10 km. Qadarullah, ban motor belakang pecah bahkan sebelum kami menempuh satu kilometer. Pagi-pagi di hari libur mana ada bengkel yang buka? Belum lagi kami sudah akan telat.

Akhirnya motor ditinggal di parkiran bank di Nusukan dan kami pesan g*car. Tarif yang tertera bikin kening berkerut, hampir dua kali lipat dari tarif biasa. Ya sudahlah. Sampai sana, ternyata panitia yang lain belum ada yang datang. Eaaaaaa..

Singkat kata, acara berlangsung sukses meskipun mundur hampir sejam dari jadwal. Yang buat saya senang, bertemu seorang anak perempuan yang memakai kaos #ammarkids bermotif 'Princess Muslimah'. Masya Allah, berasa ketemu idola yang cuman lihat di medsos doang gitu.

Maafkan emak-emak kolot. "Saya pesan di teman yang jualan di Ig Mbak. Worth it banget harganya segitu. Bisa dipake acara santai atau semi formal gitu." Kata ibunya dengan ekspresi berbinar-binar. Waaah, jadi nggak sabar menunggu kaosnya Fayyadh.

Kembali ke gaji, setelah field trip selesai kami masuk ke Assalam Hypermarket untuk sekalian belanja bulanan. Qadarullah lagi, belanja bulanan juga meningkat signifikan dari bulan kemarin. Padahal hanya beberapa barang saja yang ditambah dari biasanya.

Belum selesai sampai sana, g*car yang dipesan pun tarifnya lebih mahal dari saat berangkat. #elusdompet

Saat pulang, makan siang belum ada. Motor juga. Padahal perut sudah keroncongan. Akhirnya g*food-lah. #elusdompetlagi

Tapi entah mengapa, saya enjoy saja. Biasanya akan merasa bersalah besar pada Abahnya Fayyadh jika tahu pengeluaran juga besar. Yang jelas, 1). Saya tahu kemana semua itu pergi. Dan insya Allah bukan untuk hal yang sia-sia.
2). Saya yakin, Allah hanya akan mengambil sesuatu untuk menggantinya dengan yang jauh lebih baik.

Seperti yang diungkapkan di buku #tsow. Default rezeki itu unlimited dan unpredictable. Tak terbatas dan tak bisa diduga. Jika selama ini merasa rezeki terbatas dan angkanya sudah pasti, jangan-jangan karena kita kurang percaya jika Allah itu Maha Kaya dan Maha Pemurah.

Bismillah, gaji Abahnya Fayyadh hanya satu keran pemasukan. Insya Allah ada lagi keran-keran pemasukan yang lain. Asal mau berusaha, tingkatkan kapasitas diri, dan yang terpenting, luruskan niat. Insya Allah aliran rezeki itu akan mengalir lebih deras dengan sendirinya. Allah tidak tidur dan Maha Melihat usaha kita.

Jadi, awal bulan keuangan rasanya sudah seret? Senyum aja. Ada Allah ini.

Fitria

PNS yang lagi nyoba usaha online

#F25Store
#prawrc
#sahabatwrc1114
#day4

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...