INI PEMILU ATAU BENCANA ALAM?
"Cepat! Cepat! Cepat! Lelet sekali jadi perawat. Kalau begini nanti kerjanya, mati pasien kalian!"
Terimakasih kepada kakak senior saya di Poltekkes Kemenkes Mataram dulu yang selalu meneriakkan kalimat ini di tiap sesi ospek. Kalimat yang begitu menghujam dalam jiwa gadis baru tamat SMA dan memutuskan menjadi perawat. Sampai-sampai saya berkeyakinan semua tindakan tanpa terkecuali harus dilakukan secepat mungkin.
Setelah melewati fase praktek klinik terlebih bekerja, akhirnya saya bisa keluar dari pemahaman yang keliru tersebut. Bahwa tubuh manusia, tidak selemah itu. Ia adalah mesin paling efisien. Akan melakukan banyak kompensasi demi mempertahankan hidup.
Ya, dalam situasi gawat darurat memang tindakan cepat dan tepat itu mutlak. Apalagi jika menyangkut sirkulasi (perdarahan), ada sumbatan jalan napas, atau masalah di pernapasan.
Kehilangan darah yang banyak, atau tak dapat oksigen dalam waktu sekian menit, dapat menyebabkan kematian yang cepat. Hal ini biasanya terjadi pada kasus-kasus kecelakaan, kebakaran, persalinan, atau yang saya sebutkan diatas, korban bencana alam.
Tapi meninggal karena kelelahan? Wajar jika kemudian dipertanyakan. Karena tidak ada kasus sebelumnya, atau penelitian yang mendukung. Kecuali kelelahan kronis. Apalagi ini jumlahnya ratusan, tersebar di berbagai daerah, dan dalam waktu yang tak terpaut lama.
Sejak jumlahnya mencapai 50-an jiwa, saya mulai bertanya. Ini pemilu atau bencana alam? Sekarang, ternyata sudah mencapai 540 orang. Gusti, apakah ini tsunami?
Lebih-lebih lagi, jika benar karena kelelahan, seburuk itukah kualitas kesehatan penduduk Indonesia? Sehingga begitu 'gampang' meregang nyawa 'hanya' karena kelelahan.
Saya takut kelak, orang akan akan takut lelah. Karena akibatnya bisa meninggal.
Saya mendukung siapapun yang ingin fenomena, kejadian luar biasa, atau apapun sebutannya ini diteliti. Bukan tak menerima takdir, apalagi ada tendensi ke arah sana sini.
Tapi ini masalah nyawa dan kemanusiaan. Dibalik semua perbedaan umur dan data demografi lainnya, mereka semua memiliki satu kesamaan, menjadi petugas KPPS, Bawaslu, atau anggota kepolisian yang bertugas mengawal pemilu.
Tidak cukupkah itu menjadi alasan pemerintah membentuk satgas untuk menyelidiki penyebab kematian mereka? Karena mereka, yang masyhur disebut pahlawan demokrasi itu, gugur ketika menjalankan hajat negara.
Juga ke depannya, bisa sebagai pembelajaran bagi pemerintah, untuk mencegah hal ini terulang.
Karena jujur saya tak bisa menerima. Mereka, orang-orang yang sudah bekerja keras itu, memiliki keluarga, orang-orang yang menyayanginya, dan juga yang bersimpati. Mereka tak hanya butuh santunan, tapi juga dikenang. Yang jelas bukan sebagai sosok yang meninggal karena kelelahan.
Fitria
Perawat
Comments
Post a Comment