Skip to main content

MENGAJAK ANAK KE MASJID? WHY NOT?*

"Hehe.. biarkan saja. Mumpung lagi semangat. Besok lusa lain lagi ceritanya."

Ini adalah jawaban Ibuq atas pertanyaan tetangga mengenai saya yang mendadak rajin ke masjid.

Saat itu masih SD, saya lupa tepatnya kelas berapa. Ada rombongan KKN mahasiswa dari Mataram datang ke desa kami. Selain memberikan les belajar gratis, mereka juga mengadakan acara-acara di balai desa. Dan mengatakan bahwa 'meramaikan masjid itu baik'. Dimulai dengan sholat berjamaah.

Maka saya dan beberapa teman lalu tak pernah alpa sholat Dhuhur dan Ashar disana. Sholat selainnya di rumah atau di tempat ngaji. Kami bersemangat dan merasa melakukan hal baik.

Sampai pertanyaan dengan nada meledek itu terlontar "Sampai kapan kira-kira Fit bakal rajin ke masjid?"

Huh! Saya tersinggung. Pokoknya saya akan buktikan bahwa ini bukan angin-anginan. Lihat saja, saya akan tetap rajin ke masjid apapun yang terjadi.

Tetapi, tekad kuat itu tunduk pada pengalaman dan pengetahuan Ibuq beserta sang tetangga. Benarlah, tak lebih dari seminggu, angin rajin itu berlalu.

Dimulai dari berkurangnya personel geng ke masjid satu demi satu, dengan alasan dilarang orang tua. Lalu puncaknya, ketika ada tetua yang memarahi kami, karena anak-anak SD ini 'hanya membuat gaduh di masjid'.

Bertahun-tahun kemudian, kami hanya ke masjid jika Ramadhan atau ada hari-hari besar Islam. Buat apa ke masjid? Toh, tak ada 'acara khusus'. Telah tertanam di otak kami, masjid hanya tempat bagi orang dewasa yang sudah tahu adab.

Maka betapa herannya saya ketika dulu menemukan Musholla Mandala Darussalam di Denpasar yang selalu riuh dengan kehadiran anak-anak. Terutama pada waktu Ashar. Kadang juga Zuhur. Karena mereka mengaji disana.

Orang tua tak jarang memarahi jika mereka ribut, tapi mereka tak se-cemen saya. Dimarahi okay, tidak balik lagi? No way. Apalagi pada saat Ramadhan. Kadang mereka disana sejak Zuhur sampai berbuka, karena jadwal TPA dimajukan. Mereka lebih memilih berbuka di mushola ketimbang di rumah karena temannya banyak. Padahal hidangan berbuka di rumah mesti lebih wah dari di masjid.

Banyak pendapat kapan sebaiknya anak dibawa ke masjid. Imam Maliki melarang anak-anak ke masjid. Sebaliknya, Imam Syafi'i menganjurkan anak-anak dibawa. Jadi, di Masjid Jogokariyan mengambil jalan tengah. Disediakan serambi khusus untuk anak-anak dan bapak-bapak yang membawa anak-anak agar tidak mengganggu jama'ah lain (Ustad Salim A. Fillah).

Menurut sebuah artikel yang lewat di beranda kemarin, keinginan memperkenalkan masjid baiknya dibarengi dengan pengajaran tentang adab. Lalu kalau bisa tidak pada waktu sholat wajib, agar tak mengganggu jama'ah yang lain.

Saya dan abahnya Fayyadh memutuskan memperkenalkan masjid sedini mungkin. Sudah lebih sebulan ia ikut tiap abahnya sholat fardhu. Awalnya masih menangis. Tetapi lama kelamaan ia makin betah dan mau main sendiri atau merangkak kesana kemari.

Terhitung sudah dua malam Fayyadh betah sampai sholat tarawih selesai. Baca (menangis saat rakaat terakhir witir). Sebelumnya, kadang tak mau dilepas. Kadang saya hanya bisa tarawih dua rakaat.

Tujuan kami agar Fayyadh terbiasa. Anak usia dibawah 1 tahun sedang belajar arti kepercayaan. Kami ingin Fayyadh percaya bahwa ia diterima di masjid, dan masjid adalah tempat yang aman dan nyaman untuknya.

Semua ini tak bisa kami lakukan tanpa toleransi dan kelegowoan jamaah masjid di kompleks kami. Tak hanya Fayyadh, banyak balita yang sering ribut, atau berlarian diantara shaf-shaf sholat. Tentu saja pernah ada yang protes, tapi hanya satu orang. Selebihnya, ucapan "Wis rapopo Mbak, cah cilik." Adalah yang biasa terucap ketika saya minta maaf pada jamaah yang sujudnya kesulitan jika Fayyadh sudah merangkak atau duduk di depannya.

Jazakumullah khair ibu-ibu dan bapak-bapak jamaah masjid Istiqomah Perum Griya Wonorejo. Semoga kesabaran bapak ibu Allah berikan pahala tanpa batas.

Jadi, mengajak anak ke masjid? Why not? Tentu saja dengan tetap mempertimbangkan situasi dan kondisi, serta manfaat dan mudharat bersama. Happy Ramadhan!

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...