Emang artis aja yang bisa babymoon? Kami juga. Destinasinya aja nggak kalah kece. Udah berkali-kali menang award internasional. Sampai turis-turis lokal dan mancanegara pengen banget mengunjungi. Kebanyakan yang udah datang, mau balik lagi.
Dimana?
Lombok dong! Bali mah, lewat (baca: transit).
Krik.. krik.. krik..
Bilang aja elu pulang kampung Fit.
Yaaah, tapi kan biar terkesan bombastis gitu.
Eniwe, kalau memang ada kemampuan, babymoon-lah Mak dan calon emak.
Apaan tuh babymoon? Semacam perjalanan romantis dengan suami, untuk meningkatkan bonding sebelum debay lahir. Karena akan banyak kerepotan dan adaptasi sana sini setelah lahiran. Biasanya akan menimbulkan stres. Nah, bonding yang kuat dengan pasangan akan meminimalisir konflik karena stres tadi.
Jangan bayangin babymoon kami pake nginep di hotel berbintang berhari-hari. Cuman sehari, nginep di rumah bibi, besoknya jalan ke hutan Sesaot.
Sudah direncanakan sejak di Solo. Saya yang merasa lebih segar bugar di kehamilan kali ini sanggup aja di ajak ke kebun duren yang katanya musti jalan kurang dikit dari sekilo.
Faktanya?
Baru seratus meter aja udah ngos-ngosan. Ya emang jalannya tanah, kecil, dan banyak nanjak. Tapi kan dulu fine-fine aja.
Ternyata oh ternyata, badan bumil emang beda. Akhirnya nggak berani maksa. Melipirlah saya duduk di pinggir jalan nunggu Abahnya Fayyadh jemput pake motor.
Kenapa nggak naik motor aja dari awal?
Ya karena kondisi jalan tadi, takutnya keguncang-guncang.
Tapi mau nggak mau ya naik juga. Motor matic berasa trill. Sepanjang jalan nyebut sambil megang perut.
Dan ya, kehamilan kedua memang beda. Kalo dulu naik motor di jalan gede yang agak rusak aja takutnya minta ampun, ini yang off-road oke-oke aja.
Belum lagi disana turun ke sungai karena anak-anak mau mandi. Emak mau wudhu. Jalannya terjal, dengan kemiringan lebih dari 50 derajat. Abahnya Fayyadh megangin biar nggak jatuh.
Ampuuuun dah, ini nggak ada yang khawatir ya sama bumil diajak trekking begini?
Lah, si bumil mau-mau aja juga! (Dalam hati)
Yaa Rabb, beneran deh. Dulu mah nggak ada apa-apanya cuman beginian. Sekarang mikir. Kalo kepleset gimana, kalo suami kurang kuat megang gimana, kalo pijakan salah gimana.
Tapi worth it sih. Cuaca yang panas mendadak adem setelah nyelupin kaki di air sungai yang bersih dan dingin.
Fotonya mana?
Ahem..
Saya sudah minta ke Abahnya Fayyadh dengan tatapan dreamy "Bah, nggak mau fotoin ibu nih? Duduk di bebatuan sungai di tengah hutan. Ditingkahi percikan air jernih. Ibu sambil nenenin Fayyadh dengan perut yang udah gede. Kayaknya epic."
Jawabannya "Nggak semua momen mesti difoto. Kadangkala, jadi lebih istimewa karena hanya kita yang tahu."
Okhe bhaique General.
Comments
Post a Comment