Skip to main content

MANTAN-NYA SUAMI, ENAKNYA DIAPAIN YA?


Eits, tenang dulu. Postingan kali ini bukan niat bikin rusuh. Apalagi memiliki unsur dan niat menyakiti orang lain. Cuman pengen libur sejenak dari posting soal anak. Uhuks..

Adapun yang melatarbelakangi tulisan ini adalah postingan manis seorang teman (sebut saja si A) yang mengunggah foto masakan istrinya.

Sooo?

Ada yang bikin saya terusik. Yaitu satu komen yang nulis 'enak mana sama masakan si ini?' yang disinyalir adalah mantan si A. Dan percakapan menjadi panjang.

Begini gaes. Apa faedahnya bandingin masakan istri orang sama mantanya? Urgensinya dimana? Kalo si istri baca gimana? Terus nanya-nanya sama si A soal mantannya? Terus kepo dengan masa lalu mereka? Terus jadi mogok masak? Terus.. terus.. #provokasialainfotainment

Yaelah Fitria, begitu aja dibaperin. Itu namanya becanda. Be-can-da.

Sorry to say, buat saya itu bercandanya nggak etis. Si A baru saja menikah. Ya terserahlah mantannya itu chef internasional atau apa, tapi buat apa dibawa-bawa?

Kebanyakan perempuan itu jagonya insecurity. Alias merasa nggak aman atas sesuatu. Meskipun cantik, pintar, kaya, ketok'e sempurna blas, mesti ada yang nggak bikin pede. Merasa ada yang kurang. Masakannya kurang sedap misalnya.

Pengantin baru bukan saja sedang berflower-flower, tapi juga terkaget-kaget dengan banyak hal yang ternyata didapati pada pasangan. Belum lagi mesti beradaptasi.

Persoalan sepele macam rasa dan jenis masakan bisa jadi masalah besar jika tidak disikapi dengan baik. Apalagi satu kata itu: mantan.

Ini mah, pasangan lama aja banyak yang awas. Apalagi pasangan baru.

Jadi maksud saya, sudahlah ya. Mantan ya mantan. Tempatnya di masa lalu. Buat apa diseret-seret ke masa sekarang. Apalagi hanya untuk bercanda. Masih banyak bahan candaan lain yang tidak berpotensi membuat masalah pada rumah tangga orang. Nggak percaya, coba deh gugling, biasanya kalo soal mantan begini yang muncul artikel serem dan tragis.

Seorang istri tidak bisa dibandingkan dengan mantan sekece apapun. Yaiyalah, yang satu dihalalkan dengan perjanjian kuat di hadapan Tuhan, hukum, dan norma sosial masyarakat. Punya hak dan kewajiban yang jelas. Yang satu?

Sudah dibilang begini pun, masih ada loh istri yang misuh-misuh. Karena itu tadi, level sensitivas orang beda-beda. Demikian juga dengan tingkat insecurity-nya. Belum lagi kadar cemburunya. Yang ingin saya sampaikan, tak ada salahnya berhati-hati dalam berkomentar atau menyampaikan berita.

Mantan-nya suami bukan untuk dibenci, apalagi dicurigai (kecuali memang ada bukti, itu ceritanya lain lagi). Karena bagaimanapun, dia atau mereka, adalah bagian dari perjalanan hidup suami. Tapi tempatkan ia di tempat seharusnya, di hari kemarin.

Kadang, tak bisa dipungkiri justru yang lebih baper dari sebuah pernikahan adalah para netizen. Sehingga melakukan yang tidak seharusnya*. (*Pengakuan mantan netizen baper)

Eniwe, hal ini berlaku juga untuk suami loh ya. Meskipun saya nggak tahu level kepedulian suami terhadap mantan-nya istri. Gimana bapak-bapak?

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...