Salah satu kalimat yang paling mengiritasi kesensitifan masa single saya adalah "Hidup itu dimulai setelah menikah Mbak."
Gimana ya?
Bikin saya ngerasa kayak virus, yang nggak bisa hidup tanpa nempel di mahluk hidup. Juga inferior, seakan-akan masa single dengan segala problematikanya itu nggak ada apa-apanya.
Ternyata oh ternyata, artinya tidak sesederhana pikiran sensi saya. Banyak sekali hal yang dulu membingungkan, terjawab sempurna setelah menikah. Pun dengan satu permasalahan, bisa dilihat dengan persepektif yang samasekali berbeda.
Seperti ketika saya heran melihat Ibuq sesenggukan saat Mamiq sakit. Beliau sedih karena tidak ada keluarga yang datang menjenguk. Padahal sakitnya karena kelelahan mengurus masalah keluarga.
Kesannya kok jadi nggak ikhlas gitu bantuin orang. Tapi ternyata, sayapun kecewa ketika mengalami hal yang sama. Apakah ini tanda kami istri yang tak ikhlas? Wallahu'alam, semoga tidak. Jika iya, semoga Allah memperbaiki hati kami.
Terbuktilah kata Ali bin Abi Thalib ketika para sahabat heran melihat temannya yang begitu banyak, tapi ia hanya berkata "Nanti ku hitung saat mendapat musibah."
Keheranan kedua ketika melihat betahnya orang-orang Lombok tinggal di rumah bedek nan sempit, bekerja sebagai buruh borongan di daerah By Pass Ida Bagus Mantra, Bali. Kenapa nggak pulang kampung saja? Pasti ada keluarga kan?
Ternyata, kemandirian itu memang jauh lebih menenangkan. Rezeki cukup atau lebih tak ada yang tahu. Terbiasa mengambil keputusan besar tanpa ada yang dikte, apalagi hanya sekedar menyalahkan. Susah senang telan bersama, nanti saat pulang kampung biar tahu enaknya saja. Dan tentu saja, kita jadi lebih menghargai momen bersama keluarga.
Selanjutnya, tentang seorang istri ustad Beliau cantik, masih muda, lulusan Mesir. Ketika bertemu di suatu acara formal, saya heran melihat jilbabnya yang banyak noda dan tidak disetrika. Katanya, anaknya sih tiga, tapi kan ada londri?
Dan sekarang, saya yang baru punya anak satu saja sering abai ketika ada noda coklat saat pergi kondangan. Apalagi baju di rumah, kebanyakan cuci kering pakai, jangan tanya tentang kesesuaian warna atasan dan bawahan. Karena apa, prioritas berubah. Kadang kita begitu ingin melakukan banyak hal, tapi waktu dan tenaga tak memungkinkan.
Dan masih banyak lagi pelajaran lainnya. Hal yang begitu gampang dinyinyiri, ternyata tak seperti kelihatannya.
Ada cerita di balik cerita. Dan tak bijak menyimpulkan sesuatu hanya karena satu kalimat. Karena, mungkin saja ada kalimat sebelum atau sesudahnya yang tak kita baca atau dengar. Padahal itu bisa mengubah makna satu kalimat yang menyita pikiran kita.
Comments
Post a Comment