Skip to main content

PENGALAMAN KHITAN ANAK USIA 13 BULAN

"Duuuh, nggak kasian khitan kan masih kecil?"
"Nangis nggak Fayyadh pas disunat Mbak?"

Keduanya adalah pertanyaan favorit orang ketika mengetahui kami khitan Fayyadh empat bulan yang lalu.

Untuk pertanyaan pertama, khitan itu secara medis aman dilakukan di semua usia. Tetapi justru paling bagus jika dilakukan saat masih newborn alias bayi dibawah sebulan. Karena saat itu pembelahan sel sedang tinggi-tingginya sementara bayi tak banyak bergerak, sehingga penyembuhan luka jauh lebih cepat dan bagus.

Diluar negeri, khitan malah dilakukan sebelum bayi dibawa pulang dari rumah sakit tempatnya dilahirkan. Sayangnya, dulu abah dan kakek Fayyadh tak mengizinkan ia dikhitan saat bayi. Jadi cita-cita saya kandas.

Adalah dr. Lucy Sahrodji, Sp. A. yang menyarankan kami segera mengkhitan Fayyadh. Saat itu kami datang berkonsultasi karena berat badan Fayyadh yang naik dikit-dikit sehingga BB-nya kurang ideal.

Setelah memperhatikan tren KMS-nya, dr. Lucy menyatakan BB Fayyadh masih normal. Naiknya mulai susah setelah MP ASI. Beliau lalu meminta kami lebih banyak memberikan protein, karbohidrat, dan lemak. Santan dan minyak setiap hari. Buah dan sayur dikurangi.

Saat pemeriksaan fisik, diketahui kalau Fayyadh juga memiliki fimosis. Satu keadaan dimana kulup penis tidak bisa dibuka secara sempurna ketika ditarik. Kondisi ini umum terjadi pada bayi dan tidak memerlukan tindakan khusus. Biasanya hilang di umur 5-7 tahun.

Tapi, dalam kasus yang parah bisa menyebabkan infeksi pada kepala penis yang menyebabkan bayi kesakitan saat pipis atau tidak bisa pipis sama sekali. Biasanya, tindakan selanjutnya adalah khitan sesegera mungkin. 

Hal lain yang bisa menyebabkan BB anak susah naik adalah infeksi. Salah satunya adalah infeksi saluran kemih yang kadang tak menimbulkan gejala. Ini bisa dipicu oleh penggunaan pospak yang rutin dan kebersihan yang kurang. Karena energi dari makanan digunakan untuk melawan infeksi, bukan untuk tumbuh dan berkembang. 

Setelah khitan, kami diminta kembali lagi untuk cek urine. Jika memang ada infeksi, akan ditangani.

Jujur saya kaget sekaligus sedih. Karena selama ini tidak ada keluhan. Fayyadh pipisnya normal. Belum lagi apa yang dikoreksi dr. Lucy soal pemberian makan juga sebenarnya hal yang sudah diketahui tapi tak konsisten dijalani. Astaghfirullah, maafkan kami Nak.

Apalagi ingat kalimat penutup beliau, "Anak laki-laki disayang dengan khitan sedini mungkin. Sunnah Rasulullah 7 hari loh. Kalau bayi perempuan ditindik kok tega? Kenapa bayi lelaki tidak? Punya anak yang alhamdulillah bisa pipis normal, jangan takut kena pipis. Biar berantakan, bisa dibersihkan."

Tak ada gunanya larut dalam perasaan bersalah. Waktu itu beberapa hari menjelang Idul Adha. Tak mungkin kami khitan sebelum itu. Maka dibuatlah janji dengan Griya Khitan dua hari setelahnya.

Apa yang kami persiapkan? Nyaris tak ada. Selain mempersiapkan mental, berdoa, dan memberitahu Fayyadh bahwa dia akan dikhitan. Boleh nangis tapi jangan ngamuk.

Hari yang dijanjikan tiba. Kami ke Griya Khitan sekitar jam 7 pagi. Perkenalan sebentar, lalu Fayyadh dibaringkan. Disini dia mulai berontak. Ya bagaimana, biasanya jalan kemana-mana tak pernah dikekang. Ini harus berbaring terus.

Proses khitan berlangsung kurang lebih 45 menit. Yang bikin lama adalah saat pembersihan karena kulup yang lengket. Dengan teknik sunat konvensional: kulup dipotong dengan pisau bedah. Bius yang digunakan hanya bius lokal dan perdarahannya sedikit. Apakah Fayyadh menangis? Tentu saja.

All the way. Selama 45 menit.

Saya memegang kedua siku sementara abahnya memegang lututnya. Padahal sebelumnya dia minta diluar saja dengan alasan tak tega. Apa itu berarti saya tega?

Mau tak mau. Ibu mana yang suka melihat anaknya menangis? Apalagi selama itu. Tapi saya tak punya pilihan. Harus kuat demi Fayyadh. Jadilah saya hanya bisa menghiburnya dengan meminta maaf, meyakinkan kalau dia anak yang kuat, membacakan sholawat, dan sesekali mencium kening dan tangannya. 

Dia sempat kelelahan dan sepertinya mau tertidur. Tapi tak jadi dan meneruskan tangis yang semakin lemah. Kami curiga tangisnya bukan karena sakit fisik, tetapi lebih karena sakit hati karena tidak bebas bergerak.

Akhirnya, proses khitan selesai. Kami diberikan antibiotik, obat anti nyeri, dan obat tetes untuk lukanya. Juga satu celana khitan. Fayyadh boleh mandi setelah 3 hari. 

Setelah digendong, tangis Fayyadh auto berhenti. Apalagi setelah nenen. Dalam perjalanan pulang ia tertidur.

Fayyadh bangun setelah satu jam dan langsung menangis. Kami memakaikan celana khitan. Tapi tak lama ia pipis sehingga celana khitannya diganti dengan celana katun yang depannya kami bolongi (tips dari sesemak di grup). Ternyata, ia malah tertarik dengan penisnya yang masih merah dan memegangnya. Sontak tangis yang sudah reda pecah lagi. Akhirnya abahnya kembali lagi ke apotek dekat rumah khitan untuk membeli celana khitan.

Setelah itu, dia tak pernah menangis. Jam 12 siang, dia sudah main di depan rumah seperti biasa. Sorenya ketika diajak keliling, tak ada yang percaya ia sudah dikhitan. Kecuali ditunjukkan celananya. Rupanya, celana khitan membuat Fayyadh bebas bergerak dan tidak kepo terhadap penisnya.

Jadilah itu celana khitan cuci kering pakai. Alhamdulillah, bahannya cepat kering dan cuaca mendukung. 

Untuk pengobatan, kami meminumkan antibiotik rutin sampai habis. Tapi  antinyerinyA hanya sampai hari keempat. Hari ketiga dosisnya sudah dikurangi. Tentu saja sambil melihat reaksi Fayyadh. Ini benar-benar kemudahan dari Allah, karena sebelumnya Fayyadh ogah minum obat. Saat khitan, dia malah nagih.

Tapi kami tak bisa konsisten memberikan obat tetes untuk lukanya. Apalagi perawatan luka. Karena jika dipegang Fayyadh akan histeris. Jadilah kami hanya mengobati lukanya saat ia tertidur. Lalu setelah kontrol di hari ketiga dan boleh mandi keesokan harinya, kami ajak dia berendam dengan air hangat yang dicampur rebusan daun sirih.

Fungsinya, agak kerak yang menempel pada luka lepas sendiri sehingga mempercepat penyembuhan. Seperti luka pada umumnya, setelah beberapa hari akan timbul kerak kehitaman. Karena darah yang membeku, cairan yang keluar, proses pertumbuhan jaringan baru, juga salep/obat yang menumpuk.

Untuk daun sirih sendiri, ini murni pengalaman, belum ada penelitiannya. Biasanya di Lombok ketika sakit, apalagi sakit kulit, kami akan dimandikan dengan campuran rebusan daun lengkuas. Badan jadi segar dan luka cepat sembuh. Karena di Solo daun lengkuas susah dicari, berimprovisasi-lah saya dengan daun sirih (sudah teruji mengandung antiseptik). Adalah Bu Ade Jatmiko, tetangga kami yang sampai mengantarkan daunnya ke rumah. Matur suwun Bu.

Luka Fayyadh kering setelah 7 hari. Selama itu dia tetap memakai celana khitan. Ketika keluar rumah, kami pakaikan celana khitan dulu baru diluarnya memakai diaper.

Tidur dan aktivitas lain alhamdulillah tak terganggu. Keuntungan lain khitan anak masih balita adalah mereka belum begitu paham konsep takut dan rasa sakit. Jadi ya sudah, khitan ya khitan, main lanjut terus.

Untuk anak yang lebih besar, perlu usaha lebih dari orangtua untuk memahamkan. Diajak bicara/sounding sejak beberapa waktu sebelumnya. Baiknya tidak dipaksa karena bisa menimbulkan trauma pada anak. 

Tapi mungkin ini pengaruh kultur masyarakat juga. Ketika sunatan massal di Denpasar, kami sering mendapati anak yang harus dibujuk sampai sejam baru mau dilakukan tindakan. Itupun tetap mengamuk sepanjang prosesnya. Di NTT sana, menurut cerita Pak @bambangwidjanarko anak-anak naik sendiri ke meja tindakan tanpa didampingi orang tua. Dan tidak menangis.

Di Lombok, banyak cerita anak minta khitan sendiri karena temannya juga khitan. Atau malu karena rata-rata sudah sementara dia belum. 

Soal menangis, saya termasuk yang membiarkan. Karena itu adalah ekspresi emosi anak. Jika dilarang, bisa jadi anak makin tertekan.

Metode khitan sendiri ada beberapa. Sebut saja khitan konvensional, metode laser, dan smart clamping. Semua memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Dan saya tak cukup ilmu untuk mereview.

Hanya saja, dulu dosen kami yang adalah dokter spesialis bedah urologi pernah mengatakan bahwa khitan sekarang dikembalikan lagi ke metode konvensional. Yang dipotong dengan pisau bedah steril. 

Metode laser menggunakan alat panas untuk memotong kulup. Hal ini memang menyebabkan perdarahan minimal, tapi jaringan dan pembuluh darah sekitar menjadi mati. Sehingga akan berpengaruh pada penyembuhan luka. Wallahu'alam.

Yak, begitulah pengalaman kami khitan balita. Alhamdulillah tak banyak drama meskipun ada tetesan air mata. Juga tak banyak dana untuk membeli hadiah ananda. #eh

Dan semoga, orang tua yang berniat khitan si sholih, Allah mudahkan segala prosesnya. Aamiin.



 

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...