"Fayyadh," kata suami sambil mengelus kepala si bocah yang baru numpahin es kelapa muda. "Terimakasih ya sudah menjadi penguji kesabaran Abah."
Lalu sambil melirik saya ia melanjutkan, "Yang nomor 2. Yang nomor 1 tetap ibumu."
Saya kemudian tersenyum manis dan membalas "Terimakasih Abah, Ibu selalu jadi yang pertama. Ibu terharu." Tadinya mau dilanjutkan dengan kalimat 'Ibu juga merasakan hal yang sama', tapi dibatalkan di detik terakhir.
Eniwe, ada yang sepakat nggak Buibu? Bagi para istri, suami itu penguji kesabaran No. 1. Semarah-marahnya sama anak, sebentar lagi bisa ngomong lembut. Peluk cium. Bahkan minta maaf.
Kalo sama suami, nesu alias rasa yang tertinggal setelah marah itu naudzubillah. Dari hitungan jam sampai bisa berhari-hari. Minta maaf? Ya tunggu nesu-nya reda lah!
Tapi balik lagi, ternyata suami juga menganggap bukan anak yang menjadi penguji kesabaran No. 1. Melainkan kita para istri. Jadi sebenarnya bukan hanya kita yang diuji dengan tabiat pasangan, mereka juga.
"Perempuan itu mahluk ribet."
Tak jarang komentar ini keluar dari para lelaki. Sementara kita, sering menganggap lelaki terlalu santai, nggak peka, cuek, dan sejenisnya.
Nggak heran sih, karena kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam cinta. Uhuks.. #AADCmodeon
Ada buku laris banget judulnya 'Men are from mars, women are from venus' oleh John D. Gray. Padahal masih sesama manusia, tapi dicitrakan berasal dari planet lain saking berbedanya kedua mahluk ini.
Khusus untuk suami, sejak 14 abad lampau sudah diminta memperlakukan istri dengan baik. Dan bersabar menghadapinya, karena "... boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya."(QS. An-Nisa' : Ayat 19)
Demikian juga dengan beberapa hadist yang menjelaskan sifat perempuan. Rata-rata pada akhirnya ditutup dengan anjuran untuk memperlakukan mereka dengan baik.
Sementara untuk perempuan, surga, kenikmatan tertinggi itu, bisa diraih 'hanya' dengan patuh terhadap suami dan melakukan amalan-amalan wajib.
Tapi disinilah surga itu ketahuan mahalnya. Karena 'hanya patuh' itu pun benar-benar nggak gampang. Kalau lagi ngambek, diajak ngobrol aja diam. Apalagi suami minta bikinin ini itu. Auto berlagak nggak denger atau sibuk sama hal lain. Kalaupun dibikinin, mukanya ditekuk macam pakaian yang beranak pinak di keranjang setrikaan.
Tolong jujur Mak, bukan saya aja yang begini kan? Hiks..
Jadi, harus gimana?
Buat saya pribadi, ketika kehilangan kesabaran yang paling menolong adalah berdoa diberikan kesabaran dan mengulang-ulang doa di surat Al Furqan 74. Lalu, mengingat kebaikan-kebaikan suami.
Meskipun sering main hape, seharian sudah keluar panas-panas cari rezeki. Meskipun naruh baju kotor sembarangan, tadi sudah cuci piring dan ngajak main anak. Meskipun dan meski, tapi dan tapi..
Nulis ini jauh lebih gampang dari prakteknya. Tapi kata orang, practice makes perfect.
Mungkin awalnya berat, tapi jika dibiasakan akan semakin mudah. Mau tak mau, kita akan 'dipaksa' mengingat kebaikan suami. Dan terkadang, hati jadi terbalik, dan suami menjadi penyebab syukur No. 1.
Comments
Post a Comment