Skip to main content

BAYI DAN ANAK BERMAIN DENGAN KUCING, AMANKAH?

"Mbak, itu bekas apa?" Tanya anak-anak ketika melihat luka di tangan Fayyadh.
"Dicokot (digigit) Pupus."
"Hiiiiy.."
"Tapi kok tadi masih mau main Mbak?"
"Yaaa namanya masih kecil, belum tahu kapok."

Pupus adalah kucing orange belang yang sering datang pagi-pagi ke kontrakan kami. Sepertinya dia bukan peliharaan siapa-siapa karena ketika ditanyakan di grup wa ibu-ibu tidak ada yang mengakui.

Fayyadh mah senang-senang saja. Tapi rasa antusiasnya berbanding terbalik dengan Pupus. Dia tidak begitu suka diganggu sehingga terjadilah sekitar 3 kali insiden Fayyadh digigit tangannya. Untunglah lukanya tidak begitu dalam.

Anak digigit, dicakar, alergi, dan tertular penyakit biasanya adalah hal yang ditakuti orang tua sehingga tidak mengizinkan anaknya bermain dengan kucing.

Jika dua hal pertama kadang tak bisa dihindari sehingga memang bayi dan anak-anak harus tetap diawasi ketika bersama kucing, maka tak demikian halnya dengan penyebab alergi dan menularkan penyakit.

Dilansir dari laman Times, anak yang tinggal bersama hewan peliharaan seperti kucing dan anjing justru akan menurunkan risiko mereka mengidap alergi. Tak hanya itu, anak-anak ini rata-rata lebih sehat dan peluang mereka terkena penyakit saluran pernapasan dan infeksi telinga juga lebih kecil daripada anak-anak tanpa hewan peliharaan. Juga menurunkan peluang diberikan antibiotik.

Persentase ini jadi jauh lebih besar ketika mereka berinteraksi dengan hewan peliharaan pada tahun pertama kehidupannya. Diduga karena sistem imun saat itu sedang berkembang, jadi paparan lebih awal dengan hewan dan kemungkinan adanya bakteri yang mereka bawa justru membuat sistem imun mereka jauh lebih kuat.

Mengetahui fakta ini membuat saya memperhatikan Fayyadh. Belum genap berumur sehari dia dibawa ke rumah neneknya yang memiliki 7 ekor kucing. Mau tak mau akan berinteraksi. Tapi tetap kami awasi. Para kucing pun tak sembrono. Paling mereka hanya tidur di dekat kakinya.

Semakin usianya bertambah, Fayyadh makin suka pada kucing. Tangis seheboh apapun biasanya akan reda jika melihat kucing. Dan soal gigitan, sepertinya hanya Pupus yang berani melakukannya. Yang lain, pasrah.

Soal sakit, sama saja seperti anak lainnya. Satu atau dua bulan sekali terkena batuk pilek. Tapi jarang kami beri obat. Mungkin sembuhnya lebih lama, tapi alhamdulillah selalu sembuh dalam 1-2 minggu. Satu-satunya pengobatan paripurna Fayyadh yang melibatkan antibiotik adalah saat khitan. Masya Allah tabarakallah.

Bukannya bahaya pada Fayyadh yang kami khawatirkan, tapi pada kucingnya. Karena dia suka sekali menggendong kemana-mana dengan teknik apa adanya. Anak kucing jadi rawan teraniaya.

Biasanya yang paling ditakuti dari kucing apalagi oleh ibu hamil adalah toxoplasmosis. Tapi ini hanya ada dalam kotoran kucing. Dan butuh waktu 3 hari untuk mereka berkembang biak. Jadi, sebenarnya selama tidak menyentuh kotorannya, aman. Membersihkannya bisa minta tolong pada orang lain. Kalau terpaksa, pakailah sarung tangan dan jangan tunda untuk bersihkan.

Dalam Islam sendiri Rasulullah pernah bersabda bahwa kucing itu suci dan tidak najis. Perhatikan, bukan hanya bersih, tapi suci. Hal ini didukung juga dengan penelitian yang menyatakan bahwa bulu dan kulit kucing justru nihil bakteri jika dibandingkan dengan kulit manusia. 

Jadi, buat emak dan calon emak yang punya anabul (anak bulu), nggak usah khawatir yaa. Apalagi sampai mengirim si Mpuss buat diadopsi saat akan punya bayi. 



Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...