"Setelah menikah sama kamu, aku bersyukuuuur sekali dilahirkan jadi laki-laki." Kata suami di satu sore.
"Oh ya, kenapa?"
"Karena mood perempuan itu..." Suami bergidik.
"Complicated. Dan cepat sekali berubah." Lanjutnya.
Saya hanya tertawa lalu menjawab. "Iya alhamdulillah kalo gitu. Abah yang cuman ngeliat aja capek kan, apalagi kami yang menjalani?"
#beladirimodeon
"Tapi jangan khawatir Bah. Karena mood perempuan itu naik turun, apa yang dia katakan dan rasakan pagi ini belum tentu sama dengan nanti sore."
"Iya juga sih.." Suami sudah lega.
"Tapi bisa jadi lebih parah!" Dan suami pun mendengus.
Sebenarnya, saya juga merasakan jika setelah menikah rentang emosi saya jadi jauh lebih luas dari sebelumnya. Hal-hal kecil bukan saja bisa menimbulkan kekesalan yang nampaknya abadi. Tetapi juga bahagia yang tiada terperi.
Namun tentu saja yang menjadi masalah adalah kesal ini. Yang diberi istilah keren oleh para suami: ngambek.
Padahal kita nggak ngomong itu bukan cuman ngambek. Bisa saja lapar, capek, bosan, pusing, ngantuk, kesel, lemes, dan 1001 hal lainnya yang berakibat pada susahnya untuk tersenyum apalagi berkata-kata.
Tapi, karena perbedaan tata ruang dan administrasi lelaki dan perempuan dalam mengelola emosi, ini bisa dimaklumi jika mereka anggap semua itu sama: ngambek.
Lalu ibu-ibu masuk komunitas mana? Yang ngambekan atau sabaran? Yang ngambeknya sehari atau yang penting nggak lebih dari tiga hari? Yang kalo ngambek rumah makin kinclong atau dibiarin berantakan? #eh
Kalau saya, masuk komunitas ngambekan. Tapi beruntung suami agak sabaran. Karena apa, dia sendiri yang bilang (mengutip kalimat dr. Oktarina Paramita) kalau kita tidak boleh berbohong terhadap perasaan diri sendiri. Nggak sehat.
Okay, jadi tambah amunisi untuk melegalkan ngambek. Kalau lagi nggak pengen senyum apalagi ngomong ya sudah. Memaksakan diri ceria itu butuh energi besar. Yang tak setiap saat saya miliki.
Tapi pada akhirnya saya akan jelaskan. Terlebih saya sudah menulis tentang 'Act Love' kemarin. Sebisa mungkin penjelasan itu clear sebelum suami meninggalkan rumah.
Percaya atau tidak, ketika satu diantara kami ngambek, maka aktivitas hari itu biasanya lebih riweuh. Ada saja yang bikin kesal. Ada saja yang menyulitkan. Atau waktu dan materi yang terbuang percuma.
Kata seorang psikolog, keluarga yang baik bukan tanpa konflik. Dan memperlihatkannya pada anak, bukan sesuatu yang tabu. Tak melulu mereka harus lihat kita riang gembira. Menangis atau marah juga perlu mereka tahu. Itu adalah satu cara menstimulasi perkembangannya. Tetapi harus diingat, agar memperlihatkan juga saat penyelesaiannya. Agar anak juga paham, tak masalah ada konflik, asal bisa diselesaikan dengan baik.
Comments
Post a Comment