Skip to main content

Failed

FAILED

Baru hari pertama sudah gagal. Penantang macam apa itu?

Ini draft tanggal 2 April. Dan akhirnya baru bisa eksekusi hari ini, 5 April.

Jika ditanya, apa penyebab kegagalannya? Padahal kemarin begitu bersemangat mengikuti even 30 Day Journal ini.

Sekali lagi, apa?

Baiklah, coba kita runut. Yang pertama, malas buka medsos. Lalu tak punya cukup waktu untuk menulis. Yang kemudian memunculkan problem berikutnya, tak punya tulisan yang layak posting.

Begitu seterusnya sampai hari ini.

Tapi beruntungnya tadi pagi sekilas menonton video singkat Asma Nadia. Yang begitu bersangka baik pada penulis-penulis pemula. Menyemangati mereka bahwa tulisan yang 'layak' juga awalnya adalah sebuah draft yang banyak coretan disana sini.

Ya, mengapa harus menunggu layak untuk berani memulai?

Jika semua sudah (harus) layak, maka itu bukan memulai. Tapi meneruskan.

Bayi yang baru belajar berjalan pun butuh waktu. Mulai belajar duduk untuk melatih tungkai bawah. Belajar merangkak untuk kekuatan tangan dan kecepatan kaki. Belajar berdiri agar kuat kaki menopang. Lalu belajar dari duduk ke berdiri. Terus merambat secara perlahan. Jatuh dan bangun berkali-kali. Setiap hari.

Baru menemukan titik keseimbangan. Berkat latihan, kekuatan juga meningkat. Lalu kemampuan baru dikuasai. Dan pada akhirnya, berimbas pada kepercayaan diri untuk melangkah.

Sekacau apapun, mulai saja. Setelah kaki melangkah, yang lain akan mengikuti. Mata menjadi awas, otak jadi berpikir, hati merasa berbeda. Dan tangan, pada akhirnya akan bisa menuliskan.

It's not important how many times you've failed, it's your courage to get up and try again that worth to count.

#30DJ
#30DJ2
#30DJ2_RepostDay01

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...