Skip to main content

Tahun Kedua: Ketika Benih Kemandirian Ditumbuhkan

Kemarin adalah kali pertama Fayyadh mencicipi buah rambutan. Dan sekali duduk langsung menghabiskan sepuluh biji.

Awalnya, saya kupaskan dan pisahkan dagingnya. Dia tinggal ambil dan makan. Lama-lama, dia hanya mau dikupaskan dan makan sendiri. Saya khawatir dong, gimana kalo keselek sama bijinya? Tapi tidak. Ternyata, kalo dagingnya tidak habis diemut, itu rambutan dikunyah sama bijinya sekalian. Terus, mungkin karena rasanya jadi aneh, akan dia serahkan pada saya.

Tidur siang saya yang memang cuman tidur-tidur ayam makin tak kondusif karena dia bolak balik dari ruang tamu ke kamar, minta dikupaskan rambutan.

Okhe bhaique, yang penting bocah'e sueneng.

Saya jadi ingat tentang bahaya dan ketakutan ini itu sebagai seorang ibu pertama. Wajar jika kita ingin selalu memproteksi anak. Jika mungkin lingkungannya harus steril dari bahaya. Tak cukup begitu, mainnya juga harus ditegaskan. Ini boleh dan ini tidak.

Padahal jika terlalu banyak dilarang, maka selain ruang gerak dan pengalaman eksplorasi anak menjadi terbatas, dia cenderung akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri.

Sementara di tahun kedua anak, egonya sudah mulai bertumbuh. Ingin melakukan segala sesuatu sendiri. Terlebih jika anak termasuk tipe kepribadian sulit. Jadi, ketimbang melarang, jika tak terlalu bahaya lebih baik didampingi.

Anak akan merasa 'I'm in control.' Setiap dia merasa mampu melakukan suatu hal, itu akan menambah kepercayaan dirinya. Dan kepercayaannya kepada kita. Terlebih jika kita apresiasi. Dengan tepuk tangan atau pujian. Itu sudah cukup meriangkan hatinya dan meminimalisir kemungkinan tantrum yang juga sudah mulai di usia ini.

Soal bahaya, kita lebih tahu kemampuan anak kita. Jangan karena Ibu A bilang begini, lalu Tante B bilang begitu, kita terpengaruh dan mulai panik.

Mungkin saya yang terlalu woles, yang jelas kalau bisa, saya dan suami bertekad memberikan ruang eksplorasi seluas-luasnya pada Fayyadh dan adik-adiknya. Entah bagaimana di keluarga yang lain. Bagaimanapun, kita semua ada di tim yang sama, tim yang mencintai anak-anak kita. Meskipun dengan cara yang berbeda.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...