Coba cobalah
Bakpao yang halal
Bakpao M*ga J*ya
Enak rasanya
Halal loh!
Yang berdomisili di kota Solo, Jogja dan sekitarnya mungkin akan familiar dengan jingle ini. Jingle yang akan diputar terus lewat speaker yang dihubungkan ke sepeda motor atau gerobak. Sehingga orang akan tahu jika pedagang bakpao lewat.
Saking non stopnya setiap sore lewat di kompleks, kami jadi hafal. Jadi ada yang hilang jika satu sore pedagang bakpao, satee, kue putu, roti, dan bakso kuah tidak lewat. Semua punya ciri khas masing-masing.
Khusus Pak Bakpao, saya punya salah kepadanya. Pernah menaruh sangka buruk. Karena beberapa bulan lalu sering lewat di depan kontrakan pas jam Magrib. Si bapak nggak sholat ya? Pikir saya..
Padahal, saya tahu apa? Tetangga saja tak semua muslim. Kalau memang beliau non muslim, ya sah-sah saja mau berjualan di waktu sholat. Duh, saya malu sendiri.
Belum lagi jika diingat umurnya yang mungkin sudah dua kali lipat dari saya bahkan lebih. Tapi masih berjualan setiap hari. Dengan motor butut keluaran tahun 80an. Tak peduli hujan ataupun panas, beliau tetap berjualan.
Rasa malu itu semakin besar jika mengingat suatu sore saat mengajak Fayyadh jalan-jalan. Di gazebo ujung jalan saya menemukannya sedang tertidur pulas. Allah, entah dimana rumahnya. Sudah berapa lama ia keluar berjualan. Pantas jika kemarin dulu jika kami nongkrong di gazebo sore-sore si bapak tampak sering salah tingkah. Apa kami mengambil 'tempatnya beristirahat'?
Dan setelah sekian lama, baru kemarin sore saya berkesempatan membeli bakpaonya. Rasanya lumayan enak untuk ukuran harga Rp. 3000. Beliau melayani saya dengan sopan sekali. Khas santunnya Wong Solo.
Duh, saya makin merasa bersalah. Bagaimanapun, beliau ini seorang pekerja keras. Jauh lebih keras dari saya. Potret orang kecil yang tetap mau bekerja meskipun mungkin hasilnya tak seberapa.
Diluar sana, saya tak tahu. Mungkin istrinya begitu baik sehingga disayangi tetangga. Lalu anak-anaknya beberapa sudah merantau dan sukses. Tinggal seorang yang paling kecil masih SD, atau mungkin punya cucu yang ditinggalkan orang tuanya. Mungkin dan mungkin, atau dan atau.
Saya tak tahu. Itu poin utamanya. Jadi saya tak berhak menghakimi apapun. Setidaknya, jika tak bisa sering membantu, saya bisa mendoakan. Untuk kesehatannya, kelancaran rezekinya, dan segala yang baik baginya.
Karena doa yang baik, akan kembali pada yang berdoa. Sedangkan sangka yang buruk, walaupun benar jatuhnya ghibah, apalagi jika salah. Bisa saja menjadi fitnah.
Fitria
Yang masih harus belajar tentang sangka baik
#F25Store
#ammarkids
#kelascovertselling
Comments
Post a Comment