"Bu, tiang mau ikut pelatihan akupuntur. Biar ada skill lain yang bisa dibawa pulang selain ijasah. Biasanya enam bulan, kalau soal biaya belum tahu." Jelasku di telpon.
"Enam bulan?", tanya ibu.
"Iya.."
Dan hening. Untuk hampir semenit. Aku yang tak tahan kemudian mengalihkan pembicaraan. Sejenak jawaban ibu terdengar kaku, namun ketika topik kembali menyinggung adikku, tawanya terdengar kembali.
Selama ini aku selalu menganggap diri sebagai 'anak Mamiq', karena sifat dan pendapat yang hampir sama. Santai dan biarkan hidup mengalir. Tidak seperti ibu yang super sibuk dan mengkhawatirkan segala hal. Tetapi malam ini, aku sadar banyak hal yang ku warisi dari ibu.
Salah satunya manajemen kecewa. Layaknya perempuan lain di muka bumi, aku dan ibu suka bicara. Senang berbagi. Cerita yang sama bisa diulang-ulang dengan antusiasme yang tak berkurang. Namun ketika kecewa atau marah, kami berdua akan memilih diam. Diam mencerna semuanya, padahal dalam hati seakan ingin memporakporandakan segalanya.
Seperti malam ini. Dari awal ibu menginginkan aku pulang setelah selesai wisuda. Yaitu dua bulan lagi. Dan aku setuju. There is no point to make money but my parent are far away. Hatiku sudah terombang ambing lama di isu ini. Suatu waktu aku bulat meyakini, bakti kepada orang tuaku adalah yang utama, masa bodo dengan materi atau kedudukan. Dan sekarang aku kembali goyah, dengan alasan aku merasa jadi orang yang berguna di Denpasar. Di Rarang aku bisa apa? Bergaul dengan tetangga pun aku jarang. Disini kesibukan sepadat apapun akan menantiku, selama aku mau mengambil amanah.
Tetapi, siapa aku yang akan berani dengan sengaja mengecewakan kedua orangtuanya? Terutama ibuku? Hubunganku dengan ibu mungkin jauh dari sempurna. Dan aku bersyukur atas hal itu. Walaupun kami bukan sahabat yang selalu berbagi setiap suka dan duka, aku tak bisa membayangkan bagaimana jika cekcok dengannya. Alhamdulillah, selama ini aku merasa tak pernah bertengkar mulut dengan ibu. Apalagi sampai saling hujat dan berlangsung berhari-hari. Setiap hal itu akan terjadi, aku atau ibu akan menyingkir. Meredakan hati.
Aku ingat suatu pagi ketika aku ingin ke Mataram naik motor sendiri. Aku sudah mampu. For Allah's sake I have my license. Tetapi ibu ngotot menitipkanku pada Ojan, dengan alasan tujuan kami sama. Akhirnya kekesalanku memuncak. Hape mati tergeletak di kamar dan ku tinggalkan rumah tanpa pamit. Berjalan kaki sampai di jalan besar, aku menyetop metromini dan pergi ke rumah Dayah, dua kilometer saja dari rumah. Disana aku menangis sampai tertidur. Beruntung Inaq tak bertanya macam-macam. Sampai menjelang Ashar aku baru pulang. Tak langsung ke rumah, ku putuskan mampir ke rumah bibi. Beliau bercerita, seharian ibu dibonceng Ojan mencariku kesana kemari. Duh, rasa bersalahku menggunung.
Mengumpulkan keberanian, aku akhirnya pulang. Dalam perjalanan ku siapkan diri untuk mendengar omelan ibu. Tapi sesampainya di rumah. Ibu tak berkata apa-apa. Pun tentang ia menelpon Ojan dan merepotkannya untuk mencariku. Sampai hari ini. Ibu hanya menyuruhku makan lalu masuk ke tempat tidur. Tidak ada omelan atau permintaan maaf. Hari itu berlalu dan keesokan harinya aku pergi ke Mataram mengendarai motor sendiri. "Pokoknya tetap di belakang Aa' sama Ojan. Jangan ngebut-ngebut.", begitu pesannya. Apapun, yang penting aku mengendarai motor sendiri. Tersenyum girang aku mencium tangan ibu dan berpamitan.
Begitulah, jarang sekali kami berbicara dari hati ke hati. Benar-benar menyebutkan suatu topik. Keinginan kadang disampaikan dengan canda atau dikiaskan dengan hal lain. Walaupun demikian, kami saling memahami. Hal-hal kecil tentang cerita ibu banyak ku dengar dari bibi-bibi. Atau saat ibu tak sengaja membicarakannya.
Ibu jarang memuji. Ibu susah mengagumi. Tetapi kedatangannya dinanti-nanti banyak orang. She is special in some ways. Hari ketika ibu menyebutku cantik bisa dihitung dengan jari. Salah satunya ketika aku mencoba kebaya pinjaman untuk wisudaku. Dan aku takkan mengeluh soal itu. Departemen puji memuji adalah bagian Mamiq.
Tangis ibu kelemahanku. Beliau jarang menangis kecuali jika benar-benar merasa sedih atau tersakiti. Momen itu tak sedikit. Dan aku tak ingin menambahnya, tidak jika aku bisa mencegahnya.
Menulis soal ibu bisa melahirkan satu buku. Bahkan lebih. Maka dari itu aku sering tak bisa menulis tentangnya. Takut tak cukup baik untuk mendeskripsikan. Esok, aku tak tahu akan menulis lagi atau tidak. Yang jelas malam ini, aku ingin menulis sebentuk kekaguman padanya. Ya, anak mana yang tak mengagumi ibunya? Terlebih lagi, mencintainya? Tanpa perlu polesan apapun, ia telah jadi yang terbaik.
Semoga akupun, segera bisa meraih kemuliaan itu. Dicintai dan mencintai, tanpa syarat apapun.
Comments
Post a Comment