Skip to main content

Yudisium: A little late realization

"Udah selese Mbak yudisiumnya? Peringkat berapa?"

Pertanyaan ini sangat wajar akan terlontar dari mereka yang mengenalku. Tepatnya, mengenal aku sebelum menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Ketika kemudian ku jawab 'Biasa saja' dan dengan nilai yang standar, ku baca raut ketidakpercayaan di wajah Puji. Dan sedikit kekecewaan. Kemudian ia segera menutupinya dan berucap "Alhamdulillah."

Namun bukan Puji namanya jika ia selesai dengan satu pertanyaan. Rupanya ia sekarang tertarik membahas persiapan wisuda.
"Sudah jahit kebaya Mbak?", tanyanya.
"Nggak, nanti pinjem punya teman saja." Kali ini dia tidak repot-repot menyembunyikan keterkejutannya.
"Tapi Mbak, ini loh wisuda S.Kep.Ns!" Sergahnya.
"Terus?" Aku menahan keinginan untuk memutar bola mata.
"Sepertinya Mbak kok nggak ada greget-gregetnya gitu untuk persiapan. Padahal ini loh bersejarah." Dia kemudian menghela napas.

Ya, ku akui. Memang tidak ada keinginan khusus untuk menyambut yudisium, wisuda, atau apalah namanya itu. Jika bisa, aku malah ingin melewatkan semua itu. Entahlah, semakin kesini, keinginan untuk selebrasi-selebrasi itu semakin menumpul. Aku merasa, semua itu tak lebih dari sekedar topeng. Tentang siapa yang paling tinggi nilainya, paling cantik riasannya, paling mahal kebayanya, paling terbaik keluarganya.

I sound bitter, I knew. Much to my misery, I've found that I've been more hopeless in human day after day. Apalagi teman-teman kuliah. Yeah we'll go have fun and all, but what's the point? Aku toh tak pernah terlalu akrab dengan mereka, paling selebrasi hanya akan dipenuhi dengan aksi selfie atau groupie. Jadi aku cepat-cepat keluar dari ruang teater, dengan dalih ada teman menunggu di rumah. Padahal aku yakin Puji tak akan berkomentar sepatah katapun jika aku pulang satu jam lebih lama. Aku hanya tak ingin terjebak dalam selebrasi semu.

Di mataku, aku hanya bisa melihat kesalahan dan kekeliruan yang ku buat selama menjalani pendidikan. Aku tak ingin munafik. Banyak kesalahan yang aku buat, parahnya secara sadar, selama menjalani proses belajar ini. Jujur aku tak terlalu bangga menjalaninya. Meskipun demikian, aku tetap syok mendengar nilaiku yang sungguh-singguh standar. Everybody can get it. Not me. Not Baiq Fitria Suryani. But I'm no longer that person anymore. I mean yes, marks are important. But not everything. The most important thing for me is, I knew I can get more if I fight for it, but sadly or fortunately (I can't decided yet), I didn't do it. Sejak disini, kuliah adalah prioritas kedua. Pekerjaan dan pengalaman, itu yang ku kejar. Syukurlah nilaiku cukup sesuai dengan usahaku. Aku tahu aku tak pantas mendapat nilai yang sempurna karena ikhtiarku jauh dari itu. Dalam hati aku hanya bisa berdoa, ibu menerima semua itu.

Walaupun demikian banyak sekali hikmah yang bisa aku petik. Tentang kesabaran, tentang baik sangka, tentang penerimaan, tentang rendah hati, tentang kefanaan. Rata-rata teman kuliahku hanya berorientasi pekerjaan mapan dan gaji besar. Sementara aku sudah tak berpikir ke arah sana. Ya, aku dulu ingin menjadi dosen pintar di kampus ternama, kritis namun sikagumi mahasiswa, apalah-apalah. Tapi tidak, cita-citaku mulai bergeser. Aku tak lagi berharap demikian. Sekarang hariku hanya dipenuhi oleh 'kapan baksos lagi?' Atau cara membantu orang sebanyak-banyaknya. Kalaupun aku harus memakai seragam, itu adalah seragam rescue atau relawan emergency.

Seseserhana itu ku ingin hidupku. Bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya manusia. Dan tidak terkekang birokrasi. Bisakah? Aku yakin bisa. When there's a will, there's a way. Inginku terlalu banyak dan entah kenapa aku belum yakin aku bisa melakukannya jika aku harus 'terjebak' di lingkungan rumah sakit.

Contoh sederhananya, keinginanku untuk membangun keluarga. Aku tak punya pengalaman, tetapi aku meyakini cara untuk menjadi istri dan ibu terbaik adalah pertama dengan cara totalitas. Sepenuhnya mengabdikan diri untuk itu. Jikapun harus bekerja, aku ingin bisa bekerja dari rumah. Sambil menjaga diri, harta suami, dan calon anak-anakku. Entahlah, pendidikan yang ku emban aku rasa hanyalah sebagai modal awal untuk itu.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...