Dari pertama melihat covernya, aku sudah tertarik. Wajah tanpa make up dan senyum yang sangat menenangkan, I'm glad to meet her someday. Beberapa kali berputar-putar mencari buku yang lain, aku akhirnya kembali mencarinya. Entahlah, seperti ada magnet uang menarikku. Dan untuk urusan seperti ini, ku percaya pada instingku. Aku tidak akan kecewa, insya Allah.
Dan kalimat pembuka ini yang membuatku semakin ingin berteriak 'Eureka!'
See? Entahlah, apa memang Miyuki terlalu polos atau memang penerjemah buku ini yang ingin memproyeksikannya seperti itu. Yang jelas buku ini berhasil mengaduk-aduk perasaanku. Aku belum selesai membacanya tetapi dari halaman pertama aku sudah diajak berkaca, ditampar, dibuat malu, diajak menangis, dan digelitik sampai terkekeh. She's really something! Cara menulisnya sangat jujur. Tidak perlu kata-kata mutiara atau skill menulis setinggi langit. Sepertinya dia hanya menuliskan apa yang ada dipikirannya dan boom! Pembaca tersihir dan tak sabar membacanya sampai akhir. Meskipun aku sedikit enggan. Karena sekali lagi, kamu tahu buku yang kamu baca itu bagus jika kamu sudah sampai di halaman terakhir, dan kamu merasa seperti akan kehilangan sahabat karib.
Buku ini juga tidak menuliskan segala sesuatu yang baik tanpa meninggalkan emosi buruknya. Semua ditulis, tetapi pelajarannya tetap ada.
Aku akui aku kalap tadi, sampai mesti minjem duit karena bodohnya lupa ngambil di atm. Melepasku ke book fair sama saja seperti melepas pencuri ke brankar harta. Mau tak mau akan kalap melihat tumpukkannya. Tapi pencuri yang berakal, ia takkan sembarang mengambil benda. Harta yang ia ambil haruslah berharga dan tak terlalu membebaninya. Dan alhamdulillah, dengan uang 120rb sore ini aku berhasil membawa pulang 8 buah buku, yang insya Allah akan bermanfaat.
Bukan untukku, untuk calon perpustakaanku. Yang entah kapan Allah akan kabulkan untuk ku wujudkan. Ini kesempatan baik yang tidak datang setiap hari. Aku tahu mungkin akan kesulitan di akhir bulan, dengan pengeluaran yang serba tak pasti. Tetapi aku berjanji akan berhemat. Puasa dan sebagainya. Dan apa yang bisa aku lakukan selain menabung untuk akhiratku? Salah satunya dengan investasi pada buku. Aku sadar amalku biasa-biasa saja, pengetahuan agamaku terbatas, aktivitas dakwahku nol, tidak jatuh maksiat saja sudah syukur. Maka dari itu, aku ingin melakukan apa yang bisa ku lakukan, meskipun itu kecil.
Karena aku tak tahu kapan detik akan terhenti. Seperti Akh Salman sore ini. Meninggal karena Ca Paru. Masya Allah, dengan sakit seperti itu ia masih mampu jadi aktivis kampus. Bertemu beberapa kali, orangnya humble dan disayangi rekan-rekannya. Ah, selalu merinding jika orang baik yang pergi. Di ummul yaum pula, hari terbaik. Doa datang dari segala penjuru, bahkan yang tidak mengenalnya secara dekat. Semoga beliau husnul khotimah dan termasuk mati syahid. Aamiin Yaa Rabb.
Aku iri. Bagaimanakah kepergianku nanti? Its only a matter of time. Karena itu aku ingin bersiap, sebaik-baiknya yang ku bisa, meskipun sedikit. Ku harap istiqomah.
Comments
Post a Comment