Skip to main content

Perawat Itu...


“Perawat itu dibawahnya dokter ya Mbak?” Tanya pasienku sore itu.

Tersenyum, aku berusaha menjawab:

“Dulunya begitu Pak.”

“Maksudnya bagaimana Mbak?” rupanya beliau meminta penjelasan lebih.

“Begini Pak..”

“Mbak Fitri, ini pasiennya mau suntik KB 3 bulan.”
Dan jawabanku terpotong tindakan yang harus aku lakukan.

Seringkali demikian, profesi kami-yang bahkan oleh beberapa dosenku dipandang pesimis-sebagai profesi abu-abu. Ada, jumlahnya bahkan paling banyak di antara tenaga kesehatan lain. Tetapi pekerjaan dan wewenangnya belum jelas. Apakah benar dibawah dokter? Atau setara seperti yang diungkapkan teori? Lalu apa bedanya dengan bidan? Dan apakah perawat boleh berpraktek mandiri? Tak kunjung disahkannya RUU Keperawatan membuat pertanyaan-pertanyan tersebut tidak bisa terjawab dengan pasti.

“Mbak, dirimu merasa nggak sih kalo kita ini pembantunya dokter?” di lain waktu aku bertanya pada seorang teman.

“Nggak. Dokter itu partner kita. Aku punya jobdesk sendiri, begitu juga dokter. Aku hanya melakukan apa  yang ada di jobdesk-ku. Jika ada hal-hal lain tentunya aku kembaliin ke yang punya kerjaan, kecuali jika mereka ga bisa dan dilimpahin ke aku itu lain soal.” Jawabnya.

“Tapi kebanyakan orang nggak gitu ngeliatnya Mbak.” Argumen lain coba ku bangun.

“Sebenarnya, kita ini bukan pembantunya dokter, tapi pembantunya pasien. Ayok ajah, klo lukanya kotor kita yang rawat. Infusnya macet kita yang benerin. Kalo g bisa mandi kita juga yang mandiin. Dengan dokter kita kerjasama gimana agar mereka bisa cepet sembuh. Gitu kan?”

Aku bungkam. Jawaban itu lebih dari cukup. Karena apapun sebutan dan jabatannya, semua tenaga kesehatan bertujuan untuk membantu pasien. Agar mereka yang sehat tidak sampai sakit, yang sakit dapat segera sembuh, yang belum bisa segera sembuh tidak sampai cacat, yang cacat tidak bertambah kecacatannya, dan yang terlanjur cacat agar bisa menerima kekurangannya namun tetap bisa hidup optimal.
Karena perawat adalah profesi yang mulia. Dan itu tak harus berarti mulia di hadapan seluruh manusia. Bisa saja orang menganggap rendah. Tapi aku percaya jika dilakukan dengan ikhlas Langit kan mencatatnya dengan berbeda. Lagipula, tergantung pada ‘siapa’ kita bekerja. Jika orientasi kita untuk menyenangkan atasan, tentunya tak akan pernah cukup pelbagai hal yang kita lakukan. Tetapi jika pekerjaan itu dilakukan untuk menyenangkan Allah, maka siapa yang perlu anggapan manusia?

Do your best, and Allah will do the rest.

Comments

  1. yah, pekerjaanya dek fitria ini sangat mulia... sehingga orang2 sulit mendeskripsikannya... Teruslah bekerja karena Allah dek... Keren...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe.. Iya kak alhamdulillah udah sadar sekarang, doain ya semoga istiqomah n bisa jadi perawat yang bermanfaat bagi banyak orang..

      Delete
  2. Keren kk.....
    SEMANGAT !!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha..
      Iya dek, in shaa Allah selalu dipompa :D

      Delete

Post a Comment