"Mbak Fitri bisa tidur dengan kasur kayak gini?" Tanya Usi suatu sore. Sambil melirik kasurku yang tipis, tepatnya menipis, dengan pegas dan busa yang sudah keluar disana sini, belum lagi warna yang sudah tak menyisakan warna aslinya. Kasur lungsuran dari Meme untuk ku pakai tidur di Denpasar.
Sejujurnya, tak pernah sebelum ini aku berpikir untuk mengganti barang-barang di kos. Aku selalu berpikir bahwa aku di Denpasar hanya untuk sementara. Jadi buat apa repot-repot membeli banyak barang jika pada akhirnya tak akan terpakai? Yang terpenting sebenarnya, aku merasa cukup dengan semuanya. Tak ada yang harus ditambah.
Perasaan cukup ini mulai goyah ketika Allah memberikan kelebihan rezeki di rekeningku. Rezeki yang dititipkan lewat tangan Mamiq. Kemudian menguat setelah aku merasakan kamar yang nyaman di Bangli. Aku sebenarnya boleh kan menikmati hal yang lebih baik? Kasur yang empuk, lemari yang luas, kipas angin, rak buku.
Tapi rekruitmen KNRP dan kepergian Pak Yudha, yang kemudian disusul beberapa artis kembali menghempaskanku ke bumi. Bahwa kita memang hanya sekejap di dunia ini. Segala sesuatu yang teratur dapat porak poranda dalam hitungan detik, hanya karena berubahnya satu sel atau digit angka. Kematian itu pasti datang, tak ada yang bisa dan sanggup untuk menghindar.
Seperti Olga, menurutku dia-dan dunia keartisan-adalah sempurna mewakili gambaran dunia. Indah, gemerlap, dikejar dan dicintai banyak orang. Namun rapuh, dan kosong pada akhirnya. Setinggi dan sesukses apapun, jika Allah berkehendak mengambil segalanya, tak ada yang bisa kita lakukan untuk menahannya.
KNRP, mengajarkanku bahwa beribu kilometer disana, ada saudara-saudaraku. Ya, aku sangat bangga bisa menyebut mereka sebagai saudara, meskipun aku sangatlah jauh dari mereka, dalam hal agama. Tapi jika disebut umat Islam sejati, mau tak mau pikiranku langsung mengarah pada mereka. Di mataku, merekalah cerminan mukmin sejati. Yang menjadikan Allah tujuan utamanya. Dalam hati, perkataan, dan perbuatan. Dengan sebenar-benarnya. Tak seperti aku yang hanya pintar berteori. Mereka para pengejar syahid, dan tak peduli lagi dengan indahnya dunia. Memikul tanggung jawab menjaga Al Aqsha, menunggu kami bangun dari tidur panjang. 'Pasukan Cahaya', begitu Coach Gunawan menyebut kami saat itu. Aku hampir lari saat itu, karena sadar aku begitu kotor untuk dapat memberikan cahaya untuk orang lain. Heck, I even can't guide myself all the time. Allah tahu betapa ingin aku menjadi bagian dari mereka, orang-orang yang mau bangkit dan percaya bahwa 'alaihassubhu bi qoriib?', fajar itu sudah dekat. Dan pertolongan Allah akan datang. Absolutely. Tapi aku merasa tak layak, benar-benar tak layak.
Dan Pak Yudhatama, aku tak mengenal beliau secara dekat. Tapi cukuplah kehilangan orang-orang di sekitarku dan kepergian beliau di hari Jumat, serta pemakaman yang dimudahkan, membuatku mau tak mau memikirkan seperti apa aku ingin pergi nanti. Aku tak sehebat beliau. Tak seujung kukupun mendekati. Dan nilai silaturahimku nol besar. Selama ini aku hanya bisa berdoa namun dengan ikhtiar yang minimal. Bagaimana Allah akan mengabulkan?
Pada hakikatnya, semua ketidaknyamanan yang ku rasakan adalah kesalahanku sendiri. Semua kamar sama adanya, hanya bagaimana kita memainkan sabar dan syukur, dan sedikit manajemen ruangan. Mungkin disana aku harus mencari lagi. Terakhir, hanya ini yang bisa ku lakukan untuk tidak membiasakan diri jika semua mesti yang terbaik. Jutaan orang diluar sana tak memiliki tempat untuk tinggal, dan selimut untuk menghalau dingin. Aku tak punya apapun untuk membantu, tapi setidaknya aku bisa memahami sebagian apa yang mereka alami.
We all will coming home, absolutely. Peerku sekarang, bagaimana aku bisa meraih husnul khotimah? Sementara kebiasaanku masih sulit unyuk dirubah. Tapi aku tidak akan menyerah, tidak kemarin, tidak juga hari ini. Aku bisa berubah, dan akan berubah. Segera.
Mulai dengan besok, aku insya Allah akan menghadiri rapat KNRP. Bukan untuk siapapun, tapi untukku memperbaiki diri dan menghidupkan hati. Karena seperti kata Bang Lubis, bukan kesehatan dan kesempatan apalagi kebetulan yang membuat kami melangkahkan kaki ke Hotel Harris hari itu, tapi kehendak Allah. Ia memilih kami karena yakin kami mampu. Dan tugasku sekarang, menumbuhkan kepercayaan bahwa aku benar-benar mampu.
Aku mampu lebih baik, dan mampu berusaha untuk menyiapkan perjalanan bertemu denganNya dengan lebih giat lagi. Mampukan aku Yaa Rabb..
Comments
Post a Comment