Skip to main content

Denfest dan Pendekar Barong Putih

Sore itu, menepati janji dengan Mak Tiri a.k.a dr. Rini Trisnowati, aku berangkat menuju lokasi Denpasar Festival 7. Biasanya aku akan mengambil jalur Hasanudin-Setiabudi-Gajah Mada, salah satu pintu masuk ada disana. Tetapi bukannya belok kiri di perempatan Diponegoro, aku belok kanan menuju Jalan Udayana. Niatnya biar nggak kena macetnya Gajah Mada, tapi malah langsung disambut nyemutnya manusia. Butuh 10 menit untuk lewat jalan yang normalnya kurang dari semenit. Parkir pun semrawut, Pak Pol sampai marah-marah. 'Padahal baru hari pertama,' pikirku. Atau jangan-jangan memang karena hari pertama?

Setelah berjuang mencari spot parkir, akhirnya aku memutuskan parkir di depan sebuah mobil. Mepet, dan menutup beberapa motor di depanku. Menegok kanan kiri, situasinya tak jauh lebih baik. Mengingatkan diri kalau aku hanya akan satu jam disini, aku menegakan hati. Ku lirik jam di hape, 17.06 wita. Telat 6 menit dari janji. Belum lagi aku harus mencari
Mak Tiri di antara lautan manusia. Memasuki kawasan Lapangan Puputan, sudah terlihat rombongan yang akan tampil. Ada kelompok cheersleader, para penari barong, drumband, anak-anak SD dengan baju adat, tapi satu hal yang membuat sama. Topeng. Ya, pembukaan Denfest kali ini memang akan dimeriahkan dengan pawai 1000 topeng. Manifest dari banyaknya suku yang berdiam dan mengadu nasib di Kota Denpasar.

Untuk menghemat waktu, ku telpon si Mak. Sekali, dua kali, tiga kali. Tak ada jawaban. Menyerah, ku bbm. Tak terkirim. Baiklah, menghela napas aku berjalan menuju Patung Catur Muka. Try to find jilbab bunga-bunga biru si Mak, dia bilang bakal pake baju kemarin. Hehe.. Langkahku beberapa kali terhenti ketika melihat tingkah polah para peserta pawai. Banyak yang selfie, diminta berfoto bareng, dan lebih banyak lagi yang kipas-kipas :-). Namun ada seorang peserta yang menarik perhatianku. Seorang pemain drumband yang memakai kostum barong putih. Melepas topengnya, ia tampak seperti pendekar silat. Sosoknya mengingatkanku pada tokoh Respati, Patih Majapahit di novel Tasaro. Kupikir, ia bisa memerankan Respati jika novel itu diangkat ke layar lebar. Entah kenapa seperti ada magnet yang menarikku untuk terus memperhatikannya. Karisma, pikirku. Tak ingin terhanyut, ku percepat langkah. Mak akhirnya mengirim sms, dia ada di panggung. Anehnya setiap langkahku terasa lebih berat dari sebelumnya. Tahu kan perasaan kayak ada orang yang ngeliatin dari belakang? Merinding, aku menelpon si Mak. Ternyata dia ada di ujung Gajah Mada sana. Lupakan Pendekar Barong Putih, here's the fun begin.

Tak sampai 5 menit, ku temukan si Mak. Berdiri di ujung jalan dengan trade mark khasnya, jilbab panjang, rok jeans, ransel coklat muda, dan sandal Wiro Sableng. Setelah mengomel selama satu menit bagaimana dia capek nunggu di dekat panggung (yang bahkan bukan panggung utama, yang nyanyi juga kagak ada), aku diseretnya ke tempat yang disebutnya sebagai spot-foto-yang-bagus-karena-mirip-karpet-merah-buat-oscar.

Haik..haiiiiik.. And one..two..three.. berposelah kami disitu. Untungnya ga banyak orang yang lalu lalang. The spot is free to us. Puas fotoan disitu, kami masuk area Denfest. Pengennya sih kulineran, tapi alamaaaak.. kagak ada satupun stand yang bertuliskan halal. Padahal banyak makanan yang menggoda jiwa. Hiks.. hiks.. Akhirnya, kami menyerah dan hanya komen-komen sambil melangkahkan kaki ke area Lapangan Puputan. Aku ngotot ada stand 'Nasi-Jinggo-yang-tulisannya-100%-halal' disitu. Si Mak misuh-misuh harus menerobos lautan manusia. Sori Mak, gue emang rese kalo laper. Qiqiqi.. Setelah berkali-kali terpisah dari Mak, puluhan tetes keringat berjatuhan, ratusan manusia terlewati, sampailah kami di stand yang saya maksudkan. Dan tadaaaa, tulisannya berganti jadi Nasi Jinggo 100% haram!!! Huaaaa.. Si Mak ketawa sekate-katenya. Huhuhu.... terus aku makan apa? #ElusElusPerut.

"Eh Rin, sama siapa?" Sebuah suara mengeluarkanku dari samudera kekecewaan #halah.
"Eh Mbak, ini sama teman." Sumringah si Mak menjawab, lalu cipika cipiki dengan si Ibu berjilbab. I start to feel like outsider, minus tapping foot.

"Ngapain?" Mak bertanya.
"Ini jualan. Kemarin sudah habis 10 kilo." Nah, sekarang giliran wajahku yang berbinar-binar kek lampu 100 megawatt. Gimana nggak? Si Ibu berjilbab ternyata jualan sate sodara-sodara, tapi memang satu stand dengan penjual Nasi Jinggo 100% haram. Iyuuuh.

"Halal kan nih?" Mak nanya lagi.
"Iyalah, emang kurang gue jadi jaminannya?" Ibu berjilbab temannya Mak ini (gue lupa namanya) ternyata anggota MUI Bali. Dan bertanggungjawab mengeluarkan sertifikat halal. Hmmm.. gue syuka gaya loe Bu!

Dan akhirnya, daku berhasil makan enak di Denfest. Setelah 2 tahun hanya berani makan eskrim. Satenya maknyos, sate lilit n ayam. Tadinya mau nambah, tapi ga enak sama Mak. Beliau ga makan soale. Udah kenyang katanya. Tumben. Akhirnya setelah sateku habis kita pamit en
lanjut jeje. Dan berpose di spot-spot menarik. Tak lama kamipun berpisah, magrib sebentar lagi. Dan dengan segala kemacetan masjid terdekat jaraknya jadi 10 menit perjalanan.

Menuju ke tempat parkir, aku mesti lewat tempat tadi lagi. Dan secara otomatis, mataku tertuju pada satu titik. Tim drumband Pendekar Barong Putih. Hoho.. Terlihat beberapa orang warga minta berfoto bersama mereka. Tak tahu apa yang merasukiku, kakiku sukses melangkah ke arah mereka. Dan tanganku mengulurkan tab ke bapak yang sedang mengambil foto anaknya.

"Pak, saya minta tolong fotoin juga yaa?" Pintaku.

Sukses berpose dua kali, si bapak kemudian menyerahkan kembali tabku. Lalu setelah berterimakasih pada si bapak dan grup drumband, aku berlalu.

Ku hiraukan perasaan dipandangi, dan hati yang berdetak kencang. After all, I'm sure the feeling is mutual. A feeling called intrigued. Just like everyone when they see something interesting. Maybe this one that teenagers gushing about feeling at the first time. Unfortunately, I'm not teenager anymore. Haha..

Smiling, I'm heading to masjid. Yeah, I've experienced a nice feeling in that moment. And just a moment.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...