Skip to main content

Matur Tampi Asih Mr. One Pack

"Sebenarne masalahne non side Pieq. Makat de ngene laloq nane? Padahal laeq pas SMA mokoh de. Makat nane sampe tulang pipi masuk? Epe jaq masalahde?" Pertanyaan Mr. One Pack alias Lalu Kesuwu terus terang cukup membuatku tertegun. Tak pernah ada yang sefrontal itu langsung bertanya pertanyaan yang aku sendiri masih menduga jawabannya.
But again, he is Kesuwu. My best friend since we are teenagers. Sebebas aku ngolok dia, sebebas itu pula dia mengungkapkan bahan pikirannya tentangku.
Tapi bukan aku jika tak bisa menjawab, dan dalam hal ini mengelak.
"Kalaupun ada masalah, tiang ga akan bilang."
Mungkin aku keliru, tapi sekelebat ada pancaran kecewa di matanya. Atau mungkin itu keterkejutan. Entahlah, itu hanya sekejap dan langsung berganti dengan sinar mata yang penuh senyum seperti biasa. Dan dia langsung pamit karena ku usir, literally.

Ampure meton, dengan lamanya persahabatan kita mestinya side tahu tiang bukan tipe pencerita masalah pribadi. I'll be glad to hear anyone story, but I rarely want to be the storyteller itself. Cukup Allah yang tahu.

Eniwe terimakasih sudah bertanya. Dengan begitu aku tahu masih ada yang peduli. Dan pertanyaan itu sendiri, malam ini membuatku berkonfrontasi dengan diriku sendiri. Apa sebenarnya masalahku? Mudah-mudahan di akhir malam, aku bisa menemukan jawabannya. Dan mengevaluasi segalanya.

Hidup harus bergerak maju kan? Apapun masalahku, tak akan jadi beban jika aku mau berbagi. Dengan siapapun itu. Tapi maaf, mungkin tidak dengan semua orang. Aku jadi mikir, sebenarnya mungkin tujuan Kesuwu berkunjung malam ini bukan semata ingin konsul tumpukan lemak di perut, tapi untuk menginterogasiku. Haha.. you won't successed bro, not under these sircumtances. But thank you for try, and never give up on me. Never change either. And for always make me laugh, a lot.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...