Skip to main content

Menantang Diri Untuk Kebaikan

#30DWC

Apa itu #30DWC? Yang menyempatkan diri baca status saya akhir-akhir ini sampai titik darah penghabisan mesti ngeh dengan tagar ini. #sokngartismodeon. Selalu saya tuliskan di akhir disertai #DAYBERAPA. Meskipun tidak ada yang repot-repot bertanya, saya mau ceritakan 😀 *koor sak karepmu ae terdengar di belakang.

Jadi, 30DWC adalah singkatan dari 30 Days Writing Challenge. Jadi tantangan menulis selama 30 hari nonstop. Tantangan ini lewat di Instagram (ya, saya punya @fitriasulaiman tapi benar-benar cuman jadi silent reader) dan entah mengapa nge-klik gitu di hati. Tanpa membuang waktu saya meminta izin suami apa boleh ikut atau tidak. Saya butuh dukungan dan ditransferkan uang pendaftaran 😂

Wait, tantangan kok berbayar? Iya, karena ini bukan hanya tantangan. Tetapi ada kelas online-nya sekian kali. Juga ada feedback dari mentor yang sudah mumpuni di bidang kepenulisan dan sesama fighter yang menerima tantangan ini.

Kelas dimulai tanggal 20 Oktober 2018. Waktu itu tepat 11 hari kami kembali ke Solo. Fayyadh masih rewel dan tak mau ditinggal. Kerjaan rumah keteteran. Abah Fayyadh seringkali terlambat berangkat kerja karena membantu saya di pagi hari. Proses adaptasi yang hectic jujur membuat saya pesimis bisa melewati tantangan ini atau tidak.

Tapi ternyata, sekarang sudah hari ke-30 and hey, look where I am. I did it! *nyalain kembang api

"Apa susahnya? Kamu kan sudah biasa bikin koran di Facebook?" Tanya si Julidin.

Well, sebiasa-sebiasanya saya, ada yang dinamakan moodswing dan kerempongan emak baru yang cuman tinggal bertiga dengan suami dan bayinya. Belum lagi jika ide sudah buntu mau nulis apa. Mencuri waktu untuk menulis juga menjadi tantangan tersendiri.

Suami, yang sejak awal sangat mendukung juga sempat kesal. Karena saya begitu sibuk dengan ponsel dan mengabaikan hal-hal penting lainnya. Untunglah kami tak sampai cekcok. Meskipun akhirnya saya jadi tidak menulis di hari itu demi menebus dosa 😅.

Tunggu dulu, sibuk dengan ponsel? Iya, karena selama ini saya hanya menulis di ponsel. Membuka laptop dengan bayi tiga bulan yang menempel hampir sepanjang hari bukan langkah yang praktis. Sebaliknya menulis di ponsel bisa saya lakukan sambil menyusui Fayyadh.  Meskipun hasil tulisannya tidak bisa serapi menulis di laptop karena keterbatasan fitur. Itu saja sudah sudah kayak sinetron stripping. Bersambung terus.

Ada ide ketik. Lagi seru-serunya nulis bocahnya bangun minta jalan-jalan. Ulur waktu sebentar untuk save konsep bocahnya sudah nangis kejer. Apalagi kalau ditambah ngecas baterai ponsel yang sudah sekarat. Nangis kejernya naik beberapa oktaf kayak bayi yang disiksa lahir batin. Untung tidak ada tetangga yang tergopoh-gopoh datang komplain 😂

Mencari ide untuk ditulis ternyata tak sesulit yang saya bayangkan. Jika sudah buntu, saya akan ubek-ubek blog. Ternyata lumayan banyak draft yang sudah saya tulis tapi tak diselesaikan. Alasannya karena mendadak hilang mood atau kesempatan menulis.

Kebanyakan yang saya tulis adalah tentang perjalanan menjadi ibu. Begitu banyak keresahan dan kekecewaan yang saya alami. Daripada mengendap di alam bawah sadar dan berpotensi mengganggu kedamaian di atas dunia, saya tuangkan semua dalam tulisan.

Ternyata, saya tak sendirian. Banyak sekali perempuan diluar sana merasakan hal yang sama. Banyak komentar yang menguatkan. Tak sedikit yang berbagi kisah. Bahkan beberapa bisa saling berbagi tips seputar perawatan bayi dan parenting. Duh, saya bahagia sekali. Merasa bisa menjadi jalan untuk orang lain mendapat solusi atas masalahnya. Alhamdulillah.

Ada satu postingan tentang susu ibu hamil yang ditanggapi banyak orang. Komentar membanjir sehingga tak bisa saya tanggapi semua. Sedihnya, banyak komentar negatif. Dibilang salah judul,  menyesatkan, tidak mengerti kondisi orang lain, sampai dituduh menyebar hoax. Hiks.. saya baper.

Baru gitu aja saya sempat tidak berani buka kolom komentar. Apa kabar artis-artis ya? Sekarang saya baru mengerti mengapa mereka bisa ngamuk-ngamuk 'hanya' karena komentar julid di postingannya.

Suami yang menyarankan tidak usah diladeni semua. Tetapi saya sempatkan. Karena ternyata banyak juga yang bertanya dan sayang jika tidak dijawab padahal saya tahu jawabannya. Setelah saya perhatikan, kebanyakan netizen yang julid tidak membaca postingan saya secara keseluruhan. Melainkan hanya fokus di gambarnya. Gambar itu saya ambil di Tirto.id pada artikel yang juga menjelaskan bahwa susu khusus ibu hamil tidak perlu diminum jika gizi sudah terpenuhi.

Tulisan saya biasanya menggabungkan antara pengalaman dan teori. Karena masih belajar, tentu saja masih banyak kekurangan disana-sini. Wajar jika banyak yang menyalahkan.

Apa yang terjadi di pekan kedua #30DWC membuat saya lebih berhati-hati lagi dalam menulis. Bukan semata untuk menghindari kejulidan netizen, tetapi karena itu juga akan saya pertanggung jawabkan. Kalau sudah dasarnya julid mah, benar saja bisa disalahkan apalagi yang jelas-jelas salah?

Tak hanya netizen julid, #30DWC juga mempertemukan saya dengan teman-teman yang positif. Dari yang baru suka menulis sampai yang sudah menerbitkan beberapa buku. Semua semangat belajar bersama dan saling berbagi pengetahuan di bidang kepenulisan. Semangat yang juga menular pada saya. Semoga demikian juga dengan bagian 'menerbitkan beberapa buku'. Aamiin.

Tantangan ini sudah masuk di jilid 15 dan akan terus ada setiap bulan. Recommended sekali untuk yang mau konsisten menulis. Saya sendiri ingin ikut kembali, tetapi mungkin tidak langsung di jilid 16. Itu sekarang, nggak tahu kalau besok 😂

Karena saya hanya selesai di tantangan menulis saja. Padahal banyak tantangan dan materi lain tetapi belum bisa saya ikuti secara maksimal. Akhir kata, terimakasih kepada para mentor yang sudah menginisiasi tantangan ini. Juga fighter-fighter keren yang memberi banyak ilmu. Semoga Allah memberi balasan yang jauh lebih baik atas semua kebaikan. Dan mudahkan kita untuk konsisten menulis kebaikan. Aamiin.

Semangat menulis!

Fitria

Fighter Squad 10

#30DWC
#30DWCJILID15
#DAY30
#SQUAD10
#TENTANGDWC

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...