Skip to main content

Orang Dewasa: Mendongenglah!

Salman. Nama itu diam-diam saya simpan dalam-dalam di lubuk hati. Sejak pertama kali mendengarnya di usia sekolah dasar (SD). Nama yang terdengar keren, gagah, dan pintar. Sepintar sosok Salman Al Farisi yang diceritakan Mamiq (ayah) di malam bercerita.

Jadi, sewaktu SD kami-saya dan empat orang teman-mengaji di ruang tamu setelah Magrib. Berlima kami akan mengelilingi ruang sempit di antara sofa coklat kotak-kotak dan meja persegi panjang. Mamiq sendiri duduk di satu sofa yang menghadap ke pintu. Yang paling istimewa dari malam mengaji kami adalah malam Ahad, karena malam itu adalah malam bercerita.

Mamiq akan menceritakan kisah-kisah Nabi atau sahabat dengan caranya sendiri. Menggunakan bahasa sehari-hari (bahasa Sasak). Jadi kami merasa begitu dekat dengan tokoh-tokoh itu. Sampai bisa membayangkan para sahabat duduk bersila dan berbincang di dalam masjid desa. Setelah dewasa saya baru tahu jika beliau sering berimprovisasi.

Tak hanya Mamiq. Nenek dan paman saya pun sering bercerita. Dongeng tentang 'Tegodek-godek dait Tetunten-tunten' (si Monyet dan si Kodok) dan si Timun Bongkok. Hanya dua itu saja. Tapi kami tak pernah bosan. Dan setiap bercerita, kami (saya dan teman-teman) yang akan memilih dongeng yang mana.

Si Monyet dan Si Kodok bercerita tentang persahabatan kedua hewan tersebut. Mereka menanam pohon pisang bersama. Tetapi si Monyet serakah dan ingin menguasai pohon pisang sendiri. Sampai banjir datang dan menghanyutkan pohon-pohon pisang itu beserta si Monyet. Dia tak mau melepaskan pokok pisang, juga tak pandai berenang. Si Kodok hanya bisa menatap temannya dari kejauhan karena derasnya aliran banjir.

Dongeng sederhana. Namun membuat kami bertekad tak akan seperti si Monyet. Serakah dan pada akhirnya tak mendapat apa-apa. Apalagi ketika itu sungai di desa kami meluap tiap musim hujan. Jadi tak sulit membayangkan.

Lalu ada dongeng Timun Bongkok. Berkisah tentang seorang kakak lelaki yang ditugasi ibunya mengasuh dua orang adik. Sementara sang ibu bekerja di ladang timun. Suatu hari, salah satu adiknya lepas dari pengawasan dan masuk ke ladang. Lalu memakan satu timun bongkok/bengkok. Sang ibu marah besar kemudian mengusir si Kakak. Ia berjalan jauh dan masuk ke dalam sebuah batu yang terbelah. Dan tak pernah keluar lagi. Si ibu menyesal dan setiap hari pergi ke batu terbelah memanggil-manggil anaknya.

Ah, dulu sering sedih membayangkan si Kakak. Kok bisa ibunya tega sekali? Tapi jadi pelajaran, jangan mengambil keputusan saat marah. Sesal kemudian tidak berguna.

Di antara Mamiq, nenek, dan paman, hanya Mamiq yang bersekolah. Lainnya buta huruf. Jaman itu listrik saja masih sering mati. Tetapi mereka mampu menciptakan kenangan dan ajaran yang baik untuk saya. Tanpa media buku atau nasehat baku.

Jika mereka saja bisa, harusnya saya juga bisa. Bahkan lebih karena media sekarang sudah sangat beragam. Dan mudah ditemukan. Yang sulit 'hanyalah' mau menyediakan waktu.

Karena waktu kita sudah terlalu banyak dirampas oleh smartphone. Tak terkecuali saya. Astaghfirullah. Selama ini membela diri pegang hape jika Fayyadh tidur. Faktanya, saat dia bangun pun saya masih sering curi-curi waktu melihat notifikasi 😌

Padahal setelah dewasa baru saya merasakan betul implikasi dari cerita, dongeng, dan kisah yang saya dengar dan baca sewaktu kecil. It was very powerful, indeed.

Jadi, wahai orang dewasa, mendongenglah untuk anak-anak. Cerita sederhana saja. Apapun bisa jadi cerita kalau kita mau. Kelihatannya sepele. Namun sebenarnya dongeng memberikan makanan pada jiwa kanak-kanak dengan caranya sendiri.

Namun perlu diingat, dongeng juga harus dipilah-pilah. Seromantis apapun dongeng Disney Princess, ada hal-hal yang tak sesuai norma ketimuran kita. Apa seorang gadis akan dibiarkan pulang tengah malam demi pesta dan berdansa dengan lelaki asing? Atau diizinkan tinggal bersama 7 lelaki meskipun mereka cebol? Atau menjadi lelaki yang menggantungkan hidup pada jin lampu?

Saya hanya menulis untuk mengingatkan diri pertama kali. Agar memanfaatkan waktu sebel i.m anak-anak tak mau lagi mendengar cerita. Bercerita pun mereka lakukan dengan teman sebaya. Hiks.. membayangkan saja sudah mau berurai air mata.

So, orang dewasa. Dongeng apa yang paling berkesan buat Anda?

Fitria

Penggemar dongeng

*Salman sejatinya saya simpan sebagai nama calon anak. Tapi ternyata, asa tak selalu menjelma realita 😂

#30DWC
#30DWCJILID15
#DAY 19
#DONGENG

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...