Salman. Nama itu diam-diam saya simpan dalam-dalam di lubuk hati. Sejak pertama kali mendengarnya di usia sekolah dasar (SD). Nama yang terdengar keren, gagah, dan pintar. Sepintar sosok Salman Al Farisi yang diceritakan Mamiq (ayah) di malam bercerita.
Jadi, sewaktu SD kami-saya dan empat orang teman-mengaji di ruang tamu setelah Magrib. Berlima kami akan mengelilingi ruang sempit di antara sofa coklat kotak-kotak dan meja persegi panjang. Mamiq sendiri duduk di satu sofa yang menghadap ke pintu. Yang paling istimewa dari malam mengaji kami adalah malam Ahad, karena malam itu adalah malam bercerita.
Mamiq akan menceritakan kisah-kisah Nabi atau sahabat dengan caranya sendiri. Menggunakan bahasa sehari-hari (bahasa Sasak). Jadi kami merasa begitu dekat dengan tokoh-tokoh itu. Sampai bisa membayangkan para sahabat duduk bersila dan berbincang di dalam masjid desa. Setelah dewasa saya baru tahu jika beliau sering berimprovisasi.
Tak hanya Mamiq. Nenek dan paman saya pun sering bercerita. Dongeng tentang 'Tegodek-godek dait Tetunten-tunten' (si Monyet dan si Kodok) dan si Timun Bongkok. Hanya dua itu saja. Tapi kami tak pernah bosan. Dan setiap bercerita, kami (saya dan teman-teman) yang akan memilih dongeng yang mana.
Si Monyet dan Si Kodok bercerita tentang persahabatan kedua hewan tersebut. Mereka menanam pohon pisang bersama. Tetapi si Monyet serakah dan ingin menguasai pohon pisang sendiri. Sampai banjir datang dan menghanyutkan pohon-pohon pisang itu beserta si Monyet. Dia tak mau melepaskan pokok pisang, juga tak pandai berenang. Si Kodok hanya bisa menatap temannya dari kejauhan karena derasnya aliran banjir.
Dongeng sederhana. Namun membuat kami bertekad tak akan seperti si Monyet. Serakah dan pada akhirnya tak mendapat apa-apa. Apalagi ketika itu sungai di desa kami meluap tiap musim hujan. Jadi tak sulit membayangkan.
Lalu ada dongeng Timun Bongkok. Berkisah tentang seorang kakak lelaki yang ditugasi ibunya mengasuh dua orang adik. Sementara sang ibu bekerja di ladang timun. Suatu hari, salah satu adiknya lepas dari pengawasan dan masuk ke ladang. Lalu memakan satu timun bongkok/bengkok. Sang ibu marah besar kemudian mengusir si Kakak. Ia berjalan jauh dan masuk ke dalam sebuah batu yang terbelah. Dan tak pernah keluar lagi. Si ibu menyesal dan setiap hari pergi ke batu terbelah memanggil-manggil anaknya.
Ah, dulu sering sedih membayangkan si Kakak. Kok bisa ibunya tega sekali? Tapi jadi pelajaran, jangan mengambil keputusan saat marah. Sesal kemudian tidak berguna.
Di antara Mamiq, nenek, dan paman, hanya Mamiq yang bersekolah. Lainnya buta huruf. Jaman itu listrik saja masih sering mati. Tetapi mereka mampu menciptakan kenangan dan ajaran yang baik untuk saya. Tanpa media buku atau nasehat baku.
Jika mereka saja bisa, harusnya saya juga bisa. Bahkan lebih karena media sekarang sudah sangat beragam. Dan mudah ditemukan. Yang sulit 'hanyalah' mau menyediakan waktu.
Karena waktu kita sudah terlalu banyak dirampas oleh smartphone. Tak terkecuali saya. Astaghfirullah. Selama ini membela diri pegang hape jika Fayyadh tidur. Faktanya, saat dia bangun pun saya masih sering curi-curi waktu melihat notifikasi 😌
Padahal setelah dewasa baru saya merasakan betul implikasi dari cerita, dongeng, dan kisah yang saya dengar dan baca sewaktu kecil. It was very powerful, indeed.
Jadi, wahai orang dewasa, mendongenglah untuk anak-anak. Cerita sederhana saja. Apapun bisa jadi cerita kalau kita mau. Kelihatannya sepele. Namun sebenarnya dongeng memberikan makanan pada jiwa kanak-kanak dengan caranya sendiri.
Namun perlu diingat, dongeng juga harus dipilah-pilah. Seromantis apapun dongeng Disney Princess, ada hal-hal yang tak sesuai norma ketimuran kita. Apa seorang gadis akan dibiarkan pulang tengah malam demi pesta dan berdansa dengan lelaki asing? Atau diizinkan tinggal bersama 7 lelaki meskipun mereka cebol? Atau menjadi lelaki yang menggantungkan hidup pada jin lampu?
Saya hanya menulis untuk mengingatkan diri pertama kali. Agar memanfaatkan waktu sebel i.m anak-anak tak mau lagi mendengar cerita. Bercerita pun mereka lakukan dengan teman sebaya. Hiks.. membayangkan saja sudah mau berurai air mata.
So, orang dewasa. Dongeng apa yang paling berkesan buat Anda?
Fitria
Penggemar dongeng
*Salman sejatinya saya simpan sebagai nama calon anak. Tapi ternyata, asa tak selalu menjelma realita 😂
#30DWC
#30DWCJILID15
#DAY 19
#DONGENG
Comments
Post a Comment