Skip to main content

Foto Di Dinding Ruang ICU

"Malam terjadinya bom itu memang aneh. Biasanya kalo sudah jam 8 di malam Minggu kami sibuk. Tapi sudah jam 9 kami masih bisa beli nasi goreng dan ngobrol-ngobrol. Eeeeeh jam 10 ke atas pasien membanjir. Mayoritas korban dibawa ke Sanglah. Pintu belakang semua dibuka. Waktu itu belum banyak rumah sakit besar sekitar Kuta. Belum juga ada sistem triage. Kebayang nggak gimana chaos-nya situasi. Kami tidak bisa menolak pasien sementara tenaga dan sarana terbatas." Cerita dosen kami. Beliau kala itu masih dokter muda yang bertugas di IGD RSUP Sanglah Denpasar.

RSUP Sanglah merupakan rumah rujukan, termasuk yang terbaik dan terlengkap di Indonesia. Jadi membayangkan mereka gelagapan sedikit sulit. Tetapi kembali lagi, itu kejadian 10 tahun yang lalu. Tentu saja situasinya berbeda.

Bom Bali 1 tak hanya mengguncang Pulau Dewata. Tetapi juga menyita perhatian dunia. Se-Indonesia pun menyaksikan reportasenya dari media. Namun tak ada yang bisa menyamai menyaksikan secara langsung.

Kedua orang tua saya sedang berada di Tuban malam itu. Ledakan di Pantai Legian yang berjarak sekitar 7 km terdengar jelas dari sana. Menurut Mamiq (ayah). Situasi setelah malam itu begitu mencekam. Bulu kuduk tegak berdiri. Beberapa minggu setelah pulang ke Lombok, orang tua saya tak bisa makan ayam karena terbayang-bayang potongan tubuh korban yang disiarkan lewat televisi lokal.

Saya pribadi baru benar-benar bisa melongok ke situasi malam itu ketika melihat foto-foto yang dipampang di dinding Ruang ICU dan Luka Bakar. Foto-foto yang sebagian besar diambil di rumah sakit. Memperlihatkan bagaimana mereka menangani pasien yang membludak tiada henti. Sampai tumpah ruah ke tempat parkir.

Lalu saya merenung. Sangat wajar terjadi Islamophobia di berbagai kalangan di Bali. Tak hanya club-club yang hancur, tetapi juga perekonomian dan rasa aman penduduknya. Mengingat sebagian besar mata pencaharian mereka mengandalkan sektor pariwisata. Dan sektor itu terpukul paling keras. Karena wisatawan tak berani lagi datang ke Bali. Tak ada wisatawan berarti tak ada pemasukan.

Sebagai umat Islam yang belajar di sumber yang benar, mayoritas kami tahu apa yang dilakukan Amrozi cs itu bukan bagian dari ajaran Islam. Tetapi bagaimana dengan saudara-saudara kita umat Hindu?

Meskipun bertetangga berpuluh tahun, paman dan bibi saya di Denpasar tak sepenuhnya mengerti ajaran agama Hindu. Demikian pula tetangganya terhadap ajaran Islam. Dengan propaganda media atau mulut ke mulut, maka mudah saja orang akan percaya berita terburuk.

Tapi tidak, di Bali tetap damai. Toleransi tetap dijunjung. Terutama di akar rumput. Tak pernah bibi saya dikucilkan atau apa.

Saat akan berangkat kuliah kesana, banyak yang memperingatkan. Bahwa saya yang berjilbab akan dipersulit, bahkan tak diizinkan masuk kelas jika tak membuka jilbab.

Qadarullah, saya tak gentar. Bismillah dan sangka baik, itu pegangan saya. Maka alhamdulillah, tak pernah saya temui kesulitan semata karena jilbab. Kampus kami di Jalan Sudirman meskipun tak menyediakan tempat sholat, dekat dengan masjid Al Furqan. Sejauh ini, hanya ada satu dosen yang sepertinya sensitif terhadap jilbab. Itupun hanya dosen tamu dan bukan umat Hindu.

Demikian pula saat praktik di rumah sakit. Mbok-mbok perawat tak pernah menganaktirikan karena saya muslim, apalagi menyulitkan jika akan izin sholat. Saat mau cari makan, teman-teman memberi tahu mana makanan yang halal.

Untuk umat muslimnya sendiri, Masya Allah, belum pernah saya temukan kehangatan ukhuwah melebihi di Bali. Dari beberapa kota yang pernah saya datang dan tinggali, justru keshalihan masyarakat Islam itu paling kental di Bali.

Setiap waktu sholat masjid selalu penuh. Paling tidak lebih dari 3 shaf. Tiap Senin dan Kamis sore di berbagai masjid itu digelar buka puasa bersama. Hampir semua masjid/musholla juga memiliki TPQ untuk anak-anak dan tak jarang orang dewasa. Beberapa masjid juga memiliki klinik kesehatan bersubsidi untuk masyarakat sekitarnya. Seperti klinik tempat saya bekerja dulu.

Soal sedekah dan berbagi, saya sungguh belajar banyak. Tak hanya pengusaha besar dan orang kaya, yang tak memiliki harta pun berlomba-lomba berbagi dengan apa yang mereka miliki. Seperti waktu dan tenaga.

Maka lembaga sosial di Bali sangat marak. Dan hidup. Asal kita mau tetap bergerak insya Allah donasi akan mudah didapat.

Ah, jadi baper. Intinya, saya begitu beruntung pernah tinggal di Bali. Pulau dengan segala keindahan alamnya, sejuk toleransinya, dan hangat kekeluargaannya.

Semoga bisa segera ke(m)Bali.

Fitria

Mantan mahasiswa di Denpasar

#30DWC
#30DWCJILID15
#DAY21
#BOM

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...