"Bilang sama dia, kalo mau minta maaf sudah saya maafin." Kata Ibuq ketika tetangga memintanya masuk ke ruang bersalin.
Nyeri bukaan hampir lengkap rupanya tak mematikan rasa geli di hati. Bukan itu maksud memanggil Ibuq. Saya hanya ingin meminta kartu berobat di dompet yang dibawanya agar rekam medis saya sebelumnya bisa diambilkan 😅
Sudah menjadi tradisi di daerah kami, ketika seorang wanita sulit melahirkan, maka ia akan meminta maaf kepada orang lain terutama ibu dan suaminya. Ada yang ekstrim sampai harus meminum air bekas cucian kaki suami. Semua dipercaya agar mempermudah proses persalinan.
Bukannya saya tak merasa memiliki salah pada Ibuq. Tapi hubungan kami tak segamblang itu. Maksudnya, kami jarang sekali meminta maaf. Mungkin pas lebaran saja 😁. Alhamdulillah, sampai sekarang kami tak pernah bertengkar hebat. Apalagi sampai terdengar tetangga.
Ketidaksepahaman kami biasanya hanya sampai bertukar kalimat beberapa kali, lalu salah satu dari kami akan diam atau meninggalkan arena. Kemudian tak saling bicara yang tak lebih dari sehari. Nanti setelah cooling down salah satu dari kami akan menegur sementara yang lain jual mahal 😂
Lalu masalah 'selesai' sampai sana. Esok lusa, kami akan membicarakannya kembali dalam suasana yang lebih santai. Sudah mirip sebuah quote di film India 'Sahabat sejati tidak mengucapkan maaf dan terimakasih'. Eaaaaaa..
Lalu tidak adakah rasa gondok atau apa yang masih tersisa? Dari saya pribadi tidak. Dan saya pikir Ibuq pun demikian. Karena kami tipe perempuan yang tidak bisa menutupi rasa ketidaksukaan. Itu biasanya tercermin dari raut wajah dan sikap. Yang sebagai ibu dan anak, kami pahami betul.
Jadi saya rasa memang tak perlu tradisi itu ketika saya akan melahirkan. Karena Ibuq pasti ridho pada saya dan mendoakan yang terbaik. Dari awal memang beliau mengatakan tak bisa menemani saya saat persalinan. Alasannya karena trauma. Anak pertama dan satu-satunya ini lahir lewat operasi sesar dan takut jika saya mengalami hal yang sama.
Alhamdulillah, berkat Maha Pengasihnya Allah serta doa dari Ibuq dan keluarga lainnya, dua jam kemudian saya melahirkan bayi laki-laki secara normal. Ketika pertama kali tangis Fayyadh terdengar, pecah pulalah tangis Ibuq. Yang kemudian beliau iringi dengan sujud syukur di lantai Puskesmas.
Lalu dimulailah babak baru kehidupan saya sebagai seorang ibu. Yang ternyata tak semudah meng-upload foto bayi yang baru selesai mandi.
Tak hanya secara fisik, menjadi ibu baru juga menguras emosi. Dengan background seorang perawat saya pikir bisa melaluinya dengan mudah. Tetapi tidak, malah inilah salah satu pemicu saya sering berselisih paham dengan Ibuq dan keluarga.
Mereka menyarankan ini itu, sedangkan teori yang saya pelajari mengatakan sebaliknya.
Dan hal ini, membuat saya bertanya-tanya apakah saya menjadi anak durhaka. Karena dalam tiga bulan setelah menjadi ibu, selisih paham saya dengan Ibuq hampir mengalahkan rekor bertahun-tahun sebelumnya.
Jika masalah seputar perawatan dan pengasuhan bayi, saya masih bisa menerima. Walaupun masih sering 'iya' di depannya dan tidak dilakukan di belakangnya 😂
Tapi jika sudah menyangkut aqidah, saya mundur. Kadang saya tidak terang-terangan menolak, karena menghormati kepercayaan Ibuq dan keluarga. Seperti misalnya diminta pergi ke orang pintar untuk 'mensyarati' Fayyadh agar tidak rewel, tidurnya pulas, dan bisa saya tinggal kerja. Hal ini terjadi pada minggu-minggu pertama dia lahir.
Bukannya apa-apa, saya tidak percaya. Iya kalau orang pintar itu orang shalih 'cuma' mendoakan. Kalau dikasi jimat ini itu? Kan jatuhnya syirik.
Saya lebih percaya Fayyadh sedang adaptasi. Dan rewel adalah caranya mengungkapkan ketidaknyamanannya di dunia yang baru. Meskipun pada akhirnya saya ribut dengan Ibuq karena beliau tak tahan mendengarnya menangis.
Tuhan, batin saya. Mengapa setelah menjadi ibu justru terasa seperti anak durhaka?
Padahal Ibuq yang sekarang bergelar nenek itu, hanya ingin yang terbaik buat anak dan cucunya. Meskipun mungkin caranya tidak tepat.
Tidak kunjung berkata 'iya', mencari-cari alasan, dan mengundur-undur waktu untuk pergi ke orang pintar membuat Ibuq paham saya tidak mau melakukannya. Dan tidak pernah lagi mengusik masalah itu. Alhamdulillah.
Diluar hal itu, Ibuq adalah ibu dan nenek yang hebat. Meskipun tak bisa memasangkan bengkung di pinggang saya, tidak berani memandikan Fayyadh, atau sering grogi memasangkan baju.
Tetapi Ibuq yang kurang terampil itu, sebelum Subuh sudah bangun mencuci baju kami, menyiapkan air mandi Fayyadh, sambil memasak untuk memastikan kami sarapan. Lalu tergesa berangkat mengajar. Kerap kali beliau terlambat sejak menjadi nenek.
Nenek yang mati-matian menahan tangis saat mengantar kami sampai di depan bandara. Namun masih menghapus air mata tiap kali video call. Dan berharap bisa pindah mengajar ke Solo demi mengikuti cucu.
Ibuq dan nenek yang tidak sempurna, tapi sempurna untuk saya dan Fayyadh.
Fitria
Anak yang sekarang menjadi ibu
*Mulai ditulis ketika sore hari ketika hujan deras ditingkahi petir. Seperti suatu sore saat Ibuq yang sedang sakit mencari saya kesana kemari karena tak ijin keluar membeli jajan.
#30DWC
#30DWCJILID15
#DAY20
#IBU
Comments
Post a Comment