Skip to main content

Totto Chan dan Keterlambatan Yang Manis

"Belum. Dan aku pengen banget. Banyak penulis keren dan psikolog nyebutin buku itu. Rata-rata review-nya bagus. Mo minjem nggak tahu sama siapa." Jawab saya ketika suami menanyakan apakah saya pernah membaca buku Totto Chan.

Saya tak perlu meninggikan suara meskipun kami sedang di atas sepeda motor. Semangat yang menggebu otomatis membuat suara makin nyaring. Apa yang ia katakan selanjutnya membuat saya ingin jingkrak-jingkrak.

"Nanti aku beliin." Janjinya.

Dan tiga hari kemudian, buku bersampul putih itu datang.  Ilustrasinya sangat sederhana. Seorang gadis kecil berjaket putih dan tersenyum simpul. Bukannya terlihat membosankan, kesan yang saya dapat justru seperti akan membuka warisan berharga dari jaman dahulu. Jadi deg-degan dan tidak sabaran.

Totto Chan dan Gadis Cilik di Jendela ditulis oleh Tetsuko Kuronayagi. Isinya tentang seorang gadis cilik yang ceria dan sangat bersemangat, berimajinasi tinggi, dan memiliki kebiasaan aneh seperti berlama-lama memandang keluar jendela. Hal itu membuatnya dicap 'nakal' sampai dikeluarkan dari sekolah. Lalu sang ibu memasukkannya ke sekolah baru bernama Tomoe Gakuen. Sekolah istimewa, seistimewa Totto Chan dan teman-temannya.

Setiap babnya pendek-pendek dan menceritakan satu peristiwa. Juga apa yang Totto Chan dan tokoh lain rasakan tentang hal itu. Tentang hal-hal yang sepertinya sepele namun berpengaruh besar pada pribadi seorang anak ke depannya. Gaya bahasa yang sesederhana sampulnya membuat saya seperti membaca diary seorang anak kecil.

Membaca fiksi atau memoriam membuat saya sering menempatkan diri sebagai tokoh-tokoh di dalamnya. Dan ketika membaca Totto Chan, saya membacanya sebagai seorang ibu.

Ibu Totto Chan seorang yang sabar dan berpikiran positif. Pada bab 6 diceritakan hari pertama Totto Chan sekolah ke Tomoe Gakuen. Perjalanan kesana menggunakan kereta api. Agar karcisnya tak hilang, Mama memasukkannya ke semacam name tag yang memiliki tali.

Bukannya langsung berangkat, Totto Chan malah mengalungkan karcisnya pada Rocky, anjing peliharaan mereka. Mama kaget, tetapi memilih menunggu dan melihat apa yang akan terjadi. Ternyata, Totto Chan berbuat seperti itu untuk meyakinkan Rocky bahwa karcis itu tak cocok untuknya karena talinya kepanjangan. Rocky juga tak boleh naik kereta. Tetapi Totto Chan berjanji akan menanyakan pada kepala sekolah apakah Rocky boleh masuk ke kelas mereka yang terbuat dari gerbong kereta.

Aww, so sweet. Anak-anak dan dunianya. Dunia polos dan sederhana yang seringkali tak (mau) dimengerti orang dewasa.

Sampai disini saya tertohok. Baru semalam saya setengah mengeluh pada suami jika Fayyadh menangis gerung-gerung saat saya tinggal shalat Magrib. Saat itu sedang liqo dan tak satupun ibu-ibu-yang rata-rata sudah memiliki dua sampai empat orang anak-bisa menenangkannya.

Seperti Totto Chan yang istimewa, ibunya juga istimewa. Hal ini juga sering saya lihat di kehidupan nyata. Misalnya pada anak dengan kebutuhan khusus. Biasanya ibunya juga memiliki kekuatan khusus seperti memiliki kesabaran, keluasan pikiran, dan ketangguhan diatas rata-rata.

Apakah dengan ini saya mengklaim Fayyadh anak istimewa? Well, tentu saja. Saya kan ibunya. Demikian juga pasti ibu-ibu lain terhadap anaknya.

Yang ingin saya katakan, buku ini berhasil memotivasi new mom yang masih sering baperan ini untuk berusaha lebih sabar. Tiap anak memiliki keunikan masing-masing yang tidak bisa dipahami semua orang. Dengan perlakuan yang tepat, akan mampu menjelma menjadi pribadi yang tak hanya baik, tapi terbaik. Dan tugas seorang ibulah untuk memahami anak sebaik-baiknya.

Buku ini diterbitkan pertama kali tahun 1981 dan di Indonesia sendiri baru diterbitkan Gramedia tahun 2008. Bayangkan jika saya membacanya langsung di tahun itu. Pemahaman apa yang akan saya dapatkan? Mungkin tetap terinspirasi, tapi efeknya akan segera hilang ditelan kesibukan sebagai mahasiswa baru.

Mungkin saya terlambat membaca buku keren ini, tapi buahnya tak kalah manis. Recommended banget pokoknya, untuk orang tua dan calon orang tua, praktisi pendidikan, atau siapapun yang peduli pada dunia anak-anak.

Efek seperti ini yang saya harapkan ketika memberi hadiah buku kepada orang lain. Terlebih buku yang saya tahu pasti isinya. Ada kebahagiaan disana. Ketika mengetahui hal-hal baru. Ketika termotivasi untuk lebih baik karena seorang tokoh. Ketika girang ada yang memiliki selera humor sama dengan kita. Ketika menangis saat karakter favorit meninggal. Ketika tak sabaran menunggu sekuel yang baru rencana rilis dua tahun lagi.

Benarlah kata George R. R. Martin. 'A reader lives a thousand lives before he died. A man who never read lives only one.'

Semangat membaca!

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...