Skip to main content

Antara MLM dan Sahabat Lama

Mis Biutipul menandai Anda dalam kiriman.

Begitu kurang lebih notifikasi pesbuk di suatu pagi. Waaah, alhamdulilah. Hati berbunga-bunga. Ternyata dia masih ingat sama saya. Teman lama yang sudah lama nggak kontakan. Akhirnya karena kelamaan jadi malu negur duluan.

Nggak peduli mesti berangkat kerja itu notifikasi yang biasanya cuman digeser langsung di-klik. Lalu jeng! Jeng! Jeeeeng! Ternyata di-tag promosi MLM.

Bak antiklimaks, ngenesnya disana, gemes juga disitu, belum malu udah kegeeran, tapi porsi terbesar adalah rasa kecewa. Gimana ya? Yaaah, campur aduk gitulah. Ada yang pernah ngalamin? Mungkin bisa mendeskripsikan lebih baik.

"Kamu sensitif banget sih? Namanya juga orang usaha."

Iya, saya ngerti. Apalagi yang baru gabung mesti lagi semangat-semangatnya toh? Tapi apa harus main tag, atau langsung inbox tanpa ba-bi-bu sebelumnya. Jujur, bukannya tertarik saya jadi illfeel duluan. Apalagi kalau yang ngetag itu bukan orang yang dikenal.

Reaksi saya ini mesti banyak yang meng-idemi. Bukan sok tahu. Tapi memang begitulah psikologis orang dewasa. Jangankan orang dewasa, anak-anak aja nggak suka disuruh-suruh. Apalagi tanpa penjelasan sebelumnya.

Padahal mungkin produknya bagus, tapi karena cara promosi yang kurang elegan orang sudah tidak tertarik.

"Eh jeng, emang udah pernah jualan? Kalo ngomong mah gampang!"

Makanya ini saya belajar sama yang udah ahli. Gimana bisa nyetatus soal hari-hari rempong tapi berbuah closing tanpa harus bikin orang nggak nyaman. Salah satunya Ummi Resty. Sesemak kece lima anak yang jadi mentornya #kelascovertselling.

Belajar aja dulu, siapa tahu bisa jadi jalan ketika saya akhirnya berani terjun di dunia perdagangan 😁

Kalaupun tidak, namanya ilmu insya Allah tidak ada yang mubazir. Kalau ilmu hitam, itu sih ogah. Sudah cukup kulit aja dibilang hitam.

Dan ya, mohon maaf kalau ada yang merasa tersinggung. Saya bukan anti MLM atau apa. Hanya mengungkapkan curahan hati seorang sahabat dan menghabiskan jatah 20000 kata hari ini.

Semoga jualan teman-teman onlen lancar jaya dan berkah. Dan bisa lebih baik dalam hal promosinya. Agar jangan ada spam MLM diantara kita.

Semangat berproses!

Fitria

Si sahabat lama

#pakboschallenge
#day3

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...