Skip to main content

Fase Oral Bayi: Bukan Tanda Siap Makan

"Ngapain kamu kasi anakmu gigit-gigit gelas? Kan sakit mulutnya!"

Pagi-pagi sudah sarapan protesan dari Lombok. Kemarin saya kirimkan dua video Fayyadh ke teman sekolah Ibuq. Secara beliau tidak punya ponsel pintar. Video yang menurut saya lucu ternyata dianggap ther-lha-lhu 😂

Yak, mungkin selera humor saya datang dari Mamiq 🤔

Jadi, di video itu Fayyadh sedang tengkurap. Mainan air mineral gelas. Berhubung dia sedang fase oral ya itu pantat gelas juga diemut. Karena gelasnya bersih dan lembut saya biarkan, bahkan videokan.

Gemes lihat dia gemes. Tapi bikin neneknya lemes 😅

Tapi bagaimanapun, saya masih beruntung. Setidaknya Ibuq tidak bilang "Makanya, kasi makan. Kamu nggak kasian liat dia ngeliatin terus?"
Atau yang lebih klasik, "Jangan kasi ngemut-ngemut barang, nanti jadi kebiasaan."
Atau yang nyinyir, "Jangan pelit gitu Mbak. Kasi makan anaknya biar gemuk."

Intinya, yang menganjurkan bayi makan padahal belum berusia enam bulan. Hanya karena dia sudah sangat aktif menggigit setiap jari atau setiap benda yang bisa diraih.

Mak, fase oral bayi dimulai dari 0-18 bulan. Bahkan tak jarang bayi yang di USG dalam kandungan terlihat mengemut jempol. Dalam fase ini bayi memang cenderung memasukkan segala sesuatu ke mulutnya. Karena dia merasa nikmat melakukannya.

Jangan dilarang ya Mak! Karena itu fase alami yang dilalui setiap bayi. Fase pemenuhan kebutuhan psikologis yang dialami manusia. Sebagai persiapan untuk mematangkan fungsi otot-otot mulut. Untuk makan dan bicara.

Jika dilarang dan fase ini gagal atau tak terpuaskan, akan terlihat dampak di kemudian hari. Anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang tidak matang, bicara ketus, mudah memaki, dan sering menuntut.

Tapi kan kotor?
Yang bisa Emak lakukan adalah menjaga benda yang masuk ke mulut bayi tetap bersih. Rajin mencuci tangan dan mainannya. Jauhkan benda-benda kecil yang mungkin tertelan atau membuatnya tersedak. Juga barang-barang tajam dan berbahaya.

Jika setelah 18 bulan anak masih mengemut jari misalnya, perlu diteliti lagi. Mungkin saja saat itu dia mengalami hal besar yang membuatnya takut jadi kembali lagi ke fase oral untuk mencari kenyamanan. Seperti punya adik baru, memulai toilet training, atau ditinggalkan ibu bekerja kembali.

Untuk menghentikan kebiasaan mengemut jari, bisa dialihkan dengan memberi potongan makanan atau memperpanjang waktu makan.

Jadi, pada usia ini orang tua baiknya mempertimbangkan jika akan memulai perubahan besar di hidup anak.

Happy Thursday.
Semangat waras!

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...