Skip to main content

Text

Untuk kesekian kalinya, nyeri itu menusuk di dada. Saat aku pikir aku sudah lupa, lebih jauh lagi, kuat.

Berkali-kali aku ingin bertanya, salahku apa? Dan apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya? Tapi tidak. Aku hanya terdiam merawat sakit hatiku. Apalagi ketika aku membaca artikel tadi. Jika ingin bertengkar, berdebat, atau membicarakan sesuatu yang serius, jangan lewat text. Karena kita tak akan bisa membaca nada, intonasi, atau mimik wajah seseorang. Bahkan emoticon bisa ditafsirkan berbeda. Tapi bagaimana aku bisa membicarakan semuanya bertemu mata? Jarak sudah terpisah ratusan kilo.

Lalu harus bagaimana? Aku tak lagi nyaman berbagi hidupku di media sosial lain, takut menyinggung perasaan orang lain. Atau takut memunculkan posting yang bisa membuat orang lain menilaiku makin buruk. Apa artinya semua ini? Tapi apakah perlu semua itu? Mungkin saja orang yang ingin ku jaga perasaannya malah tak menganggapku sedikitpun? Sudah membuangku jauh-jauh dari hidupnya?

Mungkin aku hanya harus menerima semuanya. Bahwa semua orang memiliki pikirannya masing-masing dan bebas menggunakannya sesuka hati. Tak mungkin aku memenangkan semua hati, yang ku sayangi sekalipun. Jadi buat apa menangisi susu yang telah tumpah? Akupun tak tahu, tapi jika memang semua harus berakhir. Mengapa tak bisa diakhiri dengan indah?

Kehilangan, tergantikan, semua sudah sunatullah. Aku hanya harus berdamai dengan hatiku. Jadi jika beberapa saat nanti aku harus menangis lagi karena hal ini, berarti bukan situasinya yang salah. Tapi hatiku yang perlu legowo.

Haha.. lucu. Ketika dulu teman-teman emosi karena merasa 'ditikung', aku masih bisa tersenyum menanggapi. Tapi sekarang? Ternyata aku yang gagal dalam pelajaran ini. Mungkin memang karena tak memiliki banyak orang spesial dalam hidup ini, jadi jika ada seseorang yang hilang maka itu sangat terasa. Sekali lagi, sepertinya ini adalah kesempatan untuk remidial.

Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik. Aamiin.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...