Untuk kesekian kalinya, nyeri itu menusuk di dada. Saat aku pikir aku sudah lupa, lebih jauh lagi, kuat.
Berkali-kali aku ingin bertanya, salahku apa? Dan apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaikinya? Tapi tidak. Aku hanya terdiam merawat sakit hatiku. Apalagi ketika aku membaca artikel tadi. Jika ingin bertengkar, berdebat, atau membicarakan sesuatu yang serius, jangan lewat text. Karena kita tak akan bisa membaca nada, intonasi, atau mimik wajah seseorang. Bahkan emoticon bisa ditafsirkan berbeda. Tapi bagaimana aku bisa membicarakan semuanya bertemu mata? Jarak sudah terpisah ratusan kilo.
Lalu harus bagaimana? Aku tak lagi nyaman berbagi hidupku di media sosial lain, takut menyinggung perasaan orang lain. Atau takut memunculkan posting yang bisa membuat orang lain menilaiku makin buruk. Apa artinya semua ini? Tapi apakah perlu semua itu? Mungkin saja orang yang ingin ku jaga perasaannya malah tak menganggapku sedikitpun? Sudah membuangku jauh-jauh dari hidupnya?
Mungkin aku hanya harus menerima semuanya. Bahwa semua orang memiliki pikirannya masing-masing dan bebas menggunakannya sesuka hati. Tak mungkin aku memenangkan semua hati, yang ku sayangi sekalipun. Jadi buat apa menangisi susu yang telah tumpah? Akupun tak tahu, tapi jika memang semua harus berakhir. Mengapa tak bisa diakhiri dengan indah?
Kehilangan, tergantikan, semua sudah sunatullah. Aku hanya harus berdamai dengan hatiku. Jadi jika beberapa saat nanti aku harus menangis lagi karena hal ini, berarti bukan situasinya yang salah. Tapi hatiku yang perlu legowo.
Haha.. lucu. Ketika dulu teman-teman emosi karena merasa 'ditikung', aku masih bisa tersenyum menanggapi. Tapi sekarang? Ternyata aku yang gagal dalam pelajaran ini. Mungkin memang karena tak memiliki banyak orang spesial dalam hidup ini, jadi jika ada seseorang yang hilang maka itu sangat terasa. Sekali lagi, sepertinya ini adalah kesempatan untuk remidial.
Semoga Allah memberikan jalan keluar yang terbaik. Aamiin.
Comments
Post a Comment