Skip to main content

KETIKA FAYYADH DEMAM

Kemarin, 5 September 2018 alhamdulilah Fayyadh genap dua bulan, bertepatan dengan jadwal Posyandu keduanya.

Sejak semalam ibunya deg-degan. Karena itu berarti Fayyadh akan dapat imunisasi DPT 1 yang KIPInya seringkali demam. (Ya, kami sepakat untuk imunisasi Fayyadh, yang wajib aja. Jadi mohon tidak ada komentar pro dan antivaks. We have our own choices. *Belagak famous 😎)

Sejak pukul 07.00 WITA si kecil sudah mandi, dan tidur lagi memberi kesempatan ibunya buat siap-siap. Menjelang jam 8 baru bangun dan minta nenen. Sampai setengah 9 baru selesai. Ketika disendawakan, keluarlah gumoh yang lumayan. Repot lagi cari tisu. Belum selesai dibersihkan, muncullah suara merdu lainnya. Fayyadh pup. Dan buanyak 😂😂😂

Jadi mikir, ni anak mau berangkat Posyandu nggak sih? Hampir jam 9 semua kelar dan terburu-buru ibu berangkat. Bayangan terlambat sudah di depan mata. Eeeeh sampai sana ternyata kami yang pertama datang 😅

Setelah ditimbang, tanpa menunggu lama Fayyadh divaksin. Di paha kiri dan kanan. Sudah takut dia akan nangis kejer. Ternyata hanya nangis saat disuntik dan nggak sampai semenit sudah diam. Masya Allah.

Tak membuang waktu kami pulang. Sudah tak bawa payung gerimis pula. Untung Fayyadh pakai topi dan gerimisnya tak serius. Sampai rumah makin was-was. Tapi sejauh ini dia anteng. Sempat jadi mandor liat para kakek muda beresin halaman 😁

Menjelang jam 11 mengantuk dan tertidur. Lalu menjelang Zuhur mulailah suhu badannya naik. Sepertinya saya mengecek dengan termometer setiap setengah jam sekali atau kurang dari itu 😅

Dari Zuhur ke Ashar naiknya lumayan cepat. 37,5 ke 38,3. Saya bimbang apa harus memberikan obat. Memang dari petugas Puskesmas dianjurkan langsung memberi obat sepulang dari Posyandu. "Biar tidak panas", katanya. Tapi yang diberikan tablet 500 mg dan instruksinya "Kasi seperempatnya ya." Padahal BB Fayyadh cuma 4,6 kg. Dan seperempat tablet berarti 125 mg. Jauh melebihi dosis yang 10-15mg/kgBB

Jadi saya belikan Paracetamol sirup untuk jaga-jaga (yang drop nggak ada sedangkan apotek jauh). Saya akan memberikan obat jika suhunya sudah mencapai 38,5 derajat.

Bukannya tega dengan anak. Tapi justru kasihan dengan ginjal dan livernya yang masih sangat muda. Lagian, demam itu kawan bukan lawan. Ia tanda jika ada yang tak beres dan tubuh berusaha melawannya.

Selain itu, ada pertimbangan lain, yaitu:
1. Penyebab Fayyadh demam jelas.
2. Gendong, gempur ASI, pakai baju longgar dan menyerap keringat, kompres hangat, dan skin to skin sejauh ini masih mempan.
3. Fayyadh tidak rewel, artinya dia masih nyaman. Karena pemberian obat pada anak biasanya bukan untuk menurunkan panas, tetapi mengurangi nyeri dan ketidaknyamanan.
4. Pemberian Paracetamol segera setelah vaksinasi dapat mengurangi efektivitas vaksin. Sayang kan?

Jadi tetap saya usahakan cara alami dulu. Setelah Ashar waktunya mandi tetap saya mandikan. Mandi air hangat tidak dilarang, justru bisa membantu menurunkan suhu tubuh. Apalagi jika anak tidak suka dikompres. Asal jangan kelamaan sampai suhu air dingin.

Sampai Maghrib suhu tubuh Fayyadh normal dan naik lagi setelah Isya. Stabil di angka 38. Turun sedikit setelah dikompres dan nenen. Lalu naik lagi. Begitu terus.

Sampai lewat tengah malam saya hampir menyerah. Sudah menyiapkan obat sesuai dosis. Tinggal bangunkan Fayyadh yang tidurnya agak gelisah. Saya wa Abahnya, dan dijawab "Gini aja. Kalo besok pagi masih panas kasi dah."

Bismillah.. saya tarik napas. Cek lagi suhunya. Memang hanya 38 derajat. Saya gendong, dan langsung lelap. Ternyata dia gelisahnya mau digendong 😢

Sambil gendong saya selalu badannya dan kompres air hangat. Mengharapkan penolakan atau tangisan tapi Fayyadh hanya terdiam, sesekali merintih. Dan ketika suhunya turun mulai tersenyum. Saya yang menangis 😭😭😭

Masya Allah, sabar sekali kamu Nak. Ibu salah. Menyangka ini itu tentangmu.

Pelajaran lagi, saya memang ibu baru, tapi sekarang saya lebih yakin tentang teori 'pelabelan'. Kalo kita melabeli anak sebagai anak rewel, maka akan begitu. Meskipun mereka awalnya tidak demikian. Karena fitrah anak akan terpengaruh dengan lingkungan sekitarnya.

Padahal selama ini saya selalu merapalkan 'Fayyadh anak shalih, Fayyadh anak tangguh, Fayyadh anak cerdas, Fayyadh anak sabar' dan seabreg sifat baik lainnya yang saya inginkan pada anak.

Basa-basikah saya? Atau sekedar lullaby pengantar tidur? Bukannya itu harapan? Mengapa tak saya ucapkan dengan yakin sekalian? Padahal salah satu doa paling makbul adalah doa anak untuk orangnya.

Ah, perjalanan masih jauh. Semakin banyak belajar semakin terasa betapa bodoh diri. Dan diatas semua itu, ternyata butuh komitmen dan konsistensi untuk menerapkan ilmu. Tidak gampang goyah padahal 'goal and priority' sudah jelas.

Karena sebaik-baik cara mendidik anak adalah dengan memberikan contoh. Contoh yang mencerminkan komitmen dan konsistensi.


Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...