Skip to main content

Relawan

"Sana dah, tinggalin Fayyadh kalo gitu!" Balas Ibuq dengan nada anteng, tapi dengan wajah bengis. Terimakasih Buq, setidaknya pencarian jati diri selama bertahun-tahun usai sudah. Akhirnya saya tahu bakat sarkastik ini turunan siapa 😅😅😅

Balasan Ibuq ini saya terima ketika tanpa sadar menggumamkan wa yang terkirim ke suami, "Kalau pas kayak gini pengen rasanya terbang ke lokasi (gempa)."

Ahad, 29 Juli 2018 Pukul 6.47 WITA Pulau Lombok diguncang gempa berkekuatan 6,4 SR. Gempa yang cukup kuat dan lama. Membuat saya yang waktu itu masih di tempat tidur ngelonin Fayyadh segera memboyongnya keluar. Alhamdulillah dia masih terlelap dan tidak terganggu sama sekali.

Lalu beberapa menit setelahnya saya membuka wa. Dan laporan di grup relawan membuat mulut ternganga tak percaya. Innalillahi, ternyata gempa tadi menimbulkan kerusakan serius. Terutama di Kecamatan Sembalun, Kecamatan Sambelia, dan di Bayan, Lombok Utara. Beberapa rumah sampai rata dengan tanah. Tak heran jika kemudian dikabarkan ada korban jiwa.

Update kabar terbaru memperlihatkan begitu banyak korban luka-luka dan patah tulang, sedangkan tenaga medis dan peralatan terbatas. Ditambah lagi fasilitas kesehatan yang rusak.

Di saat seperti ini relawan umum apalagi medis akan sangat berguna, sampai beberapa hari ke depan.

Teman-teman relawan langsung bergerak. Koordinasi dilakukan. Rencana disusun. Logistik dikerahkan. Dan saya hanya bisa memantau perkembangan di grup wa. Sambil sesekali broadcast informasi yang sekiranya berguna. Ke grup atau personal. Itu saja. Tak lebih.

Masygul. Tak berdaya. Begitu yang saya rasakan saat itu. Atau tepatnya, jiwa relawan saya.

Karena ketika melepas smartphone dan melihat pangkuan, ada bayi yang tertidur pulas disana.

Belum satu bulan, saya sendiri jujur masih sering tak percaya. Ternyata, sudah menjadi seorang ibu. Sebuah gelar yang begitu saya agungkan ketika masih menjadi anak, sekarang sudah boleh disematkan pada saya. The reality that rendered me speechless sometimes 😊

Lalu setelah sadar tak bisa mengucap apa selain alhamdulillah, alhamdullilah, alhamdullilah.

Namun bertahun-tahun menjadi relawan membuat hati ini tak bisa berbohong. Seperti ada panggilan khusus ketika melihat bencana. Bagaimanapun caranya, ingin segera kesana, dan membantu sekuat tenaga, dengan segala kemampuan.

Tapi sekarang, hal itu sudah tak mungkin. Ada bayi (yang tak begitu) mungil yang butuh perhatian. Ah tidak, coret kata itu. Bukan hanya perhatian, karena hampir semua kebutuhan dan rutinitasnya Allah gantung kepada saya. Sosok yang masih sering kagok menjadi ibu.

Maka, bye bye sudah kesempatan menjadi relawan di lapangan. Lupakan namanya keseruan assessment disaster atau asyiknya berjibaku merawat luka. Sekedar meninggalkan rumah saja susah, apalagi baksos kesana kemari.

Menulis ini, saya sadar jika sedang berkeluh kesah. Maka segera saya ingat kalimat itu, jika semua ada masanya.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan saya kesempatan untuk melalui-bahkan jauh lebih lama dari kebanyakan perempuan-masa ketika menikmati pilihan hidup menjadi relawan. Tak pernah absen mengikuti kegiatan sampai timeline penuh dengan tag dokumentasi.

Semua ada waktunya, dan sekarang waktunya menikmati takdir indah sebagai ibu. Meskipun rutinitas menyusui, mengganti popok, menggendong hingga tertidur, dan membersihkan gumoh tentunya tak memacu adrenalin seperti kegiatan di lapangan yang sering unpredictable.

Tapi menyadari bahwa ada bayi kecil yang tangisnya hanya bisa reda ketika saya gendong sungguh kadang masih sering membuat haru.

Ditambah lagi, sekarang saya bisa merinding membaca ayat-ayat tentang kehamilan dan menjadi orang tua. Benarlah Surat Luqman ayat 14 ketika mendeskripsikan masa kehamilan sebagai 'keadaan lemah yang bertambah-tambah.'

I've been there! Subhanallah wa bihamdih.

Lalu esok lusa, bolehlah saya berharap Fayyadh bisa mengangkat tangan penuh takzim sambil membaca Surat Al Israa ayat 24.

NB: Catatan ini saya tulis 31 Juli 2018.

Penghargaan setinggi-tingginya saya berikan kepada rekan-rekan relawan yang sejak hari pertama sampai sekarang masih berjibaku tak lelah menolong saudara-saudara kami di pelosok Lombok.

Relawan luar daerah bahkan ada yang tak pernah pulang, yang sudah pulang balik lagi, dan ada 3 orang yang Allah takdirkan berpulang ketika bertugas sebagai relawan.

Semoga berkah Allah untuk semua relawan. Dalam amal, ilmu, rezeki, dan segala..

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...