-Lah, kok anakmu item?
-Lah, bapak ibunya item kalo putih nanti dipertanyakan anak siapa
-Berat badannya naiknya dikit ya, si itu loh naiknya sekilo lebih.
-Alhamdulillah, yang penting naik
-Anakmu nggak kayak si ini sih, bisa dititip-titip, cepet nangis
-(alhamdulilah, berarti bonding dengan ibunya bagus)
Alhamdulillah, kebahagiaan menjadi seorang ibu tidak diukur karena bayi saya memiliki kulit yang diinginkan banyak orang, atau karena badannya yang gembul, atau karena dia anteng digendong siapapun, atau hal-hal semisal.
Saya bahagia karena Allah telah memberikan kesempatan yang begitu indah. Mempercayakan tubuh ini menjadi 'alat' terciptanya manusia baru. Memberikan hati untuk mencintainya dan berusaha yang terbaik untuknya.
Karena diluar sana, begitu banyak wanita yang Allah beri kesempatan yang sama, tapi tidak sepaket dengan hati. Bayi masih merah tega ditinggal di kebun, di halte, di kamar mandi. Tak sedikit pula yang menjadi pembunuh.
Karena diluar sana, lebih banyak lagi wanita yang mengutuk wanita tak berhati ini, karena mereka begitu menginginkan kesempatan yang mereka buang percuma. Sementara, untuk mereka Allah masih berkata 'tunggu, sabar, dan sangka baiklah.'
Komentar orang lain tak akan pernah berhenti. Dari yang level julid 0-30. Jika dipikirkan satu persatu, kapan istirahatnya? Lelah berkepanjangan adalah langkah pertama terbuangnya kebahagiaan.
Dan bukankah, sebagian orang memang diciptakan untuk menjadi ujian bagi orang lain. Maka maukah kamu bersabar?
Comments
Post a Comment