"Eeeeh.. eeeeh.. No.. no.. no.. Jangan gitu cara nyusuinnya! Nanti kepala Dedeknya peyang!"
Tanpa ba-bi-bu sesebibi yang datang menjenguk langsung mengangkat Fayyadh yang tidur di samping saya. Tipikal para bibi dari keluarga dekat.
"Ini lihat, kepalanya sudah agak peyang sebelah kiri." Lanjutnya sambil menunjuk alis kiri Fayyadh, yang menurut saya masih simetris-simetris saja. Tak ingin berdebat, saya hanya mengangguk dan senyum terpaksa.
Menjelang pulang, sesebibi tersebut kembali mengulang pesan yang sama pada Abah Fayyadh yang dijawab "Nggih Bi."
Sesaat kemudian azan Maghrib terdengar, seisi rumah sibuk mengambil air wudhu sementara Abah Fayyadh berangkat ke masjid. Saya bawa Fayyadh yang lelap dan menidurkannya di kasur. 'Nak, Ibu tak pernah mau mencelakaimu. Meskipun omongan sesebibi tadi kok rasanya seperti itu.' Saya membatin.
Bukan tanpa alasan saya 'berani' menyusui Fayyadh sambil tidur. Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyatakan jika menyusui bayi sambil tidur DIPERBOLEHKAN dengan syarat perlekatan mulut bayi ke payudara ibu benar dan tubuh bayi miring, menempel ke perut ibu. Lagi pula, meskipun menyusui sambil duduk pun bukankah bayinya tetap berbaring? Lalu apa bedanya dengan tidur?
Mengenai tulang kepala yang masih lunak, saya baru menyusui Fayyadh dengan posisi tidur hari itu dan hanya saat lelah. Darimana kepalanya akan peyang?
Sampai disini mungkin sudah terlihat saya sok pintar atau apa. Terserah. Yang jelas saya mencoba menguatkan diri karena entah mengapa pernyataan sesebibi itu begitu menohok dan membuat dada ini sesak.
Saya coba berpikir positif, merubah mindset, dan seterusnya. Namun yang terbayang malah kata-kata para ibu lainnya.
"Kenapa nggak dibedong? Jangan bilang ibunya nggak bisa. Terus mana topi dan kaus tangannya?"
"Jangan angkat tangan lewati pundak."
"Jangan nunduk."
"Kok gitu cara gendongnya? Nanti sakit punggungnya.."
"Ingat, tahan napas kalau mau berdiri."
"Jangan siram kuah sayur ke nasi, nanti kakimu bengkak."
"Jangan makan ini, kalo kamu sayang bayimu sih."
Satu emosi negatif menarik emosi negatif lainnya. Penilaian demi penilaian, larangan demi larangan. Sepertinya semua orang yang datang memiliki penilaian dan atau larangan berbeda untuk disampaikan.
For Allah's sake! Belum genap seminggu saya menjadi ibu dan inipun anak pertama. Tidak bisakah saya mendapat sedikit review positif? Pengulangan beruntun membuat pikiran saya buntu dan mentok berpikir mungkin benar saya ibu yang buruk.
Tetiba saya lelah. Sangat lelah. Rasa sakit, kurang tidur, dan rasa tak mampu juga tak membantu. Akhirnya air mata ini jatuh tak terbendung. Deras sampai sesenggukan.
Begitulah keadaan saya saat Abah Fayyadh pulang dari masjid.
"Ssst.. kenapa nangis lagi?" Tanyanya. Saya belum bisa menjawab. Beberapa menit kemudian dia berkata.
"Udah yuk! Masa nangis terus. Udah tiga hari ini." Entah mengapa saya makin emosi dan menjawab.
"Jadi nangispun aku nggak boleh? Sudah begitu banyak orang yang melarang ini itu dan sekarang suamiku juga?"
"Bukannya begitu, kasihan Fayyadh."
"Terus aku gimana? Nggak kasihan sama aku? Aku cuman nangis. Bukan ngamuk."
Abah Fayyadh diam. Adu argumen tak akan selesai. Beberapa saat kemudian dia bertanya lagi.
"Ada apa?"
Aku capek. Aku kesel. Aku pengen tidur. Aku mau makan ini. Aku nggak mau dijenguk kalo cuma buat dinyinyirin. Aku pengen marah. Aku pengen dihibur. Dan masih banyak lagi jawaban yang bisa saya berikan, tapi saya memilih menjawab.
"Aku baby blues."
"What? Kok bisa?"
"Ya bisa, kenapa nggak? Kan baru melahirkan."
Ya, saya seorang perawat, belajar khusus mengenai materi ini, dan tak luput pula mengalaminya.
Baby blues adalah gangguan mood yang terjadi pada ibu setelah melahirkan. Gejalanya berupa sedih, menangis tanpa sebab, cepat tersinggung, mudah marah, merasa terasing, sampai pada tak mau merawat bayi. Biasanya terjadi pada minggu pertama sampai kedua dan akan membaik dengan sendirinya. Tapi jika terus berlanjut dan gejalanya memburuk, disebut sebagai depresi post partum.
Penyebabnya disinyalir adalah perubahan hormonal, juga kelelahan dan kondisi fisik ibu, serta psikologis ibu sendiri.
Berbagai sumber menyatakan 50-80% ibu mengalaminya. Angka yang besar. Tapi sayangnya tidak semua ngeh dengan hal ini. Yang ada malah muncul stereotip jika 'ibu itu manja, cengeng, atau terlampau sensitif.'
Knowledge is the power, katanya. Namun hanya berbekal pengetahuan rupanya tak membuat baby blues lantas sim salabim segera menghilang. Tapi setidaknya, saya tahu apa yang saya alami.
Seperti menuju ke sebuah tempat, tetapi mau tak mau harus melewati jalan yang tak hanya mendaki, tetapi berbatu, lalu dilanjutkan dengan jalan berlubang dan becek.
Jalan ini akan terlewati, dan saya akan sampai pada tujuan. Meskipun saya tak tahu berapa lama lagi harus berjalan melewatinya. Jadi semua ketidaknyamanan itu harus dijalani, sambil belajar sabar dan mencari jalan untuk melewatinya lebih cepat dan aman.
Saya beruntung Abah Fayyadh mengerti akan hal ini. Jadi jika Magrib tiba dan saya mulai mellow, alih-alih kabur (dia tak tahan melihat saya menangis), dia akan menemani sampai tangis saya reda.
Bagaimana dengan keluarga yang lain? Tidak ada yang paham. Dan kamipun tak bercerita pada yang lain. Namun saya begitu bersyukur Ibuq dan para bibi yang tinggal di rumah tidak begitu saklek melarang ini itu. Dan mengizinkan saya beraktivitas semampu saya. Bahkan sekedar mencuci underwear sendiri membuat saya merasa 'kuat dan bisa'.
Jadi dear calon ibu, calon ayah, dan keluarga calon ibu dan ayah. Selain membantu sang calon ibu dan bayi secara fisik, hadirlah dengan membantu secara psikologis.
Memang bayi secara fitrah adalah pusat perhatian, tetapi ibunya juga butuh hal itu. Setidaknya ada dukungan positif. Bagaimanapun cara persalinannya, jika tak bisa memuji berikanlah komentar yang membangun. Yang bisa membuat ibu tersenyum (tanpa paksaan). Lebih baik lagi bisa membuatnya bersyukur.
Minimalkan larangan dan kritik, setidaknya untuk dua minggu ke depan. Atau jika tak tahan, jangan katakan di depan banyak orang. Bisiki dengan lembut ketika sendiri.
Percayalah, pada saatnya nanti kami akan bisa melihat jika semua larangan dan kritik itu diniatkan untuk kebaikan kami. Tapi butuh waktu. Karena seperti kata Ibuq "Mereka berani berkata ini itu karena mereka pernah merasakan, dan tidak ingin kamu mengalaminya."
Karena seperti hantu, tak semua orang bisa melihat baby blues dan tahu bagaimana menghadapinya. Dan semua komentar, larangan, dan nasehat tapi yang disampaikan dengan cara kurang baik itu laksana garam yang ditabur pada luka.
Terkhusus untuk calon ibu, ingat persiapkan psikologis diri. Karena selain butuh semua perkakas yang bisa diunggah fotonya ke medsos, bayi juga butuh ibu yang bisa menjalani hidupnya sebagai ibu dengan bahagia.
Comments
Post a Comment