Skip to main content

RUAM POPOK: SALAH ORTU ATAU POPOKNYA?

"Yaa Allah, pantesan! Coba liat Bik." Saya menunjukkan pantat Fayyadh pada Bik Janah. Di beberapa titik kulit sekitar anusnya bukan lagi merah muda karena radang, tapi sudah merah tua karena luka.

"Pantas selama ini kalo pipis atau pup dia nangis banget", jawab Bik Janah.

Yaa Rabb, seketika saya lemas. Dan mulai menyalahkan diri. Ibu macam apa tak tahu anaknya ruam popok?

Waktu itu Fayyadh belum genap 10 hari. Sebelumnya dia memakai popok kain bertali dua yang sehari saja cuciannya mencapai dua ember. Tetapi tiga hari ke belakang kami memutuskan untuk memakaikan popok sekali pakai (pospak) karena akan ada acara di rumah selama dua hari. Tidak ada tempat menjemur pakaian dan tentu saja lebih praktis, begitu pertimbangannya.

Tetapi yang terjadi, sungguh diluar dugaan. Baru tiga hari dan ruamnya sudah separah itu.

Seketika kami hentikan pemakaian pospak dan tisu basah lalu kembali pada popok kain. Tak lupa mengoleskan krim ruam popok tiap selesai membersihkan pipis atau pup nya.

Namun masalah lain muncul. Karena frekuensi pipis dan pup Fayyadh masih tinggi, tidurnya jadi tak nyenyak karena sering terbangun dan menangis. Dan tentu saja menjadi rewel.

Alhamdulillah kita hidup di jaman dengan segala kemudahan akses informasi, saya kemudian browsing dan browsing. Artikel berbahasa Indonesia hampir semuanya menyarankan untuk menghentikan penggunaan pospak. Tetapi ada artikel berbahasa Inggris yang menyatakan justru tetap memakai pospak mempercepat penyembuhan ruam dengan catatan rajin diganti.

Karena pospak memiliki zat yang cepat menyerap cairan jadi popok akan cepat kering. Beda dengan popok kain yang tetap basahdan berisiko lebih lembab jika tidak segera diganti. Keadaan tersebut bisa memperparah iritasi kulit.

Jadi, saya memilih melanjutkan memakai pospak tetapi mengganti merk-nya dan setiap cebok tidak menggunakan tisu basah melainkan kapas yang dicelup air. (Padahal di keperawatan juga diajarinnya begitu, tapi namanya emak baru ingin praktis dan daripada tisu basah yang banyak dikasi ngganggur ya pan?) 😌😌😌

Selain itu, saya merunut beberapa kemungkinan mengapa ruam Fayyadh begitu parah padahal baru tiga hari. Yakni:
a. Kulit Fayyadh sensitif
Ini juga bisa jadi masalah. Karena banyak bayi walaupun memakai merk pospak jenis apapun dan jelas-jelas lama diganti sekalipun tidak mengalami ruam popok.
b. Tidak cocok dengan merk pospak (dan tisu basah)
Pospak pertama yang Fayyadh pakai adalah merk Syensi dan tisu basahnya pakai Pasio tissue bayi. Saya pakaikan itu karena dari semua pospak hadiah para bibi, itu yang ukurannya paling kecil.
Jadi sekarang saya tahu tidak akan membeli merk itu lagi.
c. Frekuensi pup
Saya perhatikan Fayyadh cenderung mengalami ruam popok jika ia sering pup. Ruamnya juga hanya di area pantat. Setelah berumur lebih dari 40 hari Fayyadh biasanya pup sekali seminggu dan banyak (toleransi pup bayi ASI eksklusif adalah sampai 14 hari). Tetapi tak jarang tiap hari atau 2-3 kali sehari.
d. Waktu pemakaian yang lama
Saya lupa berapa lama persisnya mengganti pospak. Yang jelas lebih dari standar yakni 4 jam.

Belakangan saya makin belajar. Tidak harus saklek 4 jam juga tetapi dicek keadaan pospaknya. Jika lebih dari 4 jam tetapi masih kering ya bisa dibiarkan. Tetapi jika kurang dari itu sudah penuh segera diganti, apalagi jika bayi pup.

Daaaan, ruam popok terjadi BUKAN KARENA KELALAIAN ORANG TUA. Kecuali jika orang tua memang tidak memperhatikan kebersihan dan mengganti popok lebih dari 10 jam misalnya, itu lain lagi.

Jadi kurangi terlalu cepat menyalahkan diri ya Mak, kalo introspeksi diri mah, monggo 😉

Sebagai pencegahan, sekarang saya rutin memberikan minyak kelapa atau minyak zaitun di 'underwear area' sebelum memakai popok. Juga memberlakukan 'no diapers time' setiap hari. Biasanya pada siang hari jika Fayyadh tidak tidur saya taruh di atas perlak kemudian mengajak bermain atau sekedar ngobrol. Jika pipis atau pup tinggal dibersihkan. Kadang-kadang celana kainpun nggak pake 😅

Sudah begitupun, masih terjadi merah-merah. Ya sudah saya ganti minyak zaitunnya dengan krim anti ruam, jika merah sudah berkurang dan akan mulai sembuh, saya pakaikan lagi minyak kelapa atau zaitun.

Kadang saya bubuhkan baking soda di air mandinya dan membiarkan pantatnya berendam selama 10 menit. Biasanya sembuh lebih cepat.

Untuk catatan, saya akan tuliskan review dari beberapa merk pospak yang pernah Fayyadh coba. Sejauh ini ada 4, yaitu:
1. Syensi
Kalau maskernya paling mahal di kelasnya, justru pospak merk ini paling murah dibanding yang lain. Ukuran S muat untuk bayi dengan BB 3-7 kg. Tebal popok standar, dengan motif dominan warna hijau. Selain dicurigai sebagai penyebab ruam popok, waistband-nya juga meninggalkan bekas pada pinggang Fayyadh. Jadi, nggak lagi-lagi deh pake yang ini.
2. Suiti
Merk ini ada tiga tingkat, perunggu, perak, emas. Saya pernah coba yang perunggu dan perak aja. Dan kok lebih sreg yang perunggu daripada perak ya? Dua-duanya tebal dan belum tiga jam biasanya sudah lembab. Memang lebih lembut yang perak tetapi rentan bocor. Saya pernah menyusui Fayyadh sambil tidur miring dan kena pipis padahal pakai pospak. What the...?
3. Mumu Puku Ekstra Kering
Sesuai namanya, pospak ini memang cepat sekali kering. Saya pernah iseng mengganti pospak setelah 9 jam (klaim di bungkusnya bilang 'tahan 10 jam') dan benar, walaupun sudah penuh permukaannya tidak lembab. Pernah bocor juga. Ketebalannya standar, sayangnya ukuran M sudah meninggalkan bekas di pinggang Fayyadh. Apalagi yang S, padahal BBnya paling baru 5kg 😅
4. Mirris
Produk Kao ini sesuai dengan klaimnya memang lembut dan tidak meninggalkan bekas waistband di pinggang Fayyadh. Selama pakai ini belum ada kejadian pospak bocor. Tebal standar. Menyerap juga cepat tetapi permukaannya tidak sekering Mumu Puku.

Demikian review yang bisa saya berikan. Tentu saja reaksi dan kebutuhan tiap bayi berbeda. Silakan dicocokkan dengan selera masing-masing. Seperti insiden pospak bocor, keaktifan gerak Fayyadh juga sepertinya berpengaruh banyak 😂

Bagaimana dengan clodi (cloth diapers)? Well, saya belum mencoba. Semoga bisa segera dan cocok karena sudah merasa bersalah membuat begitu banyak sampah setiap hari.

Tidak bermaksud memulai Mom War yaa. Apalagi mendiskreditkan merk tertentu. Tulisan ini murni untuk berbagi dan mengabadikan pengalaman.

Selamat akhir pekan Mom!
Jangan lupa bahagia 😘

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...