Suara azan sudah berkumandang 15 menit yang lalu. Dingin subuh menyesap di kaki dan tanganku. Ku tarik lagi selimutku, memastikan tak ada badan yang tak tertutupi selain wajah. Hmmm.. hangat. Di kamar sebelah, terdengar krasak krusuk paman-paman dan sepupu-sepupu yang menginap sejak kemarin. Mereka beranjak mengambil air wudhu.
Sayup-sayup suara mereka masih terdengar. Namun tak lama kemudian semakin menghilang hingga hening yang tersisa. Rupanya aku tertidur. Entahlah sudah berapa lama sejak janji 'lima menit lagi mumpung orang-orang masih pake kamar mandi' berlalu. Aku terlonjak bangun. Belum sholat subuh.
Ketika aku keluar rumah, hanya mengenakan baju tidur Hello Kitty berwarna hijau buluk. Aku ternganga melihat matahari yang sudah terbit. Udara sudah hangat bahkan cenderung panas. Tuhan, apa yang aku lakukan. Subuhku tertinggal karena tidur!
Napasku memburu, jantungku berdetak keras seperti akan keluar dari rongganya. Masalahku bukan hanya meninggalkan subuh, tapi ternyata kamar mandi kami rusak seperti terkena reruntuhan dan terbakar. Yang tertinggal hanya puing-puing yang berwarna hitam. Dan ketika aku menatap langit, napasku seperti terhenti.
Disana seperti ada kabut berbentuk gunung. Namun puncaknya tak hijau tetapi abu pekat. Di sisi bawah tampak angin tornado berputar-putar. Menyedot udara naik ke atas. Yang membuatku lebih takjub, seperti ada halo yang mengelilinginya. Tak seperti halo yang biasanya berbiaskan pelangi, halo ini berwarna hijau kiwi dan ungu seperti anggur. Tampak kilauan mutiara berwarna senada yang berputar di sekitarnya.
Sejenak takutku akan gunung kabut dan angin tornado terlupa, akupun memanggil Windi agar melihat indahnya halo. Ia segera datang, dan takjub tentu saja. Namun ketakjuban kami hilang tak berbekas ketika langit mulai menurunkan hujan api. Suaranya mendesis ketika jatuh di tanah, atap bangunan, kayu. Dan semuanya mulai terbakar lagi. Lalu disusul dengan meteor-meteor hitam sebesar ember. Kemudian lebih besar lagi bahkan sampai sebesar motor. Semua orang berhamburan. Berlari menyelamatkan diri dibawah bangunan terdekat. Memekik minta tolong. Menyeret anak-anak. Menutup semua pintu.
Ketika aku berhasil masuk rumah, aku mencari kamar mandi yang masih bisa berfungsi. Seluruh badanku bergetar keras. Gemetar ku paksakan tangan membuka keran. Berwudhu sebaik mungkin. Dingin air yang biasanya mampu menyejukkan tak dapat sedikitpun menenangkan napasku yang tersengal-sengal. Pikiranku berlarian, seribu satu hal berebut menjadi prioritas utama. Namun, sebaris kalimat terulang-ulang di dalam kepalaku seperti kaset rusak. Ini belum lagi kiamat, tapi masih bisakah diterima jika subuhmu kau tunaikan sekarang?
Comments
Post a Comment