Skip to main content

COMEL IN MEMORIAM: PELAJARAN TENTANG TANGGUNG JAWAB

Malam tepat dua minggu yang lalu, sekitar jam 21.15 saya sampai di kontrakan sepulang piket siang. Hujan baru saja reda. Menyisakan hawa dingin, tempias dari genteng, dan jalanan yang becek.

Setelah mematikan mesin motor, saya merapikan jas hujan yang tadinya hanya dilipat sembarangan. Lalu samar-samar terdengar eongan kucing. Terus menerus tanpa henti. Dari suaranya, sepertinya anak kucing.

Khawatir jatuh atau terperangkap dimana, saya membuka pintu dan mengucap salam. Lalu tanpa ba-bi-bu mengajak suami keluar.

"Ada suara anak kucing, takutnya mereka kejebak atau gimana. Habis hujan gini. Bawa senter ya?"

Suami yang masih bergelut dengan tesisnya segera bangkit. Entah karena jiwanya yangbteramat baik atau tak mau menghadapi resiko diambuli pecinta kucing yang sedang hamil 😅

Kamipun berjalan ke arah suara itu terdengar. Ternyata datang dari rumah kosong yang berjarak tiga rumah dari kontrakan kami. Tepatnya, di atas loteng. Disana, seekor anak kucing berwarna putih tampak mengeong terus menerus. Sendiri, tak tampak induknya dimanapun.

Lantas, dari rumah di kiri kami muncul seekor lagi berwarna hitam. Berjalan tergopoh-gopoh meskipun masih goyang. Mengeong dengan nyaringnya. Seperti melaporkan kronologis kejadian yang tentu saja tak kami mengerti kecuali ekspresi cemas di dalamnya.

Bulu-bulunya basah. Mungkin si hitam ini terjatuh dari loteng. Lalu 'meminta bantuan' ke tetangga sekitar yang rata-rata sudah menutup pintu. Tapi mungkin suaranya tertelan deru hujan. Atau memang sudah berjodoh dengan kami.

Setelah sekian menit menyaksikan kedua kucing ini saling menyahuti, kami putuskan membawa si hitam yang kemudian saya namai Cemong (karena mukanya Cemong secara harfiah 😬) ke rumah. Mengeringkan bulu-bulunya dan menaruhnya di dalam kardus yang sudah diberi alas.

Untuk saudaranya yang putih kami akan rescue besok pagi setelah meminjam tangga.

Cemong ternyata tipikal kitten yang manja. Akan terus mengeong sampai kami membiarkannya naik di pangkuan. Disana dia akan berjalan-jalan sebentar untuk kemudian diam dan tertidur.

Paginya ketika saya keluarkan di halaman, anak-anak yang sedang bermain melihatnya dan mengajak bermain. Kemudian mengalirlah cerita jika sebelumnya di loteng rumah tersebut sebenarnya ada empat ekor kucing. Tapi beberapa hari yang lalu dua orang 'mas-mas' mengambil yang dua ekor menggunakan tangga. Menyisakan yang dua ekor lagi.

Saya kemudian pamit untuk mencuci di belakang. Tanpa tahu anak-anak yang datang semakin ramai. Menjelang siang, dari mereka masuk rumah.
"Mbak Fitri.. Mbak Fitri.." suaranya terdengar urgen. Saya menghentikan kegiatan menjemur lalu keluar. Dan olalaaa..

Di gendongan Ata, anak tetangga kami, tampak seekor kucing putih yang tampak bingung.

"Iki loh Mbak saudaranya Cemong. Tadi aku liat di dekat rumput. Tak pikir opo putih-putih, terus gerak-gerak. Aku wedi megang-e Mbak, makanya Ata sing ngambili." Jelas Aira, anak tetangga juga.

"Yo wis, coba lepasken. Biar main sama Cemong."

Dan benar, mereka langsung saling mendekat dan mengendus satu sama lain. Yang anak-anak dengan polosnya diartikan sebagai "Mbak, ciuman kucingnya Mbak!" 😂

Si putih yang belang tiga itu ternyata unyu sekali. Mukanya lebih pasrah ketimbang Cemong yang bersemangat. Tapi lebih gendut dari Cemong dan jalannya masih belum stabil. Jadilah namanya Comel.

Saya yang excited kemudian mengirim foto Cemong ke bibi yang sedang di rumah. Kami sama-sama pecinta kucing. Lalu muncullah titah yang menjadi awal kegalauan itu.
"Ibuq nggak ngasi kalo side pelihara."

Jreng.. jreng..
Ya, saya mengerti. Kondisi hamil membuat seseorang harus berhati-hati. Mungkin Ibuq tak sempurna paham sampai toxoplasmosis, tapi beliau tahu memelihara kucing memiliki resiko tersendiri.

Belum lagi jika bicara tanggung jawab. Memelihara berarti kami harus memenuhi haknya dengan baik. Apalagi ini kucing mungkin baru berusia 2-3 minggu, jelas butuh perawat intens.

Saya bicarakan dengan suami, katanya "Bilang sama Ibuq, yang pelihara suamimu, bukan kamu."

Tuing.. Tuing.. Memang apa bedanya?

Dan ya benar, walaupun sudah ada MOU yang sayangnya tidak ditulis hitam diatas putih, pada akhirnya sayalah yang lebih banyak mengurus kedua kucing itu karena suami sibuk di kampus.

Lalu entah bagaimana kegalauan saya mulai menjadi. Takut akan terjangkit toxo dan membahayakan janin di dalam kandungan. Sementara kami belum mendapatkan orang lain yang mau memelihara mereka. Ditinggal di pasar atau tempat lain, tak tega.

Lalu mulailah saya membatasi interaksi dengan keduanya. Mereka yang tadinya bebas masuk rumah kini terbatas hanya di halaman depan atau belakang. Tak tega rasanya melihat mereka mengeong di depan pintu. Sampai beberapa kali tertidur di atas sandal kami. Tapi bagaimana?

Kegalauan semakin menjadi ketika Comel mulai lemas Hanya hitungan hari tetapi kondisinya. Kesibukan membuat saya tak lekas menyadari bahwa dia sebenarnya diare.

Mungkin tak cocok susu/makanan, atau stres, atau faktor cuaca lainnya. Yang jelas setelah saya beri obatpun keadaannya tak kunjung membaik. Sampai di titik mengikhlaskan jika dia memang harus pergi. Tapi ternyata, Comel bertahan.

Suami yang tak tahan melihat saya baper akhirnya menghubungi temannya yang juga pecinta kucing. Dan alhamdulillah mau menerima mereka.

Lalu terjadilah perpisahan kami. Sambil membelai keduanya saya minta maaf jika tak mengurusnya dengan baik dan lebih memilih tidak mengambil risiko untuk janin saya. Dan mendoakan mereka supaya mendapat rumah dan empunya yang lebih baik.

Dan alhamdulillah, Ukhti Novica adalah empunya yang sangat telaten. Memberi mereka makanan dan obat, serta rumah yang lebih hangat. Meskipun untuk itu harus menghadapi risiko ngambek dari dua kucingnya yang lain.

Kami intens berkomunikasi. Menceritakan perkembangan Cemong dan Comel yang masih juga diare. Tetapi kondisinya sudah jauh lebih baik. Meskipun sedikit sedih karena ketika menjenguk kesana mereka sudah tak mengenali saya. Hiks..

Alhamdulillah, setidaknya saya tenang. Mereka insya Allah sudah di tangan yang tepat. Dan rasa bersalah pun sedikit tertangguhkan.

Tetapi rupanya ketenangan saya tidak berlangsung lama. Karena dua malam lalu masuk wa dari Ukh Novica yang mengabarkan jika kondisi Comel ngedrop.

Lalu esok paginya sudah pergi dan akan dikubur.

Sayapun maklum. Dengan kondisi diare yang tak membaik sudah keajaiban Comel bisa bertahan sampai seminggu. Dulu kitten di rumah pergi hanya selang dua hari sejak diare tak berhenti.

Namun saya tak bisa mencegah rasa bersalah yang begitu dalam. Karena semasa dalam perawatan kamilah mereka mulai diare.

Berbagai teori saya pikirkan. Juga kalimat  dari satu artikel yang mengatakan jika 'Merawat kitten memang harus berbesar hati. Meskipun sudah dirawat dengan telaten banyak yang tidak bisa bertahan hidup.'

'Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.. (Q.S Ali Imran 185).

Comel sudah pergi, dan tidak akan diminta pertanggunganjawab. Beda dengan saya.

Pada saatnya nanti, saya hanya bisa berharap Comel memaafkan khilaf kami dan mau bersaksi yang baik tentang saya.

Selamat jalan Comel, terimakasih telah mengajarkan arti tanggung jawab. Semoga ke depannya saya lebih baik lagi dalam menjaga dan merawat titipan Allah, apapun itu.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...