Kabhi Kushi Kabhie Gham adalah salah satu film India favorit saya sepanjang masa. Nonton berkali-kali, masih nangis juga berkali-kali. Yang berbeda mungkin adalah dulu saya ikut menari-nari, tapi sekarang duduk anteng bak ibu peri. Uhuks.. maksa.com
Karakter favorit saya adalah Anjali. Yang ceria, ceroboh, tapi ternyata baperan daaaan sangat mencintai India. Sampai setelah menikah dan tinggal di London selama 10 tahun, dia masih selalu membanding-bandingkan India dan London, tak lupa menularkan virus yang sama pada anaknya. Anaknya yang London's kids tentu ogah, tapi di akhir cerita dikisahkan sampai bisa mengajak teman-teman sekelasnya menyanyikan lagu kebangsaan India 'Jaana Gaana Maana'.
Agak overdramatis, tapi namanya juga film 😂
Semasa tinggal di Denpasar, sosok Anjali ini tumpah ruah di bibi saya. Seringkali setiap makan sesuatu, akan membandingkan Lombok dan Denpasar.
-Duren
Aduuuh, kebayang terus rasa duren Lombok. Ini sih baunya aja nggak ada (dibeliin duren di Renon)
-Kangkung
Coba kangkung Lombok, tumis biasa aja enak. Ini baru direbus sebentar udah coklat. (Jadi kami tidak pernah bikin plecing kecuali ada kangkung dari Lombok)
-Terasi
Mana ada mantap-mantapnya terasi sini. Itu aja Ninik (tetangga depan rumah) selalu nanya kapan ada terasi Lombok lagi.
Orang Lombok bilang 'Ndak begaq, jemaq doang mun wah ngidap ampoqne taoq kene'. Artinya, jangan heran (terhadap kelakuan orang lain), besok ketika mengalami baru akan paham gimana rasanya.
Dan yaaa good people, semenjak tinggal di Solo. Saya menjadi perwujudan bibi saya.
-Cabe
Cabe sini mana pedas. Coba di Lombok satu cabe buat satu tomat dan itu masih hah-hah. Disini? Satu tomat tiga cabe aja nggak berasa apa.
-Seafood
Cumi setengah kilo 35 ribu. Bayangin! Mana pilihan ikannya itu-itu aja lagi. Coba di Lombok, tinggal pilih mau ikan apa.
-Tempat wisata
Pantai? Mana ada di Solo 😏
Air terjun? Bagusan juga di Lombok.
Spot foto di atas bukit? Di Lombok juga banyaaaaaak, lebih keren-keren lagi darisini.
Dan masih banyak lagi yang lainnya. Jeng.. jeng.. (main gitar ala Bang Haji)
Menyebalkan sekali, believe me I knew 😂
Maka dari itu saya bersyukur suami masih bisa tersenyum semanis sakarin dan nanya "Terus maunya apa? Pulang ke Lombok cuman buat beli cabe en kangkung?"
Tidak sampai menarik-narik rambut lalu setelah itu membenturkan kepala di dinding sambil berteriak "Lah aku kudu piye???" 😁😁😁
Dulu, awal-awal tinggal di Denpasar seorang teman bercerita dengan kesal. Teman kami, yang juga tinggal di Bali menyinggung perasaannya. Ketika ditanya kapan pulang, ia menjawab dengan "Pulang ke Lombok? Yang kumuh itu?"
Saya merasakan ketersinggungan yang sama, tetapi tak menampik jika kala itu memang Lombok jauh tertinggal dari Bali. Mungkin sampai sekarang masih. Secara penataan kota, kebersihan, keamanan, pokoknya Sapta Pesona Pariwisata.
Perlu diketahui, Bali juga punya beberapa titik kumuh, dan daerah yang kering sehingga warganya harus menadah hujan untuk mendapatkan air bersih. Ini mungkin yang tidak diketahui kedua teman saya tadi.
Dan lihatlah sekarang, Lombok mulai berbenah. Belum 100% indah di semua bidang, tetapi menuju kesana. Entah apa komentar si teman yang dulu berkata kumuh 😅
Daerah kelahiran, seperti keluarga. Ada hal-hal yang akan selalu membuat kita bersedia membelanya mati-matian. Bagaimanapun keadaannya.
Tetapi tak lantas hal itu menjadikan kita fanatik buta. Malah dalam Qur'an pun kita disuruh untuk menjelajahi bumi, agar kita tahu kebesaran Allah.
Merantaulah..
Maka Mbak akan tahu jika lu/gue bukan bahasa orang belagu.
Merantaulah..
Maka Mas akan mengerti jika budaya kerja tak melulu mendewakan senior.
Merantaulah..
Maka netizen tidak akan meributkan kaki yang diangkat sebelah ketika ijab kabul.
Sewaktu di Lombok, saya bisa melihat banyak sekali hal yang harus dibenahi. Sampai pada titik jenuh ketika ingin pergi. Tetapi ketika keluar, hanya hal-hal baik yang tampak di pelupuk mata.
Namun bagaimanapun, saya bersyukur diberikan kesempatan tinggal di beberapa tempat berbeda. Belum seperti kebanyakan perantau, tetapi sudah banyak memberikan manfaat. Saya bisa belajar karakter banyak orang, bertemu saudara-saudara baru, dan menemukan diri saya sendiri. Dan seterusnya..
Meskipun begitu, ketika menyebut pulang, Lomboklah yang terbayang..
Comments
Post a Comment