"Pernah nonton film 'Up' nggak?" Tanya saya pada suami sesaat setelah kami keluar bioskop.
"Yang mana?" Tanyanya balik.
"Film animasi yang kakek-kakek bawa rumahnya terbang pake balon."
"Ah, yang itu. Kenapa?"
"Nonton itu aja aku nangis loh, apalagi yang beginian.."
Entah ada apa dengan film keluarga, tapi sedari dulu selalu bisa membuat kelenjar lakrimalis bekerja lebih berat. Uhuks..
Film 'Bunda, Kisah Cinta 2 Kodi' sudah mencuri perhatian saya semenjak seminggu yang lalu. Thanks to review dari orang-orang keren yang berseliweran di timeline.
Untuk saya pribadi, film ini insya Allah akan memorable. Kisahnya membumi, nyata, dan memang banyak terjadi. Tak tertutup kemungkinan saya pun bisa mengalaminya kelak, tapi semoga tidak. Untuk itu saya ingin menuliskan poin-poin yang sebisa mungkin saya hindari negatifnya dan ikuti positifnya.
1. Tentang masa lalu
'Setiap orang memiliki kesalahan. Dan hanya orang bijak yang akan bisa menempatkan kesalahan kemarin di hari kemarin, dan kesalahan hari ini di hari ini.'
Itu salah satu nasihat yang pernah saya baca. Indah, namun belum sepenuhnya saya pahami sampai saya mengalami. Dan menonton film ini juga semakin menegaskan maknanya.
Kebanyakan orang tak suka mengaku salah, diketahui salah, apalagi salahnya selalu diungkit-ungkit. Jika kesalahan kemarin kita gabungkan dengan kesalahan hari ini, maka pasangan atau siapapun itu tak akan pernah memiliki nilai lebih. Because their mistakes are too much.
Padahal, dengan bibir yang sama kita juga telah berucap memaafkan mereka. Namun hati seringkali masih menyimpan luka. Tanpa sadar menjadi timbunan bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Solusi: belajar maafkan sepenuh hati seperti bagaimana kita ingin dimaafkan, dan jadikan pelajaran.
2. Tentang asumsi
Adalah wajar memiliki prasangka. Karena manusia memang diciptakan seperti itu. Belum lagi menghitung setan yang tak henti membisikkan pikiran negatif.
Seringkali terlalu dituruti, sehingga menganggap asumsi pribadi sebagai kebenaran hakiki. Tanpa pernah tabayyun alias kroscek kebenarannya pada orang lain.
Hasilnya?
Kita dongkol, lalu benci menjadi bekal yang menjadi-jadi. Sosok yang tadinya malaikat seketika menjadi penjahat terbejat.
Solusi: Tanyakan yang terjadi sebenarnya, bila perlu katakan yang kita pikirkan. Pertengkaran yang sehat kadang bisa menjadi jalan untuk lebih saling mengerti.
3. Tentang nafkah
Salah satu penyebab lelaki disebut pemimpin wanita di Surat An-nisa adalah karena mereka memberi nafkah kepada keluarganya.
Namun seringkali kondisi ini tak lagi ideal, karena sesuatu dan lain hal wanitalah yang harus bekerja. Atau mendapatkan materi yang berlebih.
Mungkin pada awalnya ada perjanjian yang disepakati kedua belah pihak. Namun kelelahan, ketidakseimbangan peran, dan komunikasi yang tak lagi sehat dapat mengubah semua ini.
Tak sedikit kemudian perempuan yang ngelunjak, dan lelaki yang egonya tertekan akan marah. Sehingga anak-anak yang jadi korban.
Solusi: salah satu kemuliaan lelaki terletak ketika ia bekerja. Apapun itu. Dan sebagai wanita hendaknya selalu bersyukur pada suami. Meskipun belum bekerja, pasti ada (banyak) kebaikan lainnya yang dimilikinya. Salah satunya: surga kita terletak pada ridhonya.
4. Tentang anak-anak
Anak-anak yang tadinya manis dan penurut suatu ketika bisa berubah. Tak hanya mengecewakan, tetapi juga menyakiti.
Tak akan ada asap jika tak ada api. Perilaku buruk anak seringkali adalah kode jika ada yang salah dengan pengasuhan. Karena tak semua anak bisa mengungkapkan langsung apa yang mereka rasakan.
Sedihnya, the most unloving kids will seek attention in the most unloving way.
Solusi: Mulai introspeksi diri. Dan jangan malu untuk bertanya pada ahlinya. Jaman now banyak grup parenting dan sejenisnya yang memiliki psikolog yang siap berbagi ilmu.
5. Tentang harapan
Masing-masing kita sebelum menikah biasanya memiliki harapan tentang pasangan dan kehidupan setelah menikah.
Kemudian hari berganti dan kita harus menerima bahwasanya harapan itu kadang lebur terbentur kenyataan.
Mungkin sampai pada titik tidak ada lagi kebaikan yang ada pada pasangan, karena tertutupi tembok kekecewaan.
Solusi: Pasangan kita tetap orang yang sama. Yang dulu pernah dan mungkin selalu menerbitkan senyum dan membawa buncah bahagia di hati. Rehatlah sejenak lalu berjuanglah untuk melihatnya dari sisi lain. Deep down in your heart, you know that her/she is still the same person. Karena boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya.
Barakallah untuk semua kru film ini, semoga lebih banyak lagi yang menonton dan mendapat banyak pelajaran 🤗🤗🤗
Comments
Post a Comment