Skip to main content

Orangtua Yang Tak Dewasa

"Adik asuh itu bukan milik pribadi, tetapi tanggung jawab bersama. Jadi silakan mengingatkan jika memang ada yang salah. Dan adik-adik juga tidak boleh hanya patuh pada Kakak asuhnya saja."

Ini teguran sahabat saya dulu waktu kami jadi panitia Masa Orientasi Siswa dulu. Ada gesekan di antara kami ketika rekan OSIS lain dianggap 'terlalu ikut campur' pada kelompok adik asuh yang bukan adik asuhnya.

Qadarullah, beliau menjadi seorang guru sekarang. Barakallah..

Adalah rasa memiliki atau mungkin ego yang saya rasakan saat itu. Bahwa adik asuh saya yang terbaik, mereka disiplin dan patuh, sehingga rekan lain tidak boleh seenaknya memarahi atau menghukum. Yang paling tahu mereka kan saya.

Padahal, interaksi hanya di kelas saja. Dan hanya beberapa saat saja. Siapa yang bisa menjamin perilaku mereka saat tak berada di pengawasan saya?

Mungkin kesalahan ini yang dimiliki orang tua jaman now. Terlalu sayang, rasa memilikinya besar, dan merasa tahu segala. Sehingga tak ada yang boleh marah kepada anak kecuali mereka sendiri.

Atau mungkin kecilnya terlalu sering dimarahi atau ada trauma tertentu pada guru sehingga memancing gampangnya melakukan kekerasan pada guru ketika anak melapor dimarahi.

Wallahu'alam. Saya belum menjadi orangtua, akan insya Allah. Karena itu saya sangat bersyukur kesalahan masa remaja saya dulu langsung mendapat teguran dan saya menyadari jika saya salah.

Dan dari segala hal yang harus dipersiapkan, semoga saya sudah punya bekal mental. Sehingga esok lusa ketika si kecil menangis dan merajuk mengatakan dimarahi gurunya di sekolah, saya akan menunggu tangisnya reda. Lalu bertanya baik-baik. Jika dirasa ada yang tak beres, akan berangkat ke sekolahnya dan bertanya baik-baik apa yang sebenarnya terjadi.

Kepada teman-teman yang telah dan akan menjadi orang tua. Tantangan jaman now semakin berat. Karena itu, jika ingin anak tak bermasalah maka selesaikan dulu masalah dengan diri sendiri.

Ibu yang tidak pede dengan k fisiknya bisa tanpa sadar 'menurunkan' kerendahdirian yang sama pada anaknya. Sehingga ketika ada yang kurang sedikit, maka anak akan mulai mengeluh dan tidak bersyukur.

Rasa tidak terima, trauma masa lalu, kekecewaan yang dipendam. Semuanya. Maafkan, dan selesaikan. Karena tak jarang, ia menjadi hantu ketika mendidik anak-anak.

Sehingga ketika menjadi orang tua, bukan hanya umur yang bertambah. Tetapi kita juga bisa mendewasa dalam setiap proses.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...