Bukan, ini bukan tentang menjaga perasaan cinta. Ada jauh lebih banyak orang yang lebih mumpuni untuk membahasnya. Yang telah teruji cintanya setelah bertahun-tahun bersama.
Sebaliknya, saya ingin menulis tentang perasaan buruk pada pasangan.
Beberapa pagi lalu, saya memposting 'kemenangan' saya dalam perang bully dengan suami. Can't resist the sweet feeling of victory 😅
Rupanya, suami tak suka dengan postingan itu. Karena saya menarasikannya sebagai 'suami yang zalim' (his word exactly, not mine). Padahal, niatnya untuk lucu-lucuan. Bahwa dalam beberapa hal istri juga harus pede dan tebal muka. Uhuks..
Tetapi kembali, beda pemikiran beda pula penafsiran. Belum lagi orang-orang yang berpikiran jika suami keterlaluan. Yang sebenarnya jauh panggang dari api. Jadi, untuk kemaslahatan bersama, saya menghapus postingan tersebut 🤗
Hari kami kemudian berjalan seperti biasa. Masak dan sarapan bersama, beberes rumah, lalu berangkat ke Festival Jenang. Tetapi jauh di dalam hati saya was-was menantikan sesuatu.
Percaya atau tidak, jika saya melakukan kesalahan pada suami, maka 'hukumannya' nyaris selalu instan 😢
Pernah kami kedatangan tamu, dan untuk menemani lauk saya memintanya membeli kerupuk. Suami berkata 'iya' namun belum juga beranjak karena masih diajak ngobrol oleh tamu kami. Lalu saya berinisiatif keluar membeli bersama teman.
Suami bilang "Tunggu sebentar, biar aku aja."
Tapi saya ngeyel dan menyalakan motor. Keluar dibonceng teman. Belum sampai di belokan yang jaraknya 20 meter, ndilalah hujan turun dengan derasnya. Memaksa kami berbalik arah.
Suami hanya mesam-mesem melihat kami yang kembali dengan titik-titik air di wajah dan jilbab. Dan secara ajaib hujan yang sedemikian deras menghilang tanpa jejak sepuluh menit kemudian.
Kembali ke insiden postingan 'suami zalim'. Sampai Zuhur, semuanya masih berjalan seperti biasa.
Entahlah jika teman yang harusnya saya hampiri ternyata tak ada di kos juga terhitung 'hukuman'. Setelah sholat, kami mampir di kedai es teler. Rupanya, 'hukuman' untuk saya dimulai darisana.
Karena suami ada janji di kampus, maka kami berpisah disana. Dia naik Go-jek dan saya pulang sendiri. Sampai rumah, baru sadar bahwa kunci pintu dibawa suami. 'Ah, pintu samping terbuka. Pintu belakang mungkin saja belum dikunci,' pikir saya.
Ternyata, semua pintu terkunci. Sak jendela-jendelanya. Mau menelpon, hape yang lowbat langsung mati dengan manisnya. Tengok kiri-kanan, pintu rumah tetangga rata tertutup. Dengan mobil yang tak ada di garasi. Hiks..
Bukannya bisa langsung ngadem dan rebahan, malah harus naik motor lagi di teriknya siang. Saya menimbang-nimbang harus kemana. Ke kampus suami, jauh. Dan tempat janjiannya entah dimana. Maka terpaksa klinik menjadi pilihan. Setidaknya disana ada telpon dan charger untuk dipinjam.
Sampai di klinik teman-teman heran, karena saya baru akan piket malam nanti. Setelah menjelaskan mereka hanya tertawa dan salah seorang meminjamkan chargernya. Sambil menunggu hape terisi, saya menelpon dengan telepon klinik. Suami tak mengangkat.
Beberapa menit setelah dicharging saya nyalakan hape. Kemudian membaca pesan dari suami yang katanya pulang akan pulang. Kelelahan membuat saya untuk istirahat di klinik saja. Tapi tidak, pesan di wa jelas, saya diminta pulang.
Maka tak sampai sepuluh menit disana, saya sudah melaju lagi di jalanan menuju ke rumah. See, kelihatannya sepele, tapi dengan kondisi hamil, berkendara bolak-balik di teriknya siang dengan psikis yang merasa terlunta-lunta membuat badan ini terasa remuk. A punishment indeed.
Tetapi rupanya tak hanya kepada istri. Saya sering merenung ketika merasa kesal atau marah pada suami, maka tak jarang juga ia mendapat kesulitan.
Seperti beberapa hari yang lalu saat ke Pekalongan. Saya yang khawatir ia kelelahan menempuh perjalanan 7 jam menyarankan mengisi kajian di rumah saja. Tetapi apa, jawabannya 'I'm okay, aku udah cukup istirahat.'
Huuuh.. rasanya seperti disuruh ngunyah sandal!
Saya kemudian menyabar-nyabarkan diri dengan mengingat bahwa laki-laki tak suka jika istri memperlakukannya seperti ibunya.
Tapi bagaimana, saya masih saja kesal. Sampai lima menit kemudian membacakan pesannya 'Kereta kami delay.'
Yaa Allah..
Saya menyesal.
Dulu, saya hanya diam ketika Ibuq sering bilang "Mamiqmu nggak mau belajar. Padahal seringkali kalau ibu tidak suka ia pergi kemana, pasti ada sesuatu yang jelek terjadi."
Menganggap itu hanya omelan istri yang sedang kesal. Sekarang mau tak mau saya mengingat kembali, dan memang, beberapa kali di antaranya qadarullah Mamiq mengalami/nyaris mengalami kecelakaan yang lumayan parah.
Ini bukan berarti saya mengkultuskan suami atau istri. Tidak sama sekali. Hanya ingin menuangkan buah pikir.
Jika begitu banyak cerita rezeki suami menjadi berlipat setelah menyenangkan hati istri, mengapa rezeki itu tak bisa berkurang ketika ia menyakiti hati istri? Dan sebaliknya.
Karena rezeki tak hanya berupa materi. Tetapi juga kesempatan, kemudahan, kenyamanan, kesempurnaan cintaaa #eh
Untuk istri jelas, ridho Allah ada pada ridho suami. Juga surga dan nerakanya. Maka pantas jika murka suami (dalam kebaikan) juga akan mengundang murka Allah.
Untuk istri, meskipun bakti terbesarnya tetap pada sang ibu. Tapi Qur'an sudah memerintahkan untuk memperlakukan istri secara ma'ruf. Yang salah satu artinya adalah melakukan segala kebaikan untuk mencari ridho Allah. Rasulullah Saw bersabda juga jika yang terbaik diantara umatnya adalah mereka yang paling baik terhadap istrinya (keluarganya).
Menulis ini bukan berarti saya sudah sempurna lolos dari ujian menjaga perasaan terhadap suami. Heck, saya baru saja kesal terhadapnya. Tetapi ini salah satu cara saya mengingatkan diri sendiri.
Selain memperkuat ta'awuz dan memperbanyak doa sabar ketika kekesalan dan kawan-kawan datang menghampiri. Tidak lantas simsalabim perasaan buruk itu langsung hilang, tetapi alhamdullilah selama ini bisa mengurangi intensitas ingin marah-marah, sampai di titik ketika ketemu tersangka marahnya tinggal remah-remah 😅
Perjalanan masih sangat panjang. Untuk itu baiknya kita membawa bekal yang berguna saja. Perasaan-perasaan buruk hanya akan memberatkan, jadi sebisa mungkin belajarlah mengurangi, sedikit demi sedikit.
Karena sebagaimana kita, pasangan kita juga bukan malaikat yang sempurna. Selamanya mereka akan tetap dengan kekurangannya. Pilihan ada di tangan kita, mau berdamai dengan hal itu atau tidak.
Comments
Post a Comment