Skip to main content

TENTANG KRITERIA JODOH

"Mbak, apa aku salah nolak orang karena dia kerja di tempat yang jelas-jelas penuh riba?"

Satu pesan WhatsApp masuk di suatu malam. Dengan semangat saya mengetik..

"Nggak."
"Aku mendukungmu 100%. And I'm proud of you."

Kalimat itu bukan sekedar lip service. Sungguh, saya bangga padanya. Tidak mudah menjadi seorang gadis berusia diatas 25 tahun dan belum menunjukkan tanda-tanda akan didatangi jodoh.

Sekalinya ada yang mendekat, harus direlakan karena masalah prinsip yang untuk sebagian orang adalah hal tak penting.

Apalagi jika tinggal di lingkungan yang mana perempuan seumuran biasanya sudah punya 2-3 orang anak. Maka muncullah komentar-komentar macam:
-Kamu sih terlalu pemilih, makanya jangan sombong-sombong jadi cewek.
-Standarmu ketinggian, mana ada jaman sekarang orang yang begitu?
-Inget umur, jangan keasikan sekolah en kerja.

Dear.. dear..
Apa salahnya pemilih? Perempuan itu, pembalut yang sekali pakai aja masih milih-milih merk. Apalagi suami? Yang akan jadi teman seumur hidup. Kalo nggak cocok nggak bisa langsung buang ganti yang baru.

Kemudian tentang standar yang ketinggian. Ini juga relatif. Tidak merokok pun bagi sebagian orang termasuk ketinggian, malah ada yang tak sungkan menertawakan karena hampir mustahil. Apalagi yang mau nikah tanpa pacaran. Lah, gimana mau tahu orangnya? Well, Mas, Mbak, saya sarankan Anda mainnya jauhan dikit.

Terus soal sekolah dan bekerja. Perempuan itu, akan jadi sekolah pertama untuk anak-anaknya. Sekolah dan bekerja adalah dua jalan untuk mendapat pengetahuan, pengalaman, dan perkenalan dengan orang-orang hebat yang akan menunjang tugasnya sebagai ibu kelak.

Pernikahan bukan perlombaan. Siapa cepat dia yang menang. Juga bukan  janjian dengan siapapun, sehingga jika umur sekian belum menikah maka dihitung terlambat. Apalagi ukuran kebahagiaan, karena tak sedikit orang yang telah menikah kebanyakan pembicaraannya berisi keluhan.

Pernikahan itu karunia, dan sudah Allah tentukan yang terbaik kapan waktunya. Setiap orang bergerak dengan kecepatannya masing-masing. Seperti saat kapan ia lahir dan mati nanti.

Jadi untuk saudaraku yang masih menanti, teguhkan hati kalian. Dan tegakkan kepala itu.

Tidak ada yang berhak menghakimi keputusan baik yang kalian ambil untuk hidup kalian sendiri.

Orang-orang hanya bisa menilai dari luar, dan penilaian itu tidak akan menyakiti kalian, kecuali kalian mengijinkannya.

Jika untuk menikahi seorang perempuan yang akan menjadi makmum saja patokannya adalah kebaikan agamanya, maka apakah tidak lebih pantas menghina patokan itu untuk memilih suami yang akan menjadi imam?

Percayalah, jika kita meninggalkan sesuatu yang buruk demi Allah, Ia sendiri yang akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Insya Allah.

Barakallah.. Selamat berproses dalam ketaatan. Semoga Allah segera mempertemukan dengan pangeran yang juga menjunjung tinggi ketaatan padaNya.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...