"Mau buat surat keterangan sehat (SKS) untuk apa Pak?" Saya bertanya pada dua orang Bapak yang masuk Poli Umum. Mereka sepantaran dan mirip. Umur keduanya mungkin sekitar 40an tahun.
"Buat SIM A Bu", jawab si Bapak yang berdiri. Selanjutnya saya sebut Bapak A.
"Oh nggih, tahu golongan darahnya Pak?" Saya bertanya lagi.
"A Bu." Kembali Bapak A menjawab.
"A?" Saya pastikan kembali pada Bapak yang duduk di depan meja pemeriksaan. Selanjutnya disebut Bapak B. Yang mau buat SKS siapa yang jawab siapa.
"Ia Bu, A. Waktu itu pernah diambil darah pas anak saya sakit."
Lalu pemeriksaan berlanjut. Ukur tinggi dan berat badan, cek tensi, hingga akhirnya tes buta warna.
"Tes buta warna dulu ya Pak?" Saya meletakkan Ishihara Test di depan Bapak B. Tetiba bapak A yang tadinya diluar ruangan mendadak masuk.
"Bu, dia nggak terlalu bisa yang begitu. Kalau nyetir pinter kok Bu."
Dalam hati mikir disini bukan buat tes bikin SIM tapi tetap bilang "Iya Pak. Tapi kami harus tes dulu."
Lalu saya beralih pada Bapak B dan bertanya "Ini angka berapa Pak?"
"12", Bapak A nyeletuk.
That's it!
Enough is enough.
"Bapak, mohon tunggu diluar. Yang saya perlu tes hanya Bapak B."
"Tapi Bu.. " Bapak A masih mencoba nego. Ada kecemasan di wajahnya. Sebentar lagi kayaknya keringat dingin akan muncul. Tapi saya tak mundur.
I held my head high, keep my face neutral but my eyes challenge him. I'm the nurse here. What will you do?
Syukurlah Bapak A segera mengerti dan melangkah keluar. Saya melanjutkan tes pada si bapak yang 'ternyata' biasa saja saat menjawab. Tidak benar semua memang. Delapan dari sepuluh lah. Tapi begitu juga dengan kebanyakan orang.
Lalu mengapa si Bapak A terlihat begitu khawatir?
Ketika diberi pertanyaan lebih lanjut dan tak hanya soal pemeriksaan, barulah terlihat bahwa Bapak B 'istimewa'. Gerakan dan semangat bicaranya terlalu berlebihan dibandingkan orang lain.
Pasti ada cerita lain. Tetapi waktu yang tak banyak membuat pengkajian tak lengkap.
Saya mungkin sedikit kesal dengan overprotective-nya Bapak A. Tetapi tetap menganggap yang beliau lakukan itu so sweet. That he did everything as the act of love.
Karena banyak saudara lain tak hirau ketika saudaranya memiliki 'keistimewaan'. Boro-boro diurus, disapa saja tidak. Seakan itu adalah aib.
Apalagi pada pasien-pasien gangguan jiwa. Jadwal pengambilan obat sudah diberi kelonggaran sebulan sekali. Tetapi beberapa keluarga datang hanya ketika pasien tak bisa tidur, mulai keluyuran, atau mengamuk. Itupun dengan keluhan ini itu.
Maka beruntunglah pasien-pasien yang diberikan keluarga yang supportif. Meskipun begitu, ada saatnya keluarga juga harus percaya dengan kemampuan pasien. Karena yang 'so sweet' tak akan 'so sweet' lagi jika berlebihan. Jika dibantu terus, kapan bisa mandiri?
Tetapi bagaimanapun, semoga Allah limpahkan kebaikan bagi keluarga yang ikhlas merawat pasien 'istimewa'. Karena mereka juga hanya diberikan pada keluarga-keluarga istimewa.
Comments
Post a Comment