Lembo Ade Cpc
Kemarin malam jenguk tetangga yang baru diserempet mobil. Pergelangan kaki kanan bengkak. Jika berjalan harus ngesot saking sakitnya. Syafakallah Miq Tuan.
Kunjungan itu menarik kembali ingatan ketika kaki kiri saya bengkak. Sprain karena jatuh dari tangga. Yang entah mengapa esok lusa berkembang menjadi kabar 'Fitria patah tulang belakang. Kasian ya?' di kampus tercinta Poltekkes Kemenkes Mataram.
Kejadiannya kalau tidak salah akhir semester tiga, beberapa hari menjelang yudisium dan Capping Day. Acara penyematan kap bagi mahasiswa keperawatan.
Dalam mengerjakan tugas, ada dua tipe mahasiswa. 1) Menganggap tugas ada untuk diselesaikan dan 2) Menganggap tugas ada untuk dihindari dan akan diselesaikan dengan jurus pamungkas 'the power of kepepet'. Sayangnya saya adalah mahasiswa tipe kedua dimana ketika mahasiswa tipe pertama sudah lenggang kangkung saya baru mondar-mandir dengan kecepatan 4G.
Syukurnya Allah Yang Maha Adil itu masih berbaik hati pada mahasiswa tipe dua dengan membuatnya bersahabat dengan mahasiswa tipe satu.
Adalah si Cpc, mahasiswa yang tentunya tipe satu yang pagi hari itu melingkarkan tangannya di lengan kanan saya dan berkata mantap "Ayok Mbak, Puji temenin minta tanda tangan."
Meminta tanda tangan pembimbing adalah salah satu syarat ikut yudisium. Sebagai bukti kita telah melakukan tindakan keperawatan atau menyelesaikan laporan di lapangan. Yang entah mengapa menjadi momok bagi saya. Well, nggak semua sih. Paling di stase yang saya rasa tidak menjalaninya dengan maksimal sehingga merasa berdosa minta tanda tangan banyak-banyak (ah, the joy of being perfectionist)
Lalu dimulailah petualangan hari itu. Pertama di ruang dosen untuk meminta tanda tangan Ibu Lale Wisnu. Untuk tugas asuhan keperawatan pasien gagal ginjal yang sebenarnya sudah selesai dua bulan yang lalu. Untunglah hanya dengan beliau, jadi saya hanya menerima omelan berupa "Yaa Allah, padahal kamu tinggal masuk ruangan dan bakal selesai lima menit. Apa susahnya coba? Tiap hari juga wara-wiri di kampus!" Saya hanya mengeluarkan jurus andalan mahasiswa: tertunduk pasrah, badai pasti berlalu. Dan akhirnya beliau tanda tangan juga 😅 Jazakillah khair Bu.
Meluncur ke RSUP Mataram yang kala itu masih di dekat kantor gubernur. Ruangan Kamboja done, Bougenville to go. Alhamdulillah keduanya juga selesai meskipun harus menghiba dan mendengarkan 'nasehat' yang berpuluh kali lebih pedas dari Bu Lale 😂
And the disaster begin. Ketika itu saya menuruti tangga dari Ruangan Bougenville sambil membalas sms seorang teman. Rupanya ada yang lebih tipe dua dari saya, karena ternyata dia belum minta tanda tangan di empat ruangan 😀 Cengiran kemenangan itu rupanya tak diridhoi Allah karena sepersekian detik kemudian kaki kiri kecengklak dan berguling-gulinglah saya sampai tangga terbawah dengan oh-not-so-elegant. Boro-boro jatuh cantik dan teratur kayak sinetron. Untung aja nggak langsung ada darah di dahi dan lupa ingatan. Meskipun adegan teriak dari yang ngeliat masih sama.
Selesai teriak Cpc langsung menolong saya sekaligus memberondong dengan pertanyaan. "Nggak apa-apa Mbak? Apanya yang kena? Aduh, gimana sih caranya tadi?"
Jujur jika itu bukan saat paling sakit sepanjang hidup (Yep, lebih sakit daripada cinta dan patah hati dalam diam (Cc Kurnia Hariani)) saya bakal balas teriak 'Keep Silence Please!' dan menyeret si Cpc jauh-jauh.
Sayangnya rasa sakit tidak mengijinkan hal itu. Jadilah saya dipapah Cpc menuju IGD. Boy, that was the longest trip I've made. Perjalanan yang biasanya kurang dari 10 menit molor menjadi 20 menit karena kaki yang terpincang-pincang. Pakai seragam putih coklat juga bikin malu untuk pinjam kursi roda (again, the joy of being perfectionist). Apalagi ketika dilihat perawat senior dan nggak ditanyain kenapa begitu. Apalah lagi ditawari bantuan. Hiks..
Sampai di IGD Cpc langsung sibuk melapor ke perawat jaga yang kemudian memeriksa kaki kiri saya. Seorang dokter kemudian datang dan berkata "Oh, ini terkilir saja. Tapi harus imobilisasi dan dipakaikan elastic bandage."
Kartu Asuransi dibawah nama orang tua saat itu tak banyak membantu. Karena ternyata tidak mengcover elastic bandage yang walaupun ukuran 5 cm x sekian meter sudah lumayan mahal menurut ukuran kantong mahasiswa pada umumnya. Apalagi jika sudah mendekati akhir minggu di minggu keempat.
Lagi-lagi hari itu (dan banyak hari kemudian) Cpc tampil menjadi dewi penyelamat. Setelah berkata "Berapapun harganya yang penting teman saya cepat ditolong. Saya bayar Pak" ia melangkah dengan gagah menuju pintu keluar. Ternyata dari dulu emang bakat jadi ibu pejabat 😄
Rupanya Cpc keluar mencari ATM. Menarik uang belanja terakhir demi membayar elastic bandage. Karena jaman itu saya hanya kenal uang tunai yang jumlahnya qadarullah hanya cukup untuk beli bensin untuk pulang. Di perjalanan entah dimana kunci motor Astrea yang legendaris itu jatuh. Untung motor masih bisa hidup.
Dibiarkan tetap hidup bahkan ketika Cpc harus masuk ATM dengan was-was. Akhirnya hampir 40 menit kemudian dia kembali ke IGD dengan wajah penuh keringat dan senyum manis. Elastic bandage pun terpasang manja di kaki kiri saya.
Beberapa hari setelah itu, dia dan si Crest Kartika Wendasari bergantian menjemput saya ke kos. Nggak mau terima kata nggak meskipun kaki sudah tidak bengkak. Ah, gue banyak ngerepotin ternyata.
Momen itu adalah satu dari sekian banyak momen yang insya Allah tidak akan saya lupakan. Momen yang menentukan mana sahabat sejati yang tak hanya ada saat kita tertawa, tapi juga saat menderita.
Cpc sendiri adalah singkatan dari Cewek Pengobral Cinta. Kami sematkan karena dia begitu mudah memuji dan bergombal ria pada orang lain, bahkan teman cowok. Mungkin bawaan nama yang ada kata Puji di dalamnya.
Dia pernah berkata "Kalau saya udah nikah berhenti sih saya Cpc Mbak." Yang kemudian kami nistakan dengan koor kompak "Nggak mungkin!"
Dan alhamdulillah, hari itu insya Allah tiba sebentar lagi. Barakallah Cpc, pangeran impian itu akhirnya datang. Yang akan mengalahkan mereka yang PHP. Apalagi yang bikin patah hati jutaan kali.
Semoga dimudahkan segalanya. Sakinah, mawaddah, wa rahmah sampai ke surga Allah. Lembo ade. Maafkan sahabatmu yang kali ini terpaksa durhaka. Tak bisa menghadiri hari bahagiamu.
Tetaplah jadi Cpc. Yang meskipun banyak orang bilang lebay tapi memang selebay itulah kebaikanmu. Yang alhamdulillah mengantarkanmu mendapat kebaikan-kebaikan lainnya.
Stay strong and lift your head. You're beautiful in your own way. We love you.
Fitria
A best friend
Comments
Post a Comment