Pernah ketemu sama 'pemimpin'? Apapun itu. Kelas, sekolah, organisasi, desa, daerah, pasukan. Menurut pengalaman pribadi, ada yang khas dari orang-orang ini. Entahlah mungkin itu namanya aura. Biasanya akan terbukti setelah interaksi berlanjut. Ooooh ternyata orang ini..
Jadi bayangin dong herannya hati ini ketika ketemu sosok junior yang katanya pemimpin di 'daerahnya' tetapi nggak punya 'aura' itu?
Setelah bertemu sekian kali masih juga belum percaya kalau dia itu beneran pemimpin. Bukan hanya karena ketiadaan 'aura', tapi gesturnya juga.
There's something off about it. But I can't pin point it.
Akibat kekepoan suatu sore, saya menemukan jawabannya. Ternyata ia sedang mengalami fase sulit. Kedua orang tuanya bercerai dan mengalami masalah lain. Keseriusan dampaknya bisa dilihat dari nilai akademik yang terjun ke titik nadir.
Lifeless.
That's what I saw in him. Kedua matanya sayu, bicara perlahan, senyum yang tak lepas, bahu yang turun, cenderung menyendiri. And the list go on. Sayangnya, saya baru sadar ketika kesempatan bertemu dengannya sudah tipis.
Kesemua itu merujuk pada ekspresi kekalahan dan kehilangan. Atas keadaan atau apapun. Hal inilah yang umumnya dialami anak-anak korban broken home.
Selang beberapa lama, ada dua kemungkinan. Mereka akan 'kembali' baik-baik saja atau malah terjatuh lebih dalam.
Namun jika tak ada intervensi yang baik dari orang sekitar, sebenarnya pada kedua kelompok ini tetap ada luka yang belum sembuh. Menganga, menunggu waktu apakah akan jadi bobok atau 'sembuh' meninggalkan luka parut.
Efeknya akan terlihat setelah lama. Lebih nyaman sendiri, meragukan kemampuan diri, sukar percaya pada orang lain, takut memulai hubungan. Bahkan tak jarang bisa mengubah orientasi seksual seseorang.
Karena itu, bijaklah menjadi orang tua. Perceraian biasanya bukan terjadi tiba-tiba. Tetapi diawali dengan proses ketikdakcocokan yang panjang.
Selama periode ini, anak disuguhi dengan percekcokan ayah ibu. Ketika sendiri, ibu menjelekkan ayah. Berdua dengan ayah, ia merendahkan ibu.
Bertengkarlah, tetapi jangan di depan anak.
Percayalah, tak ada yang lebih menyakitkan untuk seorang anak daripada melihat orang tua yang ia cintai saling menyakiti.
Comments
Post a Comment