Akhir tahun 2011, beberapa hari sebelum berangkat ke Bali saya berkeliling ke rumah 'orang tua yang lain'. Sejauh ini masih ada tiga pasang. Alhamdulillah..
Rumah terakhir yang saya kunjungi adalah rumah Inaq dan Amaq di Bendung. Saat akan berpamitan, Inaq menyelipkan beberapa lembar uang saat bersalaman. Sontak saya menolak, tetapi Inaq tak menerima kata tidak. Satu menit selanjutnya diwarnai saling pindahkan uang dari satu tangan ke tangan yang lain.
Sampai akhirnya saya yang mengalah. Meringiskan kalimat 'mengapa mesti repot-repot'. Uangnya bisa digunakan untuk keperluan yang lain. Sampai di gerbang kembaran saya menjelaskan "Memang seperti itu adatnya disini kalau seorang anak akan pergi jauh. Diterima saja. Sebagai tanda restu orang tua."
Hiks.. Hati ini berembun.
Banyak dari kita yang tak mau menerima uang pemberian orang tua, keluarga, ataupun orang yang telah merasa dibantu. Dengan alasan sudah ada. Sudah dewasa, sudah bekerja. Mending buat belanja adik-adik.
Tapi tahukah kita jika uang itu juga suatu bentuk perhatian? Seiring bertambahnya usia anak, semakin mapan dan dewasa, ada kalanya orang tua juga rindu memanjakan anak. Kembali ketika satu masa mereka hanya bisa meminta.
Apalagi jika dimasa lalu mereka merasa 'tak cukup bisa membahagiakan anak.' membahagiakan disini berkonotasi menurut kemauan anak. Atau mencukupi segala kebutuhan mereka seperti anak-anak orang lain karena kekurangan ekonomi. Maka mungkin, ketika dewasa inilah orang tua memiliki kesempatan 'menebus dosa' . Dan apakah kita akan meniadakan kesempatan itu hanya karena rasa tak enak? Terlebih lagi gengsi?
Lalu keluarga dan orang lain yang telah merasa dibantu. Banyak dari kita merasa itu akan mengotori keikhlasan. Karena saya hanya menolong dengan pamrih. Tapi maukah kita berpikir bahwa mungkin mereka merasa tidak akan bisa membalas pertolongan kita dan ingin berbuat baik dengan memberi? Apakah kita juga tidak akan menolong mereka untuk berbuat kebaikan?
Kecuali memang jika kita tahu sendiri orang-orang yang berpotensi menyebalkan 'kebaikannya' dengan mengatakan sudah mengupah kita sekian-sekian. Maka layaklah untuk ditolak secara halus.
Terakhir, kalaupun kita merasa tak layak menerimanya masih ada ratusan anak yatim atau kotak amal masjid yang butuh diberi sumbangan.
Maka, ambil saja uangnya. Senyum dan ucapkan terima kasih kasih. Lalu di jalan masukkan ke kotak amal atau genggaman anak yatim. Disana pahala itu berlipat. Menjadi sebab dan penyalur sedekah sekaligus.
Begitulah fitrah orang tua, yang selamanya akan memberi, dengan segala bentuknya. Butuh atau tidaknya seorang anak tak memengaruhi semua itu. Karena setua apapun kita nanti, di mata mereka kita tetaplah anak kecil dalam buaian.
Embung Raja
Paska dikasi duit sama Inaq
Comments
Post a Comment