Ketika mengantar Yani pulang dua minggu lalu, ada kesadaran yang tetiba hadir di tengah perjalanan.
Yani, baik fisik maupun umurnya, secara harfiah jauh lebih kecil dariku. Meskipun demikian, aku memberikannya kesempatan untuk menggantikanku membawa motor karena aku tak hafal jalan ke rumahnya.
Maka, dimulailah petualangan kami dan kekhawatiranku. Pada awalnya Yani sempat kagok untuk naik ke jalan raya karena aku berhenti di sisi jalan yang tak rata. Sisanya, mulus. Demikian juga dengan kekhawatiranku. Semula rasa khawatir terus menerus merayap di hatiku. Dengan badan yang mungil, Yani harus memboncengku dan Oga, sepupuku yang berusia 8 tahun. Beban yang tak ringan. Apakah Yani akan menyebut? Bagaimana jika Yani tak familiar dengan motorku dan terjadi masalah? Bagaimana jika terjadi sesuatu dan Yani tak bisa menyeimbangkan motor? Puluhan apa dan bagaimana berkecamuk di benakku. Tak sekali dua tanganku pun ikut 'membenarkan' cara mengemudi Yani dengan meletakkannya di pinggangnya. Padahal bisa dikatakan tak ada masalah.
Disinilah aku bisa melihatnya. Satu masalah dalam diriku dan mungkin juga banyak orang. Kesulitan untuk mempercayai orang lain. Terbiasa melakukan dan menyelesaikan segalanya sendiri, tiba-tiba harus memberikan hak itu pada orang lain. Mungkin tak seluruhnya, tetapi paling tidak dalam beberapa hal. Atau paling tidak mengajak mereka berdiskusi untuk menyelesaikannya.
Dengan melihat kenyataan yang ada (pengetahuan dan kemampuan orang tersebut) mungkin kepercayaan akan tumbuh dengan sendirinya. Tetapi bagaimana dengan masalah kedua, membiarkan seseorang masuk di kehidupan kita. Bukan untuk sehari dua, tetapi untuk seterusnya. Tak hanya dalam soal mengambil keputusan, dalam hal sesederhana mau makan apa hari inipun ia akan terlibat. Tak hanya akan menyaksikan keadaan terbaikku, tetapi juga yang terburuk. Saat-saat vulnerable. Siapkah aku?
Tak pelak, kedua hal ini seperti menamparku. Belakangan terpikir masalah pernikahan, tetapi tak terpikir hal ini. Semua akan mengalir secara alami. Jika orang lain bisa, mengapa aku tidak?
Tetapi aku tak bisa bohong pada diriku sendiri. Pada hal-hal kecilpun, aku seringkali butuh perenungan panjang untuk memahami esensinya. Apalagi hal besar seperti kepercayaan. Satu prinsipku, selesaikan dulu masalah dengan diriku sendiri, baru aku akan bisa berpikir jernih tentang masalah bersama orang lain.
Siap tidak siap, sebuah kesadaran adalah sebuah awal. Setidaknya, aku telah memulai. Tinggal berdoa dan mengusahakan hal lainnya. Satu hal, aku memiliki satu filter lagi untuk menilai.
Apakah aku bisa mempercayakan hidupku, dunia akhiratku padanya?
Comments
Post a Comment