Haha..
Tenang, ini bukan review sinetron Ind**iar. Meskipun judulnya bak copy paste 😅
Adalah kemarin siang, pemahaman saya sedikit bertambah akan ayat 'Tidaklah Allah membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.'
Tanggal 30 Agustus 2018 adalah jadwal kepulangan ayahanda kami dari Tanah Haram. Seperti layaknya keluarga di Pulau Lombok, beramai-ramailah kami menjemputnya ke asrama haji. Tak terkecuali saya.
Well, sebenarnya saya diminta ikut dengan dalih 'Kakeknya pasti senang lihat Fayyadh.'
Jika boleh memilih, saya tentu lebih sreg di rumah. Bukannya apa-apa. Fayyadh jika sudah menangis biasanya butuh waktu agak lama untuk tenang (iya, rewel maksudnya 😬). Sementara disana pasti panas, banyak orang, ribut pinggir jalan, dan seabreg alasan lain yang berpotensi membuat Fayyadh tak nyaman. Sementara tangisnya Masya Allah.
Sesesibuk pernah nongolin muka di halaman dan bertanya dengan polosnya "Diapain anaknya Mbak? Kok nangisnya gitu banget?" Saya paham kalimat yang tak terkatakan di ujungnya. Tangis Fayyadh seperti bayi yang dicubit nenek sihir 😂
Tapi bismillah, yang akan terjadi biarlah terjadi. Kami berangkat sebelum Subuh. Yang berarti Fayyadh nggak mandi karena selain dingin, membangunkan 'macan' tidur resikonya lebih tinggi daripada sekedar bau badan 😷
Setengah perjalanan, kami sholat Subuh di masjid pinggir jalan. Lalu tangis pertamanya pecah. Dan Alhamdulillah berhasil diredam setelah nenen dan tidur lagi.
Rupanya Fayyadh suka naik mobil. Karena ketika mobilnya berhenti karena sesepaman ngebet BAK, dia nangis lagi. Tak berapa lama ketika perjalanan berlanjut, tangisnya berhenti 😁
Asrama Haji NTB terletak di Jl. Lingkar Selatan, masuk Kecamatan Sekarbela. Kami sampai disana sekitar jam 6 dan antrian mobil sudah mengular di kiri kanan jalan sejauh hampir setengah kilo. Usut punya usut, ada yg berangkat dari jam 12 malam 😱
Acara selanjutnya adalah sarapan bersama. Sejauh ini Fayyadh masih anteng. Tidur di buaian. Menjelang setengah 8 satu persatu personil ingin buang air. Tetangga yang juga ikut menjemput menyarankan kami ke sekolah di sebelah asrama, toiletnya bersih dan bangunan permanen.
Tapi entah mengapa nenek Fayyadh lebih sreg dengan toilet di seberang jalan (saran dari ibu-ibu di sebelah kami). Yang ternyata adalah toilet darurat yang disekat dengan karung 😂
Dan hikmahnya datang secepat kilat. Karena ternyata selain toilet darurat, disana juga ada bangunan dari bambu dan terpal yang digunakan untuk sholat. Juga untuk nongkrong. Akhirnya, saya membawa Fayyadh masuk untuk nenen.
Selesai nenen, Fayyadh mulai rewel karena ngantuk. Okay no problem, ada ruang untuk dieksplor sekitar sini. Beberapa orang ibu memandang heran. Ada emak-emak bergamis nyapu tanah asyik mengajak bayi 'sekecil itu' menyusuri pematang sawah padahal matahari mulai meninggi. It's okay, kabar baik untuk tulangmu Nak.
Tak berapa lama ia tertidur. Lalu saya bawa kembali ke dalam 'musholla'. Ternyata sudah banyak warga lain yang juga memilih berteduh atau sekedar ngopi disana. Tak apa, kalau bayi udah tidur mah, suara apa aja lewat 😅
Rupanya, ketenangan saya tak berlangsung lama. Karena muncul panggilan dari kakak sepupuku yang meminta kami balik ke mobil. Rombongan haji sudah naik bis dari bandara dan diperkirakan akan sampai tiga puluh menit kemudian.
Jujur saya dilema. Karena di mobil yang parkir di pinggir jalan tentu akan panas, apalagi memasang AC bukan pilihan. Akhirnya dengan beberapa pertimbangan saya menurut. Di jalan kami bertemu banyak keluarga lain yang mencegah, tapi saya sudah kadung bilang iya.
Akhirnya kami menyeberang dan kembali ke mobil. Dan sesuai perkiraan, cuacanya panas. Pulasnya Fayyadh tak membuat saya tenang 100%. Dia bisa saja bangun sewaktu-waktu. Di pinggir jalan yang panas, kemana saya harus mengalihkan perhatiannya? Dia suka jika diajak berkeliling.
Segera saya mencari kertas atau apa saja yang bisa dipakai mengipasi Fayyadh. Untungnya Tania, keponakan kecil itu membawa kipas kecil yang digerakkan tangan. Tak henti tangan ini bergerak. Yang penting si kecil tak rewel. Lalu yang saya takutkan terjadi. Fayyadh bangun. Dan segera saya susui. Habis itu mengganti baju dan diapernya. Tak saya pakaikan celana. Biarkan saja, selama belum aurat. Daripada keringatan.
Menunggu yang katanya sejam lagi ternyata molor jadi dua jam. Karena ada acara pelepasan segala macam. Indonesia, selalu penuh dengan seremonial dan aturan birokrasi. Padahal jamaah terlebih keluarga yang kepanasan menunggu diluar sudah tak sabar.
Namun alhamdullilah tsumma alhamdulillah, selama waktu itu tak sekalipun Fayyadh menangis. Walaupun dia nenen tidur nenen tidur. Tapi saya bersyukur sekali. Sampai kakeknya datang dan kami riuh rendah menyambut. Baru bangun dan menangis. Tapi tak lama. Setelah itu ia ceria diajak bicara.
Sisa perjalanan pulang alhamdullilah mulus. Sampai di rumah pun ia lanjut tidur dan tak rewel sampai esok pagi. Masya Allah. Hampir semua orang menanyakan apakah ia rewel atau tidak. Saya setengah sumringah setengah haru menjawab 'Tidak, alhamdullilah.'
Jadi Mak, begitulah. Anakmu bukan sepenuhnya anakmu. Karena ia adalah mahluk Allah. Maka minta apa saja dari tentang anak dari Penciptanya.
"Jangan takut nggak bisa merawat anak. Apalagi jika anak banyak. Kalau kita sudah berusaha yang terbaik, serahkan sama Allah. Nanti Allah yang atur anaknya. Tau-tau mereka tumbuh sehat. Tau-tau nurut. Tau-tau rajin sholat. Pasti ada naik turunnya. Dinikmati dan disyukuri saja." Itu petuah Bu Maya, bidan senior di klinik kami yang coba saya yakini.
Makan sering sekali saya pribadi dikejutkan dengan perilaku Fayyadh. Seperti saat menyusui tapi waktu shalat sudah masuk, ia akan melepas sendiri nenennya ketika saya minta dan mau digendong orang lain. Meskipun nanti ujung-ujungnya nangis lagi 😅
Tidak mungkin Allah menganugerahi seorang anak jika tak memberikan kita kemampuan untuk mengasuhnya dengan pengasuhan terbaik. Percaya pada Allah dan percaya pada diri sendiri. Insya Allah kita mampu.
Jadi apa ujung catatan ini? Mbuhlah. Saya sedang ingin menulis (kembali). Mengingatkan diri untuk 'keep waras'. Anak pertama tak dipungkiri memang kebanyakan 'trial and error'. Jadi pribadi perfeksionis dan baperan sungguh tak akan membantu. Sedikit salah disana sini adalah wajar dan bukan berarti kita ibu yang buruk.
Buktinya, liat saja si kecil. Bukankah saban pagi dia bangun dengan ceria dan tersenyum pada kita? Dan ya, apalagi pipi gembul itu. Mom, you did it! With your best, insya Allah.
Perjalanan masih panjang, dan menambah beban dengan emosi negatif adalah kerugian berlipat-lipat. Lebih baik terus belajar dan tetap bahagia. Langkah pertama bisa dimulai dengan mencintai diri sendiri.
Bukan untuk narsis, karena narsis itu penyakit. Cinta yang sewajarnya, karena seorang ibu sangat membutuhkannya.
Karena bagaimana ia akan mencintai anak-anaknya, jika ia tak mencintai diri sendiri. Ibarat sebuah teko, bagaimana akan menuang ke dalam gelas jika isinya kosong? (IG Ibupedia).
Fitria
A new mom
Comments
Post a Comment