Belanja di toko gede cuman beli minuman kopi.
"Pak, saya boleh bayar pakai uang logam kan?"
"Oh ya silakan, bagus malah."
Lalu saya jejerin di depan kasir uang logam seribu dua biji dan tujuh uang logam lima ratusan.
Mas-mas di samping dan belakang saya senyam-senyum. Biasa aja Mas, saya memang semempesona itu.
Hoek! Mas-masnya mendadak hiperemesis.
Jujur, saya masih nggak ngerti kenapa mesti disenyumin kalo belanja pake receh apalagi di toko gede. Padahal mereka butuh buat kembalian. Daripada ngasi permen terus pembeli nggak ikhlas?
Tapi memang uang receh memiliki kasta rendah di dunia peruangan. Apalagi jika disandingkan dengan yang merah-merah.
Pernah menemukan kenyataan menyakitkan tentang recehan 200 perak.
Ceritanya mau beli coklat di warung sebelah rumah. Udah semangat ngumpulin recehan di dompet (gaya, padahal tinggal itu doang isinya). Ternyata pas bayar adiknya dengan senyum penuh makna berkata,
"Maaf Kak Pit, disini recehan 200 udah nggak berlaku lagi. Udah dari lama. Kak Pit bisa tanya sama toko sebelah."
Hiks.. Coklat terbang malupun datang.
Comments
Post a Comment