Skip to main content

Dalam Kenangan

Kamu biasa denganku
Kamu biasa ada aku
Namun hidup jangan berhenti hanya bola aku pergi

Setelah filmnya dingin di bioskop, aku baru tahu kalau soundtracknya dinyanyikan Krisdayanti dan inilah lirik lengkapnya.

Aku belum bisa memposisikan diri sebagai yang bernyanyi. I don't believe that I'm that important to anyone except my family. Namun sebagai yang dinyanyikan,  maybe I can relate.

But as I sadly believe, no ordinary person who cannot be replaced. Sometimes by a better person.

Aku mungkin belum menemukan tempat dan orang-orang sebaik Bali disini. Tapi aku telah terbiasa menjalaninya. Still baper here and there, but I can manage.

Allahummarzuqna rizqon halallan toyyiban wa mubarokan. Rabbi anzilni munzalammubarokan wa antara khoirul munzilin.

Ah, bahkan doa indah itu ku dapat disana. Hadiah indah dari anak-anak Mandala. Doa yang tak abai ku panjatkan tiap waktu shalat. Lebih sering lagi ku dengungkan tiap bekerja dan akan melamar pekerjaan.

Sejauh ini, aku tak pernah begitu kecewa karenanya.

Kembali pada lagu, saat menyaksikan acara Usmar Ismail Award aku tahu mengapa aku menjauh dari hiruk pikuk musik dan perfilman segala macam.

It will hard, nearly impossible to move on as fast as Allah allow me.

Many things happened last year. And too many heartaches to remember. But I thank Allah for that.

Aku jadi lebih mengenal diriku sendiri. Terutama sisi buruknya. Dan mengakuinya. Mengubahnya tentu butuh waktu. Tapi aku terus berusaha. Meskipun gagal dan gagal lagi, aku tak akan menyerah.

Terbiasa atas kehadiran seseorang, lalu tak melihatnya lagi. Pasti menyedihkan. Namun tak akan ku biarkan itu terjadi padaku. Tidak untuk seseorang selain yang halal ku cintai.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...