Skip to main content

Dupa 07/08: Antara Pencitraan dan Kenyataan

Kering kerontang, tidak rapi, dan kurang bersih.

Ketiganya adalah kesan pertama ketika menginjakkan kaki di SMA 1 Terara pada awal semester 2 tahun ajaran 2005/2006.

Maklum sindrom mendadak kota. Padahal sebelumnya SMP di tetangga sebelah. Tetapi saya memutuskan bersekolah di SMA 1 Narmada dengan alasan 'ingin suasana baru'.

Tetapi takdir berkata lain. SMA yang dihindari justru menarik kembali. Tetapi karena terbiasa melihat SMA 1 Narmada yang begitu asri, bersih, dan rapi (sekolah ini masuk 5 besar sekolah terbersih di Indonesia). Jadi wajar jika saya mengalami cultural shock melihat kondisi SMA 1 Terara yang saya sebut di awal.

Namun benarlah pepatah Jawa itu, waiting tresna jalan saka kulina. Cinta datang karena terbiasa. Sekolah yang tadinya saya cela berubah menjadi yang tercinta.

Well, meskipun penampakannya tak banyak berubah itu tak lagi menjadi masalah. Karena isi di dalamnya itulah yang membuat indah.

Di sekolah ini, saya mendapat guru-guru hebat, ilmu yang bermanfaat, persaudaraan yang kuat, dan sahabat-sahabat dahsyat.

Bagian kosong karena bertahun-tahun menjadi anak tunggal terisi disini. Oleh njelimet dan dramanya memiliki saudara perempuan sampai jahil dan overprotective-nya saudara laki-laki. Hal ini saya rasakan terutama dengan The Partners in Crime. XI dan XII IPA 2006-2008.

Diluaran, teman-teman dan adik kelas seringkali memuji isi kelas ini.

"Wah, rajin-rajin banget belajarnya.."
"Anak cowok IPA kalem-kalem ya. Di kelas terus. Mana ada yang jalan-jalan ke kelas lain nyari cewek."
"Cantik-cantik dan ganteng-ganteng yaa.. "
" Biasa anak kesayangan guru.. "

Kenyataan:
-Keliatan belajar padahal nyalin PR teman
-Terlalu cement buat deketin cewek, bisanya memendam perasaan sama teman kelas
-Terimakasih, meskipun mungkin yang bersangkutan perlu pakai kacamata
-Apah
Benar katanya, seringkali ikatan ukhuwah itu jauh lebih kental daripada ikatan darah.

Comments

Popular posts from this blog

Anggun: Ibu

Aku suka dangdut? Ngggg.. kayaknya nggak hard to believe banget. Apalagi karena aku juga suka lagu-lagu India. Lagu yang ku suka variatif, nggak terbatas di genre tertentu atau satu penyanyi. Yg penting ngena di hati. Dan malam ini, entahlah aku mesti senang atau sedih. Aku hampir menangis menyaksikan penampilan finalis DA3 dari Bima, Anggun. Mungkin karena mengetahui kisahnya sebagai TKI dan hanya pernah bertemu beberapa kali dengan anaknya. Mungkin karena di dekatku ada ibuq, dan membayangkan lagu itu adalah ungkapan hati ibuq dan ibu-ibu lainnya di seluruh dunia. Ditambah lagi aku belum bisa berbuat banyak untuknya. Atau mungkin, sekali lagi mungkin. Ini yang dikatakan: apa yang dilakukan dengan hati, akan sampai ke hati. Apalagi ketika baitnya sampai pada 'Kau adalah simbol kesempurnaan dariku yang tak sempurna'. Tuhan, sampai disini aku merinding. Betapa besar anugerah dan kenikmatan menjadi seorang ibu. Sesuatu yang kerapkali ku impikan. Tapi aku sadar, mungkin Allah ...

The Reflex

Siang ini di atas motor.. Tikungan agak tajam ke kanan tampak 50 meter di depanku. Tangan kiri sedia memegang rem. Tangan kanan yang sedari tadi konsen menarik gas mengendur dan berganti menarik rem. Lalu membawa stang motor sedikit membelok ke arah kanan. Tikungan terlewati dengan mulus. Semua dilakukan dengan spontan. Like they said, if you do something for years, you get pretty good at it. Or in my case, used to it. Because I'm not sure I'm a good or lousy rider. Sometimes it feels like the first but not rarely I feel the second. Aku melakukannya sebelum memikirkannya. Semua diatur otak di alam bawah sadar. Lalu ketika mobil dari arah berlawanan menyalip dan melewati kami dengan terpaut jarak sekian puluh senti saja, jantungku langsung seperti ingin meloncat dari rongganya. Bahkan jantungku bukan milikku sendiri. Ia bekerja mengikuti ritme tubuh. Sesuai dengan kebutuhan. Aku tak bisa mendiktenya untuk berdetak 85 kali saja. Ia memiliki mekanisme tersendiri. Pun paru-paru...

Malin Kundang

"Dimana itu Nak?" Pertanyaan protokoler akhirnya keluar di ujung sana. I almost roll my eyes if it wasn't for the answer itself. What was this place called again? My brain went blank. In panic state I running in storange room names my brain, rummaging for some memory. Nope, nada. Fortunately, there's last source of knowledge standing there. I turn to her and ask. "Dimana namanya ini lenga?" My, my. The look on her face is priceless. Just like I ask her where is my keys when its dangling in my bag. I I can't help but broke into laugh. "Ya Allah lenga beneran side lupa?! Karang Sukun." Cue for the stern-looking-mom-expression. It was so understatement. I was lived in that area for almost one year yet it's name easily slipped from my mind. I was never intended to comeback to my old landlord yet Cg's landlord came 500 kilometers across sea to attend her wedding. Yep, I can totally see the picture here. Not only that time Cg must huffing ...