Kering kerontang, tidak rapi, dan kurang bersih.
Ketiganya adalah kesan pertama ketika menginjakkan kaki di SMA 1 Terara pada awal semester 2 tahun ajaran 2005/2006.
Maklum sindrom mendadak kota. Padahal sebelumnya SMP di tetangga sebelah. Tetapi saya memutuskan bersekolah di SMA 1 Narmada dengan alasan 'ingin suasana baru'.
Tetapi takdir berkata lain. SMA yang dihindari justru menarik kembali. Tetapi karena terbiasa melihat SMA 1 Narmada yang begitu asri, bersih, dan rapi (sekolah ini masuk 5 besar sekolah terbersih di Indonesia). Jadi wajar jika saya mengalami cultural shock melihat kondisi SMA 1 Terara yang saya sebut di awal.
Namun benarlah pepatah Jawa itu, waiting tresna jalan saka kulina. Cinta datang karena terbiasa. Sekolah yang tadinya saya cela berubah menjadi yang tercinta.
Well, meskipun penampakannya tak banyak berubah itu tak lagi menjadi masalah. Karena isi di dalamnya itulah yang membuat indah.
Di sekolah ini, saya mendapat guru-guru hebat, ilmu yang bermanfaat, persaudaraan yang kuat, dan sahabat-sahabat dahsyat.
Bagian kosong karena bertahun-tahun menjadi anak tunggal terisi disini. Oleh njelimet dan dramanya memiliki saudara perempuan sampai jahil dan overprotective-nya saudara laki-laki. Hal ini saya rasakan terutama dengan The Partners in Crime. XI dan XII IPA 2006-2008.
Diluaran, teman-teman dan adik kelas seringkali memuji isi kelas ini.
"Wah, rajin-rajin banget belajarnya.."
"Anak cowok IPA kalem-kalem ya. Di kelas terus. Mana ada yang jalan-jalan ke kelas lain nyari cewek."
"Cantik-cantik dan ganteng-ganteng yaa.. "
" Biasa anak kesayangan guru.. "
Kenyataan:
-Keliatan belajar padahal nyalin PR teman
-Terlalu cement buat deketin cewek, bisanya memendam perasaan sama teman kelas
-Terimakasih, meskipun mungkin yang bersangkutan perlu pakai kacamata
-Apah
Benar katanya, seringkali ikatan ukhuwah itu jauh lebih kental daripada ikatan darah.
Comments
Post a Comment